Bea Cukai NTB Perketat Pengawasan Barang Impor

Editor: Koko Triarko

177
Kepala Sesi Perbendaharaan dan Pelaksana Harian Bea Cukai Mataram, I Wayan Tapamuka. –Foto: Turmuzi

MATARAM – Selain produk makanan dan obat – obatan, penyeludupan barang – barang ilegal juga marak terjadi dan masuk wilayah NTB melalui pintu masuk yang ada, terutama melalui jalur pelabuhan.

Barang ilegal paling banyak diselundupkan ke Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah pakaian bekas, melalui jalur laut dengan menggunakan kapal. Pakaian bekas impor paling banyak diseludupkan masuk NTB, dengan berbagai modus. Karena itu, guna mencegah semakin banyak produk ilegal masuk NTB, pengawasan di setiap pintu masuk NTB akan diperketat”, kata Kepala Sesi Perbendaharaan dan Pelaksana Harian Bea Cukai Mataram, I Wayan Tapamuka, Jum’at (23/3/2018).

Untuk memaksimalkan pengawasan, selain dari Bea Cukai, pengawasan juga akan dilakukan dengan melibatkan kepolisian dan aparat penegak hukum lain, terutama di pintu kedatangan, baik melalui jalur laut maupun darat.

Dikatakan, sejak 2009 pakaian bekas impor sudah dinyatakan sebagai barang ilegal dan dilarang masuk ke Indonesia. Meski demikian, selalu ada celah dimanfaatkan para pelaku menyelundupkan barang ilegal seperti pakaian bekas.

“Meski demikian, penyelundupan pakain bekas buatan luar negeri tidak bisa sepenuhnya bisa terbendung, karena tingginya permintaan domestik”, katanya.

Ia mencontohkan, setiap kali melakukan pemeriksaan, para pelaku pengakuannya barang yang dibawa masuk NTB datang dari Indonesia, bukan dari luar negeri  dan kami terkadang mengalami kesulitan membuktikan  itu.

Dikatakan, selama ini bea cukai telah beberapa kali melakukan pemeriksaan terhadap pakaian bekas yang masuk ke NTB, namun setiap ada kapal yang datang yang ditanyakan barangnya dari mana, dibilang barang itu dari Sulawesi, Kalimantam atau  lainnya di wilayah Indonesia .

“Ya, mungkin itu modusnya dari sana, terus dilanjutkan ke sini (NTB). Kami tidak bisa bertindak di sini , dengan mengatakan bahwa itu impor dari luar negeri, karena mereka juga menyertakan kwitansi dari Indonesia. Itu kelemahan kami,” tuturnya.

Koordinasi dengan aparat terkait untuk penanganan terus dilakukan, untuk pengawasan masuknya pakaian bekas, terutama Pulau Sumbawa, sebagai tempat masuknya pakaian bekas terbanyak.

Impor barang bekas dalam aturannya memang tidak diperbolehkan, tapi mereka punya modus masuk dulu ketempat lain dimana yang dia bisa masuki setelah itu baru dioper ke indoneaia dengan transaksi yang  di dalam negeri.

Selain pakaian bekas, pengiriman handphone luar negeri juga aturàn kementerian  perdagangan, seseorang atau penumpang hanya boleh membawa dua unit.

Tapi, dalam praktiknya, banyak ditemukan pelanggaran, paling banyak didominasi TKI dan setiap hari hampir selalu ada, antara dua sampai tiga kasus pelanggaran, dengan alasan barang titipan.

“Terhadap kasus seperti itu, Bea Cukai biasanya memberikan pilihan, HP dikirim kembali pada yang menitip di luar negeri atau disita,  kalau dalam waktu batas tertentu tidak juga diurus, maka akan jadi milik negara dan dimusnahkan”, terangnya.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.