Begini Kondisi Anak-anak Bandar Agung di Lokasi Banjir

Editor: Satmoko

381

LAMPUNG – Memasuki hari ke delapan banjir luapan Sungai Way Sekampung warga beberapa dusun di Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi mulai mengungsi di tanggul penangkis dan masjid.

Anak-anak usia sekolah di dua dusun tersebut pada Minggu (11/3) terlihat memanfaatkan waktu libur sekolah untuk bermain air. Sebagian anak-anak yang biasanya bisa makan di rumah saat kondisi normal bahkan harus makan di lokasi pengungsian yang dibangun oleh orang tuanya dengan tenda terpal.

Andi (10) salah satu siswa MI Guppi 05 Bandar Agung yang ikut mengungsi di tanggul penangkis mengaku, sudah dua hari ia dan keluarganya mengungsi di tanggul penangkis.

Ia bahkan harus rela makan di area rerumputan di dekat ternak kambing yang ikut diungsikan sementara pada tanggul penangkis. Sebelumnya ia mengaku tidur di rumah yang tergenang air dari ketinggian air mencapai 30 cm hingga sepekan banjir sudah mencapai 60 cm.

Hari libur anak-anak korban luapan Sungai Way Sekampung di Dusun Bunut Utara Desa Bandar Agung membantu orang tua di dapur sekaligus pengungsian pada teras Masjid Mabaul Huda [Foto: Henk Widi]
“Kami mengungsi bersama orang tua ke lokasi yang aman dan membawa barang-barang keperluan sekolah karena besok tetap harus bersekolah seperti biasa,” terang Andi, salah satu anak yang ikut mengungsi di tanggul penangkis akibat luapan Sungai Way Sekampung saat ditemui Cendana News, Minggu (11/3/2018).

Selain Andi dan puluhan anak lain yang mengungsi di tanggul penangkis Dusun Umbul Besar, anak yang berada di Dusun Bunut Utara yang rumah orang tuanya terendam banjir juga ikut mengungsi.

Salah satu lokasi pengungsian berada di masjid Mabaul Huda yang berada di lokasi lebih tinggi dibanding permukiman warga. Sebagian anak yang enggan bermain di luar akibat banjir bahkan memilih tetap tinggal di teras dan dalam masjid.

Tinggal bersama dengan anak-anak lain saat libur dalam kepungan banjir, diakui Putri (14) siswa salah satu SMPN di Sragi, membuatnya terpaksa tidur bersama teman lain yang mengungsi.

Anak anak usia SD hingga SMP yang laki-laki tidur di sebelah timur bagian dalam masjid dan anak-anak wanita tidur menggunakan tikar di sebelah barat bagian masjid Mabaul Huda. Meski berdesak-desakan sekitar belasan anak Putri menyebut kondisi tersebut kerap dialami saat banjir melanda wilayah tersebut.

Kapolsek Sragi, AKP Henur Muhamad dan Camat Sragi, Bibit Purwanto menyapa warga yang akan mengungsi ke tanggul penangkis [Foto: Henk Widi]
“Kami justru bisa merasakan tinggal di pengungsian agar bisa prihatin saat ada musibah sekaligus bisa saling berbagi tugas khususnya bagi anak-anak wanita,” beber Putri.

Tinggal di masjid selama hampir tiga hari diakui Putri membuat anak-anak yang berada di pengungsian ikut membantu orang tua memasak, mencuci baju dan mengurus berbagai keperluan selama di pengungsian.

Beberapa anak wanita berbagi tugas membersihkan bagian dalam masjid setelah malam digunakan sebagai lokasi bermalam sementara. Keprihatinan saat tertimpa musibah banjir sekaligus menumbuhkan rasa solidaritas anak-anak dan warga terimbas banjir.

Sebagian anak laki-laki salah satunya Budi (13) yang selesai membantu orangtua dan makan di lokasi pengungsian sebagian memanfaatkan waktu dengan bermain air. Lokasi permukiman warga yang terendam air dipergunakan anak-anak untuk mencari ikan dengan memanfaatkan jaring. Beberapa ikan yang diperoleh diantaranya ikan mas, mujahir, bandeng dikumpulkan untuk dipergunakan sebagai lauk makan siang.

“Selain bermain kami juga mencari ikan, nanti anak-anak wanita yang membersihkan dan memasak untuk lauk makan siang,” beber Budi.

Meski dilarang oleh orang tua agar tidak terlalu lama bermain di air, anak-anak yang bermain di lokasi genangan banjir menjadi hal biasa. Sebagian orangtua bahkan khawatir anak-anaknya terserang penyakit gatal-gatal sembari menunggu ada posko kesehatan selama banjir masih berlangsung.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Cendana News, ketinggian air di sejumlah rumah warga di Dusun Umbul Besar dan Bunut Utara membuat warga tak lagi bertahan di rumah dan mulai mengungsi.

Camat Kecamatan Sragi, Bibit Purwanto menyebut, berdasarkan data sudah ada sebanyak 86 kepala keluarga dan 77 rumah terimbas banjir luapan Sungai Way Sekampung di Dusun Umbul Besar.

Di Dusun Umbul Besar, banjir merendam 40 kepala keluarga dengan 37 rumah di RT 02, 36 kepala keluarga dengan sebanyak 32 rumah di RT 03, 10 kepala keluarga dengan 8 rumah di RT 04 sehingga total terdampak banjir berjumlah 77 rumah dengan sebanyak 86 kepala keluarga.

Dusun Pusingan Desa Kuala Jaya menjadi lokasi terparah banjir dengan sekitar 8 rumah sudah terendam banjir setinggi dua meter [Foto: Henk Widi]
Sementara di Dusun Bunut Utara sebanyak 9 kepala keluarga dengan 9 rumah yang sudah mengungsi di antaranya keluarga Firdaus, Suraji, Madya, Yusuf, Umum Subandi, Sukandar, Lakon, Husin dan Ipul.

Selain di Dusun Umbul Besar, Bunut Utara Desa Bandar Agung, luapan Sungai Way Sekampung masih merendam permukiman warga di Dusun Pusingan Desa Kuala Sekampung.

Beberapa warga yang terimbas banjir di wilayah tersebut di antaranya Taher bersama dengan 9 kepala keluarga dan 8 rumah yang ada di wilayah tersebut masih terimbas banjir.

Baca Juga
Lihat juga...