Beras Berikan Andil, Balikpapan Inflasi 0,11 Persen

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

BALIKPAPAN — Pada bulan Februari 2018, kelompok Volatile Foods memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,07 persen (mtm) dengan sumbangan terbesar berasal dari komoditas beras. Februari tercatat angka inflasi kota Balikpapan sebesar 0,11 persen atau lebih rendah dari nasional 0,17 persen dan Kaltim 0,23 persen.

Angka inflasi pada Februari 2018 lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,19 persen (mtm). Penurunan pada Februari disebabkan oleh berlanjutnya penurunan harga pada kelompok inflasi Administered Price yang menyumbang deflasi sebesar -0,15 persen (mtm) terutama dampak koreksi harga tarif angkutan udara dengan -0,19 persen.

“Februari lebih rendah dari pada bulan sebelumnya. penurunan harga pada kelompok inflasi Administered Price yang menyumbang deflasi sebesar -0,15 persen (mtm) terutama dampak koreksi harga tarif angkutan udara dengan -0,19 persen meskipun tertahan dengan kenaikan harga bensin yang memberikan andil 0,02 persen (mtm),” tutur Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Suharman Tabrani, Kamis (1/3/2018).

Sumbangan inflasi pada bulan Februari ini tidak hanya dari komoditas beras, kacang panjang dan tomat sayur, menurutnya juga ada kelompok inti yang memberikan andil inflasi sebesar 0,20 persen (mtm) yang didorong oleh kenaikan tarif tukang bukan mandor dengan sumbangan sebesar 0,10 persen.

“Kelompok inti juga berikan andil inflasi sebesar 0,20 persen. Tapi secara tahunan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) kota Balikpapan tercatat sebesar 1,93 persen (yoy) atau lebih rendah dari nasional sebesar 3,18 persen (yoy),” beber Suharman.

Dia juga memperkirakan pada beberapa bulan kedepan terdapat beberapa faktor yang masih memberikan tekanan inflasi. Di antaranya potensi ketidaklancaran distribusi dari daerah sentra produksi bahan makanan karena faktor cuaca, kenaikan harga tiket pesawat jelang libur nasional.

“Beberapa faktor lainnya, yaitu kenaikan harga bahan bakar rumah tangga dan bahan bakar non penugasan, serta kenaikan barang-barang konsumsi menjelang masa kampanye hingga masa pilkada berlangsung,” pungkasnya.

Hal yang sama juga dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik kota Balikpapan, Nur Wahid.

“Beberapa faktor yang juga memberikan tekanan inflasi ke depan bahan makanan karena faktor cuaca tapi hal ini sudah dapat ditekan oleh pemerintah melalui stok sebelumnya. Kontruksi juga pada bulan berikutnya bisa menyumbang inflasi,” tambahnya.

Sementara itu, di Region Kalimantan inflasi Kota Balikpapan menempati urutan keempat dari sembilan kota Inflasi yang ada. Inflasi tertinggi adalah di Kota Samarinda sebesar 0,31 persen, diikuti oleh Pontianak sebesar 0,26 persen, dan kota Sampit sebesar 0,14 persen. Sedangkan Banjarmasin dan kota Tanjung justru mengalami deflasi.

Lihat juga...