BPS: Dua Komoditas ini Tekan Laju Inflasi di Sumatera Barat

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

252
Kepala Badan Pusat Statistik Sumatera Barat Sukardi/Foto: M. Noli Hendra

PADANG — Dua komoditas yakni beras dan bawang merah yang dipasarkan di Kota Padang dan Kota Bukittinggi yang mengalami penurunan harga, ternyata mampu menekan laju inflasi di Sumatera Barat.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Sumbar Sukardi, apabila dua komoditas itu, tidak mengalami penurunan, maka inflasi di Sumatera Barat terbilang cukup buruk, sebab pada Februari 2018 kemarin ini, telah terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti pertalite dan pertamax.

“Penurunan harga beras dan bawang merah menjadi peran untuk menahan laju inflasi di Sumatera Barat. Kini dua kota itu mengalami deflasi,” jelasnya, Kamis (1/3/2018).

Seperti untuk Kota Padang mengalami deflasi 0,09 persen pada Februari 2018 lalu. Sementara Kota Bukittinggi juga mengalami hal yang sama, yakni dengan angka deflasi 0,22 persen.

Sukardi menyebutkan, secara tahun kalender, tingkat inflasi Kota Padang dan Bukittinggi hingga Februari 2018 masing-masing adalah 0,34 persen dan 0,52 persen. Sementara laju inflasi tahun ke tahun, capaian untuk Kota Padang dan Bukittinggi adalah 2,01 persen dan 2,13 persen.

Ia menjelaskan, penurunan harga beras yang menjadi penyumbang itu, memiliki persentase penurunan harga tertinggi yang berada di Kota Padang dengan angka -1,97 persen.

Lalu, penurunan harga beras juga menyumbang angka deflasi hingga -0,1 persen. Sementara penyumbang deflasi lainnya adalah tarif angkutan udara, daging dan telur ayam ras, hingga gula pasir.

Kondisi yang terjadi di Kota Padang, juga hampir sama terjadi di Kota Bukittinggi, dengan komoditas penyumbang deflasi tertinggi adalah bawang merah.

“Bawang merah mengalami penurunan harga hingga -14,70 persen dan menyumbang -0,13 persen terhadap perhitungan deflasi,” jelasnya.

Untuk itu, pada komoditas lainnya yang menyumbang deflasi di Bukittinggi adalah daging ayam ras, cabai merah, hingga jeruk nipis. Di sisi komoditas penyumbang inflasi, kenaikan harga BBM sama-sama bertengger di posisi atas, baik di Padang dan Bukittinggi.

Di Padang, kenaikan harga BBM menyumbang laju inflasi ‘hanya’ 0,03 persen. Sedangkan di Kota Bukittinggi, sumbangan kepada inflasi ‘hanya’ 0,04 persen. Hal ini apabila dilihat pada tren sejak awal 2018 ini, inflasi terlihat rendah.

Bahkan sebelumnya, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyebutkan untuk menjaga inflasi tetap terjaga perlu dilakukannya pembarahuan data di lapangan, seperti kondisi harga dan kebutuhan di berbagai daerah di Sumatera Barat.

“Jika tidak diperbarui, maka yang akan dirugikan tentunya masyarakat. Pemerintah pasti disalahkan karena tidak bisa mengatasi inflasi tersebut,” ujarnya.

Ia menyebutkan, selama ini khusus di Sumatera Barat daerah yang menjadi acuan kondisi inflasi ialah Kota Padang dan Kota Bukittinggi. Mengingat kedua kota itu termasuk kota besar di Sumatera Barat, maka perlu persoalan perkembangan kondisi harga dan kebutuhan masyarakat terus diperbarui.

Sebut saja data yang sering dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat, pada tahun 2017 lalu. BPS merilis data secara umum sepanjang 2017, untuk komoditas-komoditas yang mengalami kenaikan harga adalah tarif listrik, tarif pulsa ponsel, tongkol, tarif bimbingan belajar, bensin, perhiasan, biaya sekolah, hingga tarif rokok kretek filter.

Sedangkan komoditas yang turun menyumbang deflasi, seperti cabai merah, beras, bawang putih, gula, cabai hijau.

Menurut Irwan, tidak dapat dipungkiri penyebab terjadinya inflasi didaerah yakni persoalan harga cabe merah, bawang merah, beras, pembayaran listrik, dan hal lainnya.

Khusus untuk cabe merah, seharusnya sudah bisa diatasi dengan jalan keluar membeli bibit serta polybag, kemudian dibagikan kepada masyarakat. Sehingga ketika harga cabai tinggi sudah menjadi solusi untuk masyarakat. Akan tetapi, hal itu tidak diikuti secara keseluruhan oleh masyarakat.

Irwan juga menyebutkan, saat ini upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi persoalan lonjakan harga cabai merah, pemerintah melakukan kerja sama dengan Badan Meteorlogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait cuaca.

Peran BMKG dalam hal tersebut, untuk mengetahui langkah-langkah penting lainnya, untuk memonitor masa tanam petani dan kondisi hal yang perlu diwaspadai oleh para nelayan untuk menangkap ikan di laut.

“Dari sinilah yang bisa kita lakukan agar hal-hal yang kemungkinan terjadi persoalan komoditas itu, bisa diatasi. Karena cuaca juga mempengaruhui harga komoditas di pasar,” sebutnya.

Baca Juga
Lihat juga...