Buleleng Gelar Parade Budaya Megoak-Goakan

281
Ilustrasi - Tari tradisional Buleleng, Bali - Foto: Dok CDN

SINGARAJA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng, Bali menggelar parade budaya Megoak-goakan. Acara dikemas dalam pawai budaya atau karnaval dengan mengangkat ciri khas seni budaya lokal.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Drs I Putu Tastra Wijaya, MM mengatakan, peserta karnaval berasal dari perwakilan kecamatan yang ada di kabupaten tersebut, “Parade Budaya tahun 2018 diikuti sembilan Kecamatan di Kabupaten Buleleng yang mengusung tema ‘GOAK’ yang artinya Gereget, Orisinil, Atraktif, dan Kreatif,” kata Tastra Wijaya, Jumat (30/3/2018).

Tastra Wijaya mengatakan, Parade Budaya tahun ini mengangkat tema GOAK. Dengan tema tersebut para peserta wajib menampilkan garapan kesenian Megoak-goakan yang melibatkan pemain 60 sampai dengan 100 orang baik sebagai penabuh maupun penari.

Parade Budaya dipusatkan di kawasan Tugu Singa Ambara Raja. Hadi membuka acara tersebut Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana. Dalam Kesempatan itu, hadir pula Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG, Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna,SH, Sekda Buleleng Ir. Dewa Ketut Puspaka,MP, FKPD Buleleng dan Pimpinan OPD lingkup Pemkab Buleleng.

Tastra Wijaya mengatakan, parade budaya Megoak-Goakan merupakan media baik untuk melestarikan kekayaan budaya daerah ditengah derasnya arus globalisasi. Parade budaya tersebut juga menjadi media untuk menyosialisasikan kepada masyarakat, terutama generasi muda, terkait hal-hal yang ada dan berkembang di daerahnya yang menjadi khazanah budaya kebanggaan mereka.

“Buleleng sedang menuju revolusi Budaya dimana budaya yang ada di Buleleng kita gali dan lestarikan kembali. Bapak Bupati beserta Bapak Wakil Bupati sangat gencar dalam hal pelestarian budaya. Hal ini terlihat dari banyaknya festival budaya yang ada di Buleleng,” tutur Tastra Wijaya.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan, parade budaya Megoa-Goakan merupakan upaya untuk tetap menjaga eksistensi budaya lokal dengan sajian seni budaya unggulan masing-masing kecamatan di Kabupaten Buleleng. Oleh karena itu, hal itu sudah seharusnya digelorakan secara berkesinambungan.

Diharapkan pemahaman akan mata rantai sejarah yang ada tidak putus dan dapat berdampak kepada kecintaan generasi muda terhadap daerahnya. “Untuk parade budaya kali ini sudah cukup baik, namun ada beberapa catatan yang harus menjadi perhatian untuk panitia. Dilihat dari temanya, ini sudah bagus tapi kalau bicara masalah penggalian kearifan lokal seluruh Kecamatan mungkin harus ada selingan-selingan apa yang ada di Kecamatan itu,” tandas Bupati.

Agus Suradnyana menyebut, masyarakat boleh menampilkan megoak-goakan untuk menghormati HUT Ke-414 Kota Singaraja. Namun demikian, tidak harus tarian tradisi tersebut itu yang ditonjolkan oleh masing-masing kecamatan. Esensi kearifan lokalnya harus lebih dielaborasi dan ditampilkan oleh para peserta.

Seperti tahun sebelumnya, Parade budaya tahun ini kembali dilombakan dengan kriteria penilaian meliputi kesesuaian dengan tema yang ditampilkan, keserasian, kemeriahan, dan disiplin atau keutuhan barisan parade dari start sampai finish. Hadiah untuk juara pertama adalah penghargaan Maha Nugraha berupa uang pembinaan Rp10 juta, juara kedua Adikara Nugraha mendapatkan uang pembinaan Rp8 juta serta juara ketiga Adika Nugraha mendapatkan Rp7 juta.

Juara keempat Adi Nugraha mendapatkan hadiah Rp5 juta. Seluruh peserta parade budaya juga mendapatkan uang pembinaan masing-masing Rp15 juta. Parade Budaya tahun ini masih mengambil rute yang sama seperti tahun lalu. Start di kawasan Tugu Singa Ambara Raja lalu menuju jalan Gajah Mada, Dr Sutomo, A. Yani dan finish di jalan Dewi Sartika. (Ant)

Lihat juga...

Isi komentar yuk