Cak Nur: Kepemimpinan Pak Harto Hasilkan Banyak Kemajuan

Editor: Koko Triarko

905

JAKARTA – Tanggal 17 Maret adalah tanggal kelahiran Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Seorang pemikir Islam, cendekiawan dan budayawan yang populer dipanggil Cak Nur itu tepatnya lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939, dan wafat di Jakarta pada 29 Agustus 2005 di usia 66 tahun.

Cak Nur termasuk sembilan tokoh masyarakat yang dipanggil Pak Harto ke Istana Negara pada 19 Mei 1998 atau dua hari menjelang Pak Harto mengundurkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia.

Kesembilan tokoh tersebut, yaitu Ketua Umum PBNU Abdurrahman Wahid, budayawan Emha Ainun Nadjib, Direktur Yayasan Paramadina Nucholish Madjid, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ali Yafie, Prof. Malik Fadjar dari Muhammadiyah, KH Cholil Baidowi dari Muslimin Indonesia, Sumarsono dari Muhammadiyah, serta Achmad Bagdja dan Ma’aruf Amin dari Nahdlatul Ulama.

Selain itu, hadir pula Yuhsril Ihza Mahendra, Sekretaris Militer Presiden Mayjend Jasril Jakub, dan ajudan Presiden. Agenda pertemuan tersebut membahas segala kemungkinan penanganan krisis negara. Hasilnya tercapai kesepakatan untuk membentuk suatu badan yang dinamakan Komite Reformasi.

Di dalam pertemuan ini, juga disepakati Presiden Soeharto akan melakukan reshuffle Kabinet Pembangunan VI, dan mengubah nama susunan kabinet tersebut menjadi Kabinet Reformasi.

Tugas dari Komite Reformasi adalah untuk menyelesaikan UU Kepartaian, UU Pemilu, UU Susunan, dan Kedudukan MPR/DPR serta DPRD, UU Anti-Monopoli, UU Anti-Korupsi, dan lainnya.

Prestasi

Menyongsong Sidang Umum (SIUM) MPR 1988, Cak Nur memberikan pandangannya mengenai kepemimpinan Pak Harto  sebagaimana dilansir dalam http://soeharto.co mengutip buku “Presiden RI II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, yang diterbitkan Antara Pustaka Utama, Jakarta, 2008, bahwa keberhasilan Presiden Soeharto dalam memimpin bangsa dan negara Indonesia merupakan prestasi tersendiri yang nampaknya tidak mungkin bisa diulangi oleh penggantinya kelak.

“Pak Harto punya seni tersendiri, sabar, strategik dan tahu betul apa yang harus dikerjakannya,” kata pengamat politik, Dr. Nurcholish Madjid, dalam wawancara khusus dengan ANTARA, Senin (29/02/1988).

Menurut Nurcholish, kepemimpinan Presiden Soeharto telah menghasilkan banyak kemajuan, dan terciptanya stabilitas keamanan yang mantap merupakan salah satu di antaranya yang menonjol. “Kita harus menghargai hasil itu, karena kita tidak memperolehnya secara ‘gratis’,” ungkapnya.

Tentang mekanisme pergantian kepemimpinan, Nurcholish berpendapat bahwa pribadi Pak Harto yang kuat telah menopang kelancaran mekanisme pergantian kepemimpinan selama ini.

“Mengingat pribadi seseorang berbeda dengan yang lain, mekanisme pergantian pemimpin sesudah lima tahun mendatang akan berbeda pula,“ tegasnya.

Optimisme

Kemudian, setelah Presiden Soeharto menyampaikan pidato pertanggung jawaban di depan Sidang Umum (SlUM) MPR 1988 di gedung MPR/DPR Senayan, Cak Nur menyatakan sangat terkesan dengan kerendahan hati Presiden Soeharto yang dalam pidatonya mau mengakui adanya beberapa hal yang belum berhasil dilaksanakan pemerintah selama kepemimpinannya lima tahun sebelumnya.

Kecuali itu, Cak Nur juga menilai, melalui pidato pertanggung jawabannya tersebut, Kepala Negara sesungguhnya sudah mengajak rakyat Indonesia untuk dapat berpikir realistis, antara lain sewaktu mengatakan merosotnya harga minyak di pasaran dunia merupakan suatu hikmah.

“Apa yang dikatakan Presiden itu betul sekali supaya kita tidak manja,” katanya.

Cak Nur berpendapat, sikap dan pembawaan Presiden Soeharto yang terbuka dan rendah hati itu mendorong munculnya optimisme, bahwa tantangan terbesar yang dihadapi dalam pembangunan nasional masa mendatang akan teratasi.

Menurut Cak Nur, tantangan terbesar yang akan muncul dalam pembangunan nasional waktu dekat ini terletak di bidang pembangunan politik, yakni proses pengalihan kepemimpinan secara damai.

“Kalau melihat pidato dan pembawaan Presiden Soeharto, mudah-mudahan kita akan sukses menghadapi tantangan itu,” sambungnya.

Hikmah

Cak Nur pernah menyampaikan uraian hikmah Maulid pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara Jakarta, Ahad (20/05/1985) malam, yang dihadiri Presiden Soeharto, Wapres Umar Wirahadikusuma, Menteri-menteri Kabinet Pembangunan IV, Pimpinan Lembaga Tinggi Negara, Para Duta Besar negara-negara Sahabat, dan undangan lainnya.

Dalam uraian hikmah maulidnya, Cak Nur mengatakan, kelemahan manusia yang paling pokok ialah bahwa ia mudah tertipu oleh dimensi jangka pendek hidupnya, dan melupakan dimensi jangka panjangnya.

Sebelumnya, Cak Nur berpendapat, dalam kitab suci ditegaskan, bahwa. manusia dalam hidupnya dihadapkan kepada pilihan moral yang fundamental. “Manusia tidak dibenarkan bertindak setengah-tengah,” tegasnya sambil menambahkan, di satu pihak manusia boleh memilih untuk berpihak kepada Pencipta Allah SWT, merasakan kedahsyatan Kehadiran-Nya, dan menerima tantangan moral-Nya.

Jika ia memilih jalan ini, jalan menuju Tuhan, maka Tuhan, dengan rahmat-Nya akan membimbing manusia beriman itu, dan menuntunnya menuju berbagai jalan untuk menjadikan dirinya pribadi yang lurus dan bersih, bahagia dan selamat.

Kata Cak Nur, manusia bisa memilih untuk berpaling dari hadirat Tuhan, menjadi tenggelam dalam angan-angan pribadinya sendiri, dan membaktikan seluruh hidupnya untuk keberhasilan mencapai tujuan-tujuan kecil hidupnya itu.

“Dalam hal ini, maka Tuhan pun akan “berpaling” dari orang itu, dan membiarkannya terjerumus ke dalam kekerdilan hidup dan dosa, dan kepada kehancuran martabat kemanusiaannya,” paparnya.

Pada sisi lain, dalam uraian maulidnya, Cak Nur menjelaskan, adanya fitrah, yang dalam diri manusia diwakili oleh hati nurani, setiap pribadinya manusia mempunyai potensi untuk benar dan baik. Sikap negatif, adalah sikap pengingkaran akan fitrah manusia secara terselubung, sehingga termasuk perbuatan dosa.

“Lebih-lebih lagi prasangka buruk itu tidak boleh terjadi sesama anggota masyarakat yang percaya kepada Tuhan,” kata Cak Nur, sembari mengutip firman Allah dan Kitab Suci Al-Qur’an Surat Al-Hujuraat yang intinya mengenai kelompok manusia jangan saling menghina.

Lebih lanjut, Cak Nur menjabarkan lima sila dalam Pancasila berdasarkan yang terkandung dalam ajaran agama Islam yang diperjuangkan dalam sejarah Nabi Muhammad SAW.

“Insya Allah, dengan hidayah dan Inayah-Nya, dan dengan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW yang kini diperingati hari lahirnya, kita bangsa Indonesia berhasil mewujudkan cita-cita bersama, yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, suatu negara yang penuh kebajikan dengan ridha serta ampunan Allah SWT,” demikian kata Cak Nur yang membacakan teksnya setebal 27 halaman folio dilengkapi dengan catatan kaki Menteri Agama RI, H. Munawir Sjadzali, MA.

Dalam sambutan yang singkat itu, mengatakan, uraian hikmah maulid yang dibawakan Dr. Nurcholish Madjid memberikan gambaran dan kejelasan kepada kita, khususnya umat Islam Indonesia dalam usaha melaksanakan pembangunan nasional.

Baca Juga
Lihat juga...