Curah Hujan Pengaruhi Harga Jagung Petani Lamsel

Editor: Irvan Syafari

332
Bukhori,salah satu pemilik lahan jagung seluas satu hektar di kecamatan Penengahan -Foto: Henk Widi.

LAMPUNG — Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Lampung Selatan berimbas pada sejumlah petani jagung, yang sebagian besar masih memasuki masa panen. Di antaranya petani jagung yang terkena dampak musim hujan berada di Kecamatan Penengahan, Ketapang dan Sragi. Tanaman jagung yang tidak bisa disimpan dalam waktu lama, bahkan saat masih berada di kebun. Petani memilih menjual cepat dengan resiko harga rendah.

Bukhori (50), petani jagung di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan adalah salah satunya. Dia mengaku, harga jagung panen sangat dipengaruhi kadar air. Pembeli biasanya akan melakukan pemotongan harga dengan kadar air tinggi sebesar 20 hingga 30 persen.

“Kami para petani tidak bisa berbuat banyak karena untuk pengeringan alami nyaris mustahil dengan kondisi mendung dan hujan dominan terjadi bahkan tidak adanya pengering mesin membuat kami terpaksa menjual cepat jagung paska panen,” ungkap Bukhori, Selasa (13/3/2018)

Potongan tersebut diakuinya sudah umum terjadi dalam kondisi cuaca hujan di tingkat petani, pengepul hingga ke pabrik. Pada masa awal panen jagung semenjak Februari ia mengaku harga jagung masih bertengger pada angka Rp3.300 per kilogram.

Dengan adanya pengurangan potongan bisa hanya seharga Rp3.000. Saat panen Maret dengan harga Rp3.050, dengan adanya potongan ia hanya bisa menjual Rp2.800 per kilogram.

Adanya potongan akibat kadar air yang masih tinggi tersebut diakui Bukhori, dipastikan akan merugikan dirinya sebagai petani jagung. Perhitungan dari biaya pembelian bibit, operasional pengolahan tanah, penanaman, pemupukan hingga proses pemanenan memakai buruh petik dan buruh angkut.

Hasil panen dalam satu hektare disebutnya saat kondisi musim kemarau saat panen diakuinya bisa menghasilkan Rp12 juta. Namun saat hujan dirinya hanya bisa memperoleh sekitar Rp9 juta.

“Kadar air memang bisa diukur dengan alat sehingga tidak bisa dimanipulasi ditambah dengan potongan penyusutan membuat harga rendah,” kata Bukhori.

Bukhori mengatakan, tanpa ada potongan sekalipun harga jagung yang ideal di tingkat petani diakuinya berkisar Rp3.500 hingga Rp3.700. Harga di level tersebut diharapkan bisa menutup biaya operasional selama menanam jagung ditambah naiknya harga bibit dan obat obatan. Petani harus menebus pupuk subsidi dengan sistem berhutang.

Rendahnya harga jagung ditambah potongan penyusutan dan kadar air tinggi diakui oleh Firman (30), salah satu petani jagung di Desa Bangunrejo kecamatan Ketapang. Ia mengaku dengan adanya potongan penyusutan dan kadar air sekitar 20 hingga 30 persen membuat petani merugi. Hasil panen sekitar 350 karung yang dipanen pada lahan seluas satu hektar miliknya diakuinya digiling langsung di kebun.

“Proses penggilingan langsung di kebun untuk meminimalisir biaya ekstra pengangkutan dengan ojek angkut karena lokasinya dekat dengan jalan raya,” papar Firman.

Setelah dilakukan proses penggilingan jagung hasil panen tersebut langsung dijual ke pabrik. Sebelumnya saat kondisi musim kemarau, sebelum dijual ke pabrik, Firman masih sempat melakukan proses penjemuran.

Selain mengurangi kadar air proses penjemuran dengan sinar matahari akan meningkatkan harga jual, karena menurunnya kadar air. Namun akibat kondisi cuaca kerap mendung dan curah hujan tinggi, ia terpaksa menjual jagung langsung ke pabrik dengan resiko harga lebih rendah.

“Pabrik biasanya memiliki alat pengering jagung berukuran besar sehingga masih menerima jagung berkadar air tinggi,” ujar Firman.

Para pekerja melakukan pemetikan jagung yang sudah ditebang-Foto: Henk Widi.

Firman dan petani lain menyebut membutuhkan bantuan alat pengering jagung mengatasi kadar air yang tinggi. Harga mesin pengering yang mahal membuat petani terkendala proses pengeringan saat musim penghujan dengan resiko menerima harga rendah akibat penyusutan dan potongan akibat kadar air tinggi.

Baca Juga
Lihat juga...