Dani Wati Pernah Melukis Presiden Soeharto Sedang Memotret

Editor: Irvan Syafari

511

MAUMERE –– Melukis seorang Presiden merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi pekerja seni lukis. Sebab tidak semua pelukis dipercayakan untuk mengabadikan gambar orang nomor satu di Tanah Air ini, saat sedang menjabat presiden.

Kegembiraan ini dirasakan oleh Daniel Wati Tilok atau kerap disapa Dani Wati oleh sesama pelukis, para murid dan juga orang yang sering mempergunakan jasanya. Kesempatan yang langka ini datang tidak disengaja dan dirinya pun tidak mengetahui siapa yang memberitahukannya kepada Almarhum Pak Harto saat itu.

“Saat sedang melukis di Pasaraya Blok M, saya didatangi ajudan Pak Harto sambil membawa foto Pak Harto sedang memotret menggunakan kamera. Setelah lukisan tersebut rampung, sang ajudan datang dan mengajak saya bersamanya membawa lukisan tersebut ke Pak Harto di rumah Jalan Cendana,” ungkap Dani sapaannya, Selasa (20/3/2018).

Dani pun mendapat bayaran 30 juta rupiah, yang tergolong besar saat itu pada 1997, sebelum Pak Harto mengundurkan diri dari jabatan. Dirinya merasa kagum sebab lukisan tersebut katanya dipajang di Museum Taman Mini Indoensia Indah di Jakarta Timur.

“Saya sering melukis para pejabat dan artis saat melukis di Aldiron bahkan pernah melukis sang maestro, pelukis Basuki Abdullah saat saya pindah di Pasaraya Blok M lantai 5 dan saya pajang di tempat saya,” tuturnya.

Lukisan pria kelahiran Maumere 24 Mei 1949 ini tidak disengaja dilihat Ibu Bernadet ,sekertaris Pak Basuki Abdullah yang sering mengunjungi tempat kebugaran di lantai 5 dekat tempatnya melukis sekitar 1989. Beliau meminta agar lukisan tersebut dibawa ke rumah Pak Basuki, karena katanya mirip sekali dengan aslinya.

“Ibu Bernadet katakan, Pak Dani bawa saja lukisan ke bapak, sebab banyak pelukis yang bawa lukisan bapak, tapi katanya kurang mirip. Saya bilang malu Bu. Ini lukisan kecil buat apa dibawa ke Pak Basuki,” ungkapnya.

Tak lama berselang kata Dani, sekitar sebulan Pak Basuki datang ke tempatnya dan sambil melihat dirinya melukis. Kaget, dia bangun dan mencium tangan Sang Maestro. Basuki melihat lukisannya dan menanyakan asalnya. Basuki menanyakan apakah lukisannya mau dijual serta harganya berapa.

“Saya gengsi juga dan katakan harganya 500 ribu rupiah. Padahal saat itu harganya 100 ribu rupiah juga besar sekali. Beliau tanya lagi, bisa ditawar tidak, saya jawab bisa tapi bapak kan penggemar, saya jadi kalau bapak mau saya kasih saja. Beliau katakan oh tidak, saya mau tawar tapi yang benar berapa tanya beliau sampai dua kali,” ceriteranya.

Tiga kali kata Dani pak Basuki bertanya dan dikatakan harganya 500 ribu rupiah, lalu beliau katakan kalau boleh menawar, dirinya menawar menyebut harga satu juta rupiah. Akhirnya sang maestro membeli lukisan tersebut. Setelah itu kadang sebulan atau dua bulan sekali beliau datang dan melihat dirinya melukis bahkan sering memberi uang untuk membeli bahan melukis.

Belajar Secara Otodidak

Bakat melukis ayah 2 orang putera dan 2 orang puteri ini mulai terasah sejak duduk di bangku SMP Frater Maumere dimana saat pelajaran menggambar hasilnya selalu bagus dan membuat sang guru memberikan pujian. Sang guru gambar Frater Anton Fernadez menyuruhnya kuliah di seni rupa.

“Waktu itu saya disuruh menggambar jenderal yang sudah meninggal oleh guru menggambar saya Frater Anton, sehingga saya menggambar Jenderal Soeprapto. Ini untuk pertama kalinya saya menggambar menggunakan cat air untuk warna padahal biasanya menggambar hitam putih,’ tutur Dani.

Setelah dilihat, sang guru mengatakan gambar yang dibuat Dani lebih bagus darinya sehingga dia pun disuruh kuliah di seni rupa. Tapi setlelah tamat SMAK Syuradikara Ende dirinya berangkat ke Jawa dan kuliah di Akademi Ilmu Keuangan dan Perbankan mengikuti keinginan orang tua dan hanya bertahan 2 tahun lalu kembali ke Maumere

“Lalu saya dipanggil ke Ende mengajar melukis di SMAK Syuradikara selama 3 tahun. Pada 1978 di Kupang ada lomba luksi antar pelukis se NTT dan saya juara pertama sehingga dikirim ke Jakarta untuk lomba tingkat nasional. Saya mendapat juara harapan, sehingga saya berpikir ilmu melukis saya belum mecukupi sehingga saya memutuskan melalangbuana di Jakarta dan tidak kembali ke Flores,” paparnya.

Dani katakan, dirinya belajar melukis secara otodidak dengan banyak bergaul bersama para pelukis dan sering ikut lomba. Pada 1988 dia pernah ikut lomba melukis cepat di mana pesertanya seorang sarjana seni rupa, sementara dirinya dan teman pelukis asal Semarang belajar secara otodidak.

“Kami melukis artis Dina Mariana dan waktu saya 25 menit, sementara teman dari Semarang membutuhkan waktu 20 menit sehingga keluar sebagai juara. Sementara sarjana seni rupa dari Padang butuh waktu satu jam untuk menghasilkan lukisan tersebut,” paparnya.

Melukis Depan Umum

Kalau mau menjadi pelukis jangan tertutup dan banyak bergaul dengan siapa saja baik orang kaya maupun miskin, agar bisa memudahkan kita dikenal orang dan semakin banyak yang meminta jasa kita untuk melukis.

“Saya tidak terlalu tertutup, santai saja sebab hidup ini harus dinikmati.Hidup ini ada batasannya. Kita harus saling menghargai orang lain serta tidak usah sombong dan yang terpenting jangan menyusahkan orang lain,” ungkap Dani.

Pria yang masih terlihat enerjik ini kembali ke Maumere sekitar 2014 karena sejak merantau belum pernah masuk ke rumah adat di Tapobali Lembata. Usai mengikuti ritual di rumah adat dirinya merasakan ke mana-mana segala urusannya terasa dimudahkan.

“Saat saya ke Maumere saya melihat ada peresmian Pusat Jajajan dan Cinderamata pada Februari 2015 dan ada kios-kios yang ditawarkan untuk ditempati perajin. Selama 2 tahun gratis, sehingga saya tertarik dan mendaftar hingga mendapat satu kios dan bertahan sampai sekarang,” terangnya.

Tempatnya bagus lanjut Dani, sehingga dia tertarik dan meski harus bolak-balik ke Jakarta tidak menjadi masalah. Kalau ada panggilan melukis di Jakarta dia pasti ke Jakarta dan setelah itu kembali lagi ke Maumere menempati galeri sekaligus kios miliknya, yang memajang lukisan dan aneka kerajinan tangan serta batu akik.

“Saya melihat banyak pelukis takut dan tertutup sekali. Padahal kalau seorang pelukis hebat ilmu itu harus ditampilkan di depan orang banyak, bukan membawa karya lukis dan dipamerkan lalu itu sudah dianggap hebat. Ini penting sebab orang ingin melihat bagaimana proses melukis,” tegasnya.

Seorang pelukis tandas Dani, dikatakan hebat dilihat bagaimana dia membuat proses awal melukis, membuat sketsa awal, itu yang mau dilihat orang.Kalau di rumah bisa memakai alat atau lainnya dan ini tidak diketahui orang. Buktinya banyak yang lukisannya bagus tapi melukis di depan umum lukisannya kurang bagus

“Kalau di Maumere susah sekali mendapat orderan dengan biaya yang mahal sebab masyarakat belum terbiasa membeli lukisan dengan harga yang mahal akibat lemahnya apresiasi,” ucapnya.

Melukis foto kalau di Maumere beber Dani, dengan lebar 50 sentimeter dikenakan biaya 1,5 juta rupiah, sementara untuk ukuran 70 kali 90 sentimeter harganya 4,5 sampai 5 juta rupiah. Meski demikian dalam sebulan selalu saja ada yang memesan lukisan karena namanya sudah dikenal luas.

Baca Juga
Lihat juga...