De Tjolomadoe Diharap Mampu Memantik Berkembangnya Ekraf

Editor: Koko Triarko

631

SOLO — Eks Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, yang saat ini diubah namanya menjadi De Jtolomadoe akan resmi dibuka pada 24 Maret 2018 mendatang. Sejumlah agenda telah disiapkan untuk mengawali beroperasinya bangunan bersejarah yang dibangun pada 1928 itu, mulai dari pameran seni hingga performa Solo Batik Carnival (SBC). 

Hal ini disampaikan General Manager (GM) Kontruksi PT Sinergi Colomadu, Edison Suardi, dan Kurator Galeri Salihara, Asikin Hasan, dalam jumpa pers Agenda De Tjolomadoe, Selasa (20/3/2018) siang.

Menurut Edison, sejumlah agenda untuk menyambut opening ini akan dilaksanakan selama tiga hari, mulai Selasa – Kamis (20-22) Maret 2018. “Agenda ini terdiri dari beberapa kegiatan, ada yang indoor dan ada yang outdoor. Konsep yang ingin ditampilkan adalah mengangkat nilai heritage eks PG Colomadu, baik eksotisme bangunan maupun mesin-mesin penggilingan,” terangnya, kepada awak media, Selasa (20/3/2018).

Dicontohkan, Stasiun Ketelan dan Gilingan akan digunakan sebagai pameran sketsa, fotografi dan seni rupa video. Sedangkan di area outdoor, akan berlangsung musik band, Solo Batik Carnival (SBC) dan Green Fashion Heritage.

“Untuk performa seperti SBC nanti kita lakukan di dua lokasi, yakni baik indoor maupun outdoor. Intinya kalau di indoor, tidak boleh pegang mesin-mesin atau bangunan yang sudah menjadi cagar budaya,” urainya.

Selain pameran dan performa, De Tjolomadoe juga bakal dilengkapi dengan diskusi budaya dan sejarah. Tema menarik yang akan diusung dalam diskusi budaya dan sejarah ini adalah ‘Spirit Urip Iku Urup: Arsitektur dan Warisan Budaya’.

“Dalam diskusi budaya ini, kita turut mengundang Wiendu Nuryanti, Guru Besar Arsitektur dan Pariwisata UGM, Mbah Prapto Suryodarmo selaku Budayawan, David Sagita dari Komunitas Haritage Surabaya, Sita Ratih Pratiwi selaku Soeracarta Heritage Society,” tambah Yuke Ardhiati, selaku Historian Universitas Pancasila yang juga turut menjadi narasumber dalam diskusi budaya tersebut.

Melalui sejumlah kegiatan itu, masyarakat Solo maupun sekitarnya dapat menikmati keindahan arsitektur De Tjolomadoe yang kaya akan nilai-nilai histori dan budaya. Sebagai warisan budaya, De Tjolomadoe diharapkan sejarah yang ada dapat dinikmati dan dijaga bersama.

“Kita ingin suguhkan kepada pengunjung adalah bangunan bersejarah keberadaan Pabrik Gula yang dimiliki oleh Mangkunegaran dan bukan dari kolonial Belanda. Dengan tetap mempertahankan heritage yang ada, pengunjung bisa melihat dan mengenang kejayaan PG Colomadu pada masanya dulu,” tandasnya.

Melalui konsep  mempertahankan heritage, De Tjolomadoe juga diharapkan menjadi pemantik bagi pelaku ekonomi keratif untuk memanfaatkan bangunan seluas 1,3 hektare dengan maksimal.

Tak hanya dalam kancah nasional, namun bangunan yang berada di luas lahan 6,4 hektare ini siap menampung iven berkelas internasional.

Baca Juga
Lihat juga...