Debit Air Turun, Warga Penengahan buat Sumur Bor

Editor: Satmoko

352

LAMPUNG – Kebutuhan akan air bersih di wilayah Lampung Selatan kerap mengalami hambatan saat datang musim kemarau dengan menurunnya debit air sumur dalam atau sumur gali.

Kondisi tersebut juga dialami oleh Suwito (35) warga Desa Klaten Kecamatan Penengahan yang memiliki sumur dalam selama puluhan tahun. Ia menyebut sumur gali sedalam 15 meter sudah dibuat sejak dirinya kecil dan merupakan peninggalan keluarga.

Suwito menyebut, semula proses pengambilan air sumur mempergunakan timba dan mulai diganti menggunakan mesin pompa air listrik. Seiring dengan alih fungsi lahan dengan penggunaan sawah menjadi permukiman dan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) warga mulai mengalami kesulitan air bersih. Hilangnya daerah tangkapan dan resapan air membuat sumur gali warga mengalami dampak langsung.

“Saat musim hujan air sumur memang masih bisa dipompa, namun ketika kemarau bahkan dengan mesin pompa air sudah tidak naik karena debitnya menurun sehingga kami kesulitan mendapatkan akses air bersih,” terang Suwito, salah satu warga Desa Klaten Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News, Sabtu (31/3/2018).

Suwito menyebut, kesulitan air bersih saat musim kemarau sudah dialaminya semenjak tiga tahun terakhir. Ia bahkan terpaksa meminta air dari sumur warga lain yang masih memiliki air bersih dan terkadang mengambil dari sungai untuk kebutuhan mandi.

Proses pembuatan sumur bor dilakukan selama tiga hari lebih dengan kedalaman air mencapai puluhan meter [Foto: Henk Widi]
Kebutuhan air bersih diakuinya diperoleh dari membeli dengan menggunakan galon dengan harga Rp17.500 berisi sebanyak 19 liter air bersih. Terkadang ia juga membeli air isi ulang per galon dengan harga Rp5.000 untuk ukuran yang sama.

Sejumlah warga yang memiliki biaya untuk membuat sumur bor sudah mendatangkan ahli sumur bor dengan biaya Rp7 juta beberapa tahun sebelumnya. Namun kini jasa pembuatan sumur bor dari mulai penggalian hingga peralatan serta upah tenaga kerja menjadi Rp10 juta.

Meski terbilang cukup mahal bagi Suwito yang bekerja sebagai petani tersebut, kebutuhan air bersih yang vital membuat ia menginvestasikan uang untuk pembuatan sumur bor.

“Meski mahal saya putuskan menggunakan sumur bor agar tidak kerap membeli air bersih terutama saat musim kemarau,” terang Suwito.

Hendra, penyedia jasa pembuatan sumur bor mengaku, dalam sebulan dirinya mendapat pesanan dari sekitar empat hingga lima warga. Pembuat sumur bor diakuinya merupakan warga yang tinggal di daerah sulit air terutama saat musim kemarau. Biaya satu paket pembuatan sumur bor menyesuaikan tingkat kesulitan wilayah yang akan dibuat sumur bor.

“Jika daerahnya kami periksa mengandung banyak batu maka proses pembuatan sumur bor bisa lebih mahal dibandingkan daerah yang lebih mudah,” ujar Hendra.

Daerah yang mudah untuk proses pengeboran ditandai dengan tidak banyak ditemui batu. Saat proses penggalian dengan mata bor batu kerap memperlambat proses pengeboran. Pada wilayah dengan kontur padas dan tanah lunak ia bahkan menyebut membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari. Namun wilayah yang sulit dan berbatu bisa memakan waktu lebih dari empat hari.

Seorang warga melakukan proses pengambilan air dari sumur bor yang ada di dekat lahan sawah miliknya [Foto: Henk Widi]
Waktu tersebut mulai dari proses pembuatan lubang bor,pemasangan instalasi pipa. Penyiapan tandon air bersih dan pembuatan fasilitas lain diakuinya kerap dikerjakan oleh pemilik rumah. Di wilayah yang pernah mempergunakan jasanya, kedalaman air dengan sumur bor bisa mencapai 30 meter hingga 50 meter.

Meski demikian di sejumlah tempat dengan kedalaman 70 meter belum ditemukan air bersih hingga mata bor kerap patah.

“Kontur tanah untuk pembuatan sumur bor menjadi alasan biaya jasa berbeda antara daerah satu dengan yang lain,” cetus Hendra.

Saat ini biaya jasa satu paket pembuatan sumur bor lengkap dengan instalasi pipa berkisar Rp10 juta hingga Rp15 juta. Selain menerima jasa pembuatan sumur bor untuk memperoleh air bersih, Hendra juga diminta oleh pelaksana proyek jalan tol. Pengeboran dilakukan untuk mengetahui kondisi sedimen tanah di wilayah yang akan dilalui jalan tol trans Sumatera.

Selain kesulitan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga saat kemarau, lahan pertanian di wilayah Penengahan juga kerap kekurangan air bersih. Kelompok tani panca usaha Tani di desa Gandri salah satunya terpaksa menggunakan fasilitas sumur bor.

Sukeri, salah satu warga menyebut, bantuan sumur bor diperoleh dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura.

“Kami sempat mengalami kesulitan mengairi lahan pertanian saat kemarau namun kini sudah ada bantuan sumur bor,” terang Sukeri.

Bantuan satu unit sumur bor selain bisa dipergunakan untuk keperluan air bersih warga juga bisa untuk pengairan lahan pertanian sawah. Selama musim hujan Sukeri menyebut debit air sumur warga masih bisa dimanfaatkan, namun saat kemarau warga harus mengambil air bersih dari sumur bor.

Sebagian warga bahkan harus membeli dari mobil tangki dengan harga Rp200 ribu untuk sebanyak 5000 liter. Bantuan sumur bor memberi manfaat bagi warga yang juga pemilik lahan pertanian di wilayah tersebut.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.