Desa Bono Bersiap Jadi Desa Wisata Terpadu

Editor: Irvan Syafari

889
Salah satu warga menikmati suasan di taman bunga Desa Bono, Kecamatan Tulung, Klaten, Solo, Jawa Tengah-Foto: Harun Alrosid.

SOLO — Keberadaan Desa Bono, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Solo, Jawa Tengah, untuk bisa menjadi desa wisata saat ini mulai bergeliat.

Tak hanya memunculkan taman bunga sebagai ikon desa, berbagai dukungan pun mulai bermunculan. Salah satunya adalah keterlibatan pemuda sebagai penggerak potensi desa yang selama puluhan tahun tertidur.

Sebagai desa yang sebagian besar wilayahnya lahan pertanian, sekelompok pemuda di Desa Bono terpanggil untuk bisa memunculkan sebuah gagasan guna memajukan desa.

Satu di antaranya adalah konsep wisata terpadu yang memanfaatkan keindahan alam, hamparan lahan pertanian, dan potensi sayur dan buah yang sangat potensial di daerah tersebut.

“Saat ini kelompok Karang Taruna yang ikut andil dalam menciptakan wisata di Desa Bono sudah ada tiga dusun. Semua ikut gotong royong, baik dalam membuat lahan untuk wisata maupun pernak-perniknya,” ucap Giyono kepada Cendana News, Rabu (28/3/2018).

Jika sebelumnya pria 45 tahun ini dikenal dengan ide kreatifnya menanam bunga warna-warni disepanjang jalan antar kampung, saat ini dirinya ingin mengembangkan potensi pertanian yang lain.

Dengan konsep tempat wisata “zaman now”, pria yang akrab disapa Giono ini mengembangkan berbagai tanaman sayur dan buah di tempat wisata yang baru dirintis tersebut.

“Kita sudah siapkan berbagai tanaman sayur dan buah. Seperti tanaman tomat, terong, cabai, dan buah semangka. Selain itu ada beraneka macam bunga,” terangnya.

Melalui taman bunga yang dilengkapi tanaman sayur dan buah ini akan dibuat menjadi wisata terpadu, yakni obyek wisata, yang saling melengkapi antara satu obyek ke obyek yang lainnya.

“Kalau nanti ada embung, bisa menjadi desa wisata terpadu. Ada taman, pertanian juga embung. Tapi saat ini terkendala biaya, karena anggaran yang ada baru kecil,” ungkapnya.

Keberadaan objek wisata di Desa Bono inipun sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah desa setempat. Terbukti sudah ada kucuran anggaran untuk menjadi pemantik dalam mengembangkan wisata yang berbasis pertanian tersebut. Meskipun anggaran yang saat ini ada masih sedikit.

“Nanti kalau memang ada dukungan pihak tekait, mau dijadikan wisata terpadu. Di situ ada taman, pertanian, dan juga embung. Selama ini sudah ada anggaran tapi baru kecil. Meski kecil kita maksimalkan, yakni gotong royong. Misalnya dengan meminta bambu dari warga, dan kerja bakti dari Karang Taruna,” imbuhnya.

Dengan keterbatasan yang ada, Giyono tetap optimis untuk memajukan desa menjadi desa wisata terpadu. Terlebih dukungan moril dari kalangan pemuda sangat kuat untuk bisa gotong royong.

“Yang penting kita eksis dulu. Kita tunjukkan kalau kita bisa. Kami berharap Dinas Pariwisata bisa turun di lapangan dan memberikan perhatian yang lebih,” tandasnya.

Tujuan adanya obyek wisata yang berbasis pertanian ini tak lain untuk memberikan alternatif. Jika berliburwarga tidak harus merogoh kocek dalam dan bepergian jauh ke luar kota.

“Tidak perlu bepergian jauh karena di sekitar kita sudah ada. Ke depan mudah-mudahan bisa menjadi agro wisata terpadu, tidak hanya wisata saja, tapi potensi pertanian juga dimaksimalkan,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu warga Tlogowono mengaku sangat mendukung adanya taman bunga yang menjadi ikon Desa Bono. Sebab, sejak adanya taman bunga, kampungnya menjadi ramai. Tak hanya wisatawan yang ingin berburu foto dari daerah Klaten, namun sejumlah daerah lain, seperti Boyolali, Sukoharjo dan Solo juga banyak yang bertandang.

Goyono (baju merah) menyiapkan berbagai tanaman bunga yang akan dijadikan agro wisata terpadu-Foto: Harun Alrosid.

“Taman bunga juga menjadi penggerak ekonomi warga sekitar. Karena ramai banyak dikunjungi, sekarang banyak warga yang berjualan minuman atau makanan ringan. Taman ini juga dikelola Karang Taruna antar kampung, jadi bisa jadi pemasukan. Apalagi lokasinya dekat rumah,” kata Miftahul Jannah.

Baca Juga
Lihat juga...