Desa di Dua Kecamatan Lamsel Terisolir Akibat Banjir

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

207

LAMPUNG — Hujan dengan intensitas tinggi selama tiga hari sejak Minggu (4/3) hingga Selasa (6/3) menyebabkan sejumlah desa di dua kecamatan di Lampung Selatan terisolir. Warga tidak dapat tidak dapat melakukan aktifitas akibat air merendam lahan pertanian hingga jalan setinggi lutut orang dewasa.

Narso (50) warga desa Margasari kecamatan Sragi menyebutkan banjir yang mengakibatkan akses tanggul terendam banjir membuat warga tak bisa melintas. Luapan tersebut semakin memperparah rendaman lahan pertanian dan akses jalan setinggi

“Sejak pagi hingga siang motor roda dua bahkan tidak bisa melintas jika tetap nekat melintas busi mati dan harus dituntun sehingga sebagian mengurungkan niat bepergian dan memutar melalui tanggul sungai Way Pisang,” beber Narso di tanggul sungai Way Pisang, Selasa (6/3/2018)

Narso menyebut debit air sungai way Pisang semakin meninggi bahkan mencapai 70 cm. Imbasnya puluhan hektare lahan sawah di desa Margasari kecamatan Sragi, desa Palas Aji, Palas Pasemah, Bangunan, Sukaraja, Pematang Baru di kecamatan Palas masih terendam banjir.

Terisolirnya sejumlah desa tersebut diakui Narso merupakan hari kedua setelah sebelumnya dusun Selapan desa Rawi, dusun Sekurip desa Ruang Tengah kecamatan Penengahan juga terisolir akibat luapan sungai Way Pisang.

“Air mulai surut di akses jalan penghubung antar desa sekaligus jalan pintas dua kecamatan jelang sore,tapi jika hujan kembali turun jalan bisa terendam air,” beber Narso.

desa terisolir banjir
Eko Komarudin, petugas UPT Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang rayon III kecamatan Ketapang dan Sragi [Foto: Henk Widi]
Terkait bencana banjir luapan sungai way Pisang, Eko Komarudin,petugas dari Unit Pelaksana Tekhnis Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (UPTDPUTR) rayon III kecamatan Ketapang dan Sragi telah meninjau lokasi. Mendampingi kepala UPT,Harsono, Eko Komarudin menyebut memeriksa sejumlah pintu air dan klep yang ada di sungai Way Pisang.

Eko menyebut ada beberapa saluran air pembuangan yang berasal dari areal persawahan warga.

Eko menyebut berdasarkan data sejak tiga hari terakhir luasan lahan terimbas banjir di wilayah tersebut bisa mencapai ratusan hektare. Jumlah tersebut bisa bertambah dengan potensi hujan yang masih bisa terjadi. Sementara kondisi lahan sawah milik petani di wilayah tersebut beragam dari usia padi mencapai 10 hari setelah tanam (HST) hingga usia 45 hari.

“Puluhan hektare lahan sawah di bawah usia dua puluh hari dipastikan membusuk jika hingga besok tidak surut dan harus menanam kembali,”beber Eko Komarudin.

Baca Juga
Lihat juga...