Deureuham Kembangkan Wirausaha Berbasis Syariah

Editor: Irvan Syafari

452

JAKARTA — Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bersinergi dengan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah dalam meningkatkan kemajuan dan perkembangan ekonomi kreatif entrepreneur (ekraf preneur) Indonesia.

Sinergi ini diwujudkan dengan penyelenggarakan “Deureuham: Derap Ekrafpreneur Hasanah Mulia 2018”

Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo mengatakan, Deureuham adalah kompetisi yang digelar Bekraf dan BNI Syariah untuk mendorong pelaku usaha ekonomi kreatif berbasis syariah mendapatkan dukungan pembiayaan dari perbankan syariah.

“Deureham 2018 ini sebuah langkah inovatif Bekraf dalam memfasilitasi pelaku ekraf mengakses pembiayaan perbankan syariah,” kata Fadjar dalam sambutannya pada peluncuran Deureham, di Synergy Lounge, Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (9/3/2018).

Fajar berharap Deureham 2018 mampu menstimulasi pertumbuhan bisnis berbasis syariah secara signifikan di Indonesia.

Berdasarkan Asian Development Bank (ADB) 2010, segmen kelas menengah muslim lndonesia merupakan yang terbesar di ASEAN dan ketiga terbesar di Asia.

Maka, kata Fajar, Bekraf memandang hal ini sebagai peluang yang bisa digunakan oleh pelaku ekonomi kreatif Indonesia berbasis syariah untuk mengembangkan bisnis mereka pada pangsa pasar potensial tersebut.

Bekraf menghubungkan berbagai stakeholder dalam menumbuhkan wirausaha kreatif berbasis syariah di Indonesia. Terpenting menurut Fajar, Berkaf berupaya meningkatkan daya saing dan kompetisi usaha kreatif melalui Deureuham.

Pada kesempatan ini, Direktur Bisnis BNI Syariah, Dhias Widhiyati menambahkan, Deureuham merupakan salah satu bentuk dukungan perseroan terhadap pelaku ekonomi kreatif untuk memperoleh akses pembiayaan usaha yang lebih mudah sesuai kriteria.

Deureuham  juga memberikan pembekalan produk-produk perbankan dan pengelolaan keuangan sesuai dengan prinsip syariah yang menjangkau kebutuhan para entrepreneur.

Dijelaskan dia, pelaku ekraf berbasi syariah yang dimaksud dalam kompetisi ini, yaitu produk dan jasa yang tidak hanya memenuhi aspek functional. “Tapi juga memenuhi aspek spiritual benefit,” tegas Dhias.

Adapun jelas dia, dua kategori yang dikompetisikan adalah kategori umum untuk pelaku usaha ekonomi kreatif berbasis syariah sub sektor kuliner, fashion, kriya, dan desain produk.

Selanjutnya, kategori teknologi untuk sub sektor aplikasi dan game, film dan animasi serta fotografi.

“Kriteria pelaku usaha ekonomi kreatif berbasis syariah yang lolos kurasi. Yaitu, bersifat kreatif dan inovatif serta memilili dampak sosial yang positif,” pungkas Dhias.

Baca Juga
Lihat juga...