Dinkes Sumbar Jelaskan Risiko Ikan Kaleng Mengandung Cacing

Editor: Koko Triarko

430

PADANG — Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Merry Yuliesday, menegaskan, akan ada tiga fase yang dirasakan seseorang bila mengkonsumsi ikan kaleng sarden yang ada cacingnya.

Pertama, bisa saja seseorang yang mengkonsumsinya tidak merasakan apa-apa. Tetapi, bila sampai pada fase kedua, akan merasakan gangguan pencernaan, dengan gejala mual, muntah, dan diare. Kondisi ini bisa berlanjut menjadi reaksi alergi terhadap cacing anisakis.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Merry Yuliesday/Foto: M. Noli Hendra

“Cacing di sarden atau makarel itu berpotensi menyebabkan reaksi alergi karena mengandung zat kimia tertentu sejenis protein yang memang tidak ramah bagi manusia,” jelasnya, Jumat (30/3/2018).

Akibatnya, ketika dimakan, sistem kekebalan tubuh (imun) seseorang yang mengkonsumsinya akan menganggapnya sebagai serangan zat asing yang berbahaya bagi tubuh. Reaksi alergi yang terjadi bisa bersifat ringan hingga serius.

Ia menjelaskan, gejala-gejala reaksi alergi ringan terhadap cacing tersebut antara lain hidung berair, kulit badan dan area di sekitar mulut gatal-gatal, serta mata gatal dan berair. Sedangkan reaksi alergi serius yang mungkin terjadi, yaitu syok anafilaktik.

“Syok anafilaktik ditandai dengan kesulitan bernafas dan tekanan darah menurun drastis,” ujarnya.

Merry menegaskan, bila kemasan kaleng rusak dan pengelolahan ikannya tidak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), harap jangan membeli produk tersebut, atau bisa saja melaporkan ke Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM).

“Ikan kalengan seperti sarden yang sudah diolah sesuai standar dan ada expirednya.  Bila dikonsumsi sesuai masa rentang sebelum expired, maka aman untuk dikonsumsi,” ungkapnya.

Kepala BBPOM Padang, Martin Suhendri, mengatakan sebelumnya hanya ada tiga merek produk ikan kaleng sarden yang perlu ditarik dari pasar. Namun baru-baru ini, BPOM RI menyatakan menemukan 27 merek ikan kaleng sarden dengan produk ikan markarel kalengan yang beredar di Indonesia positif mengandung cacing pita.

BPOM RI menyebutkan, penemuan tersebut diperoleh setelah pengujian terhadap 541 sampel ikan dalam kemasan kaleng yang terdiri dari 66 merek. 27 merek (138 bets) positif mengandung parasit cacing, terdiri dari 16 merek produk impor dan 11 merek produk dalam negeri.

Untuk itu, di Sumatera Barat, BBPOM juga akan menindaklanjuti apa yang ditemukan oleh BPOM RI terkait 27 merek tersebut. Tetapi untuk menarik 27 produk tersebut, BBPOM Padang akan menunggu intruksi dari BPOM RI.

Baca Juga
Lihat juga...