DPRD: Perairan Kepri Bukan Tong Sampah

224
Ilustrasi laut Indonesia - Dok. CDN

TANJUNGPINANG — Fraksi Demokrat DPRD Provinsi Kepulauan Riau menegaskan, perairan wilayah setempat bukan tong sampah yang setiap tahun menampung limbah minyak hitam.

Anggota Fraksi Demokrat DPRD Kepri Syarifah Elvyzanah, di Tanjungpinang, Rabu, menyatakan, pantai dan perairan di sejumlah daerah di Kepri yang selama ini tampak indah berubah menjadi kotor akibat limbah minyak hitam.

“Kepri ini tempat yang indah, bukan tong sampah. Setiap tahun pada bulan tertentu perairan di Bintan dan Tanjungpinang dikotori limbah hitam, yang sampai sekarang belum jelas asalnya,” katanya, yang berasal dari daerah pemilihan Bintan-Lingga.

Ia mengatakan limbah minyak hitam mengancam sektor pariwisata di Bintan. Padahal pariwisata merupakan sektor andalan Bintan.

Selain itu, lanjutnya, limbah minyak hitam juga mengancam ekosistem laut.

“Aktivitas wisatawan dan nelayan menjadi terganggu,” ujarnya.

Ia mendesak instansi terkait mengatasi pencemaran limbah di pantai sekitar Bintan dan Tanjungpinang.

“Sudah bertahun-tahun ini pencemaran limbah ini terjadi, seharusnya ada solusi. Tidak mungkin limbah itu jatuh dari langit, pasti ada pelaku yang membuangnya ke perairan Bintan dan Tanjungpinang,” katanya.

Syarifah mengemukakan, pencemaran limbah tidak dapat ditangani sendiri oleh Badan Lingkungan Hidup Kepri, melainkan harus bersinergi dengan instansi terkait lainnya.

Jika berhubungan dengan kejahatan internasional, ia menyarankan Pemprov Kepri segera melaporkan masalah itu kepada pemerintah pusat. Ia berharap pemerintah pusat serius menangani pencemaran limbah karena sudah mengganggu aktivitas nelayan, mematikan ekosistem laut dan mengancam sektor pariwisata.

“Tidak ada alasan menunggu lama. Ini permasalahan serius yang harus dituntaskan segeea secara terkoordinasi,” tegasnya.

Abdul Hamid, warga Teluk Keriting, Tanjungpinang mengatakan sejak tadi malam limbah hitam sudah mengotori perairan Teluk Keriting dan Tepi Laut Tanjungpinang. Padahal limbah hitam sudah bertahun-tahun tidak pernah mencemari perairan Tanjungpinang.

“Saya merasakan dampak dari limbah hitam tersebut,” kata Hamid yang tinggal di Teluk Keriting.[ant]

Lihat juga...

Isi komentar yuk