Ekspor Sumbar Masih Didominasi CPO dan Karet

Editor: Irvan Syafari

387
Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit-Foto: M. Noli Hendra.

PADANG — Peningkatan ekspor di Sumatra Barat masih didominasi CPO dan karet. Meskipun pada triwulan IV 2017 terpantau sedikit menurun. Namun, hanya harga komoditas menurun tetapi volume produksi justru mengalami peningkatan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumbar Endy Dwi Tjahjono menyebutkan, bahwasanya saat ini pertumbuhan ekonomi didunia mengalami peningkatan serta membaiknya harga komoditas. Namun, untuk ekspor Sumbar masih yang utama CPO dan karet. Untuk itu perlunya dikembangkan dengan mengarap ekspor selain dua komoditi tersebut.

“Jadi, ini merupakan peluang kita di Sumbar untuk mengarap yang lebih besar selain dua komoditi utama ekspor Sumbar itu. Apalagi, Sumbar sangat kaya akan komoditi yang bisa untuk menjadi rujukan eskpor,” ujarnya, Kamis (22/3/2018).

Dilanjutkan Endy, perbaikan kinerja ekspor selama ini karena ditopang oleh meningkatnya permintaan negara mitra dagang utama Sumbar. Itu tercermin dari meningkatnya aktivitas industri manufaktur negara mitra dagang Sumbar, seperti Tiongkok dan Amerika Serikat yang terkonfirmasi dari peningkatan purchasing manager’s index (PMI).

“Jadi, ada kebijakan pemerintah Tiongkok menerapkan program biodiesel campuran 5 persen dengan solar memengaruhi peningkatan permintaan ekspor CPO,” katanya.

Untuk diketahui, kata Endy volume produksi CPO mengalami peningkatan dari 432,7 ribu tin di triwulan III 2017 menjadi 497,6 ribu ton di triwulan IV 2017. Sehingga, dengan kondisi ini berdampak pada meningkatnya nominal ekspor di triwulan IV 2017 hingga mencapai 18,62 persen (yoy).

Sambungnya, di Sumbar mengalami peningkatan eskpor karena membaiknya sejumlah indikator. Indikasi perbaikan itu dilihat dari skala likert pada triwulan IV 2017 sebesar 1,0 atau naik dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,7.

“Jadi berdasarkan pantauan BI Sumbar volume penjualan ekspor salah satu perusahaan pengolahan CPO di triwulan IV 2017 mengalami peningkatan pada periode tersebut juga didukung karena cuaca sepanjang 2017 cukup baik. Ditambah dengan perawatan dan pemupukannya,” katanya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit menyebutkan, peningkatan ekspor Sumbar perlu disinergikan dengan harga, yang saat ini masih mengalami turun naik. Sinergi ini membuat daya beli di masyarakat cukup tinggi.

“Untuk itu, kita berharap harga ini dapat disinergikan, sehingga tidak berpengaruh banyak kepada daya beli nanti di masyarakat,” katanya.

Selain itu, saat ini ekspor yang masih keseluruhan dari Teluk Bayur perlunya dibagi. Untuk itu, diharapkan ekspor ini juga dapat melalui Pelabuhan Teluk Tapang, yang ada di Pasaman Barat.

“Untuk itu kita minta dukungan semua pihak agar ekspor ini nantinya dapat dibagi tidak hanya di Teluk Bayur. Namun juga bisa melalui Teluk Tapang. Agar pelabuhan di Pasaman Barat ini bisa beroperasi segera,”ulasnya.

Tak hanya itu, Wagub juga menilai selain komoditi utama ekspor Sumbar CPO dan karet. Tetapi Sumbar memiliki komoditi lain yang bisa untuk di ekspor, yakni, kopi dan gambir. Kopi sudah mulai mendunia. Ini dapat menjadi peluang ekspor. Sedangkan untuk gambit belum tersentuh karena harga belum dapat diatur.

“Kita harap sektor yang berpeluang itu dapat digarap. Dan jumlah eskpor Sumbar ke luar neger juga terus mengalami peningkatan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...