FAO Apresiasi Kemajuan Pertanian Indonesia

286
Ilustrasi -Dok: CDN

JAKARTA – Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memuji capaian Pemerintah RI di sektor pertanian, secara khusus pelaksanaan program asuransi pertanian dan sistem informasi pemantauan pertanian.

Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Jumat (9/3/2018), menyebutkan pujian itu disampaikan Asisten Dirjen FAO/Kepala FAO Regional Bangkok (ADG FAO Bangkok) Kundhavi Kadiresan, kepada Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat melakukan pertemuan di sela ‘The Fourth Jakarta Food Security Summit’ (JFSS-4) di Jakarta Convention Center Senayan.

Asuransi pertanian Indonesia dapat diterapkan dengan baik, sementara di negara lain tidak mudah menerapkan program asuransi. Sistem informasi kalender tanam berbasis teknologi, dapat diakses secara cepat oleh petani dan penyuluh melalui telepon pintar serta mendorong diaplikasikannya e-agricultural secara lebih luas.

Menteri Pertanian, Andi Amran, dalam kesempatan itu menyampaikan capaian pembangunan pertanian melalui program upaya khusus (Upsus). Program ini mencakup semua aspek yang berperan untuk menciptakan sebuah kondisi pertanian yang sehat.

Aspek tersebut meliputi perubahan mendasar atas kebijakan-kebijakan yang menghambat pelaksanaan program, perbaikan infrastruktur, penguatan peran peran industri hilir, memperkenalkan asuransi pertanian, dan memperpendek rantai pasok komoditas pertanian.

Pada tahap pelaksanaannya, program Upsus mencakup berbagai macam terobosan yang revolusioner.

Pada 2017, produksi padi meningkat sebesar 10,5 juta ton gabah kering giling (GKG) yang setara dengan 3,23 miliar dolar AS. Kenaikan produksi tersebut juga tercatat pada 43 komoditas pertanian lainnya, termasuk bawang merah dan cabai yang nilai kumulatifnya berjumlah sekitar 27,08 miliar dolar AS. Angka ini adalah yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Meskipun El Nino yang menghancurkan wilayah pertanian skala luas terjadi di Indonesia, negara , pemerintah dan masyarakat masih dapat menjaga pasokan domestik dari beberapa komoditas pangan strategis.

Bahkan, berhasil mengekspor beras khusus sejumlah 4 ribu ton, bawang merah 7,7 ribu ton, dan jagung 57 ribu ton. Secara kumulatif, nilai ekspor pertanian 2017 naik 24 persen dibandingkan 2016.

Ke depan, Kementerian Pertanian telah menetapkan target sebagai pemasok bahan pangan utama di dunia.

Amran optimis, untuk mewujudkan target ini pada 2045 dengan mempertimbangkan besarnya sumberdaya yang ada di Indonesia termasuk besarnya keanekaragaman hayati dan ekosistem pertanian, luasnya potensi lahan subur untuk pertanian, melimpahnya tenaga kerja, tersedianya inovasi dan teknologi, dan besarnya potensi pasar dalam negeri dan internasional.

Kundhavi dalam pertemuan itu menyarankan, dengan adanya kenaikan produksi ini, maka Indonesia berpeluang untuk melakukan ekspor produk pertaniannya.

Untuk memasarkan produk pertanian ke luar negeri, produk itu sendiri harus berdaya saing, efisien, dan spesifik, misalnya produk pertanian organik.

Kundhavi berharap, Indonesia dapat menjadi promotor sistem pertanian Low External Input Sustainable Agriculture (Leisa) dan Organik. Leisa adalah sistem pertanian berkelanjutan dengan input luar yang rendah dan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan efisien.

Dalam kesempatan ini pula, Kundhavi menyampaikan undangan kepada Menteri Pertanian untuk menghadiri pertemuan tingkat menteri pertanian Asia dan Pasifik dalam “The 34th Asia and the Pacific Regional Conference” (APRC ke-34) di Fiji pada tanggal 9-13 April 2018. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...