Fenomena Sampah di Pesisir Utara Jakarta Baru Sekali Terjadi

Editor: Koko Triarko

266

JAKARTA —- Gubernur DKI, Anies Baswedan, meninjau dan turut serta dalam kegiatan pembersihan sampah di kawasan Hutan Bakau Ecomarine Tourism Mangrove, Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara. Kedatangannya, kata Anies, atas laporan dari warga mengenai tumpukan sampah. 

“Siang ini kami di Pluit, merespon laporan dari masyarakat atas sampah yang ada di pesisir dan setelah dilaporkan kemudian langsung Dinas LH (Lingkungan Hidup) bergerak membersihkan,” kata Anies, usai membersihkan sampah, di Jakarta Utara, Senin (19/3/2018).

Tumpukan sampah itu telah diketahui sejak awal Februari, lalu. Menurut mantan menteri pendidikan dan kebudayaan ini, Pemerintah Provinsi DKI sudah melakukan penanganan cepat untuk membersihkan tumpukan sampah pada Sabtu 17 Maret, lalu, dan menurutnya fenomena penumpukan sampah ini di pesisir Jakarta Utara baru pertama kali terjadi.

“Selama beberapa hari ini sudah (sampah) terkumpul lebih dari 50 ton sampah, karena lokasinya (seperti ini),” ucapnya.

Anies menilai, pembersihan penumpukan sampah ini tidak bisa menggunakan alat-alat berat untuk mengangkut, karena tidak bisa diangkut. Pengerjaannya pun harus menggunakan kapal.

“Lokasinya seperti ini, maka pembersihannya tidak bisa menggunakan alat-alat besar untuk mengangkut. Jadi, harus pakai kapal, tidak bisa dilakukan dengan alat berat, karena aksesnya tidak memungkinkan,” tuturnya.

Pada kegiatan ini, Anies memperkirakan akan memakan waktu lama dan mengerahkan ratusan petugas PPSU dan tim kerja lainnya yang terkait untuk melakukan pembersihan secara manual. Namun, disediakan juga satu alat berat amphibi excavator backhoe milik UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta yang dikerahkan.

“Jadi, harus pakai eskavator dan tenaga manusia untuk langsung diangkat pakai alat seperti garpu. Sebenarnya, kalau dikeruk itu sulit, mau tidak mau (akhirnya) harus pakai tangan. Lebih dari 400 orang tenaga untuk mengangkut sampah tersebut,” jelasnya.

Sampah yang menumpuk, diperkirakan setebal 2,5 meter dan pencemaran di wilayah Teluk Jakarta ini mayoritas bersumber dari limbah domestik rumah tangga yang menyebabkan air laut menjadi tercemar dan berdampak buruk bagi ekosistem di lingkungan sekitar.

“Diperkirakan masih ada 50 ton lagi sampah-sampah yang ada di sini, sampah ini mayoritas dari plastik rumah tangga yang diduga mulai terkumpul sejak akhir Desember (2017), karena angin barat. Angin tersebut mengakibatkan lahan rusak yang semula digunakan untuk lahan mangrove dan budi daya bandeng,” paparnya.

Anies mengimbau kepada warga untuk tidak membuang sampah sembarangan khususnya di sungai. “Jangan buang sembarangan, khususnya di sungai. Apalagi, sampah plastik yang luar biasa volumenya,” tegasnya.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Yusen Hardiman, mengatakan, akibat tumpukan sampah itu semua yang ada di pesisir rusak, arus laut membawa sampah dan terjaring di sini. “Sabtu itu 19 ton, kemarin 15 ton, dan hingga siang ini sudah ada 16 ton yang diangkut,” ucap Yusen.

Baca Juga
Lihat juga...