Filipina Batalkan Tuntutan Terhadap Pejabat Tersangka Narkoba

244
Ilustrasi Bendera Filipina - Foto: Dokumentasi CDN

MANILA – Departemen Kehakiman Filipina menolak mengajukan tuntutan terhadap beberapa pejabat yang menjadi tersangka pedagang narkotika. Kebijakan tersebut diambil karena lemahnya bukti dan data dokumen yang dimiliki untuk melakukan penuntutan.

Dalam perang berdarahnya melawan narkotika, Presiden Rodrigo Duterte secara terbuka menyebut nama para tersangka penyalahguna narkoba. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk membuat malu para politisi dan pengusaha provinsi yang disebutnya sebagai penguasa narkotika.

Sementara dari penyelidikan yang dilakukan, para pejabat yang menjadi tersangka tersebut menjadi pengendali perdagangan narkotika di negara Asia Tenggara tersebut.

“Kami memperhatikan niat teguh penggugat untuk menghilangkan ancaman narkotika di negara kita saat ini dan adalah pengetahuan umum bahwa pertarungan itu menghilangkan banyak nyawa,” kata majelis Departemen Kehakiman dalam sebuah keputusan yang di keluarkan tertanggal 20 Desember tahun lalu namun tidak disiarkan.

Lembaga penegak hukum disebut dalam keputusan tersebut, harus mengumpulkan bukti lebih jelas dan mumpuni dalam setiap kali mengajukan penuntunan. Hal itu dibutuhkan agar proses pembuktian tuduhan bahwa tersangka dan pribadi lain memang terlibat dalam perdagangan narkotika.

Tumbangnya kasus tersebut akan menjadi pukulan bagi Duterte, yang telah dikritik oleh lawan-lawan politik dan kelompok pembela hak asasi manusia. Banyak yang menilai, perang terhadap narkoba yang dilakukan hanya menargetkan pengguna dan pengedar kecil.

Aksi yang dilakukan mengabaikan gembong narkoba besar yang belum tersentuh. Di antara 22 orang yang dibebaskan adalah pengusaha Peter Go Lim dan Kerwin Espinosa, yang ditangkap oleh polisi Abu Dhabi pada Oktober 2016. Ayah Espinosa, Rolando, adalah wali kota Kota Albuera di Provinsi Leyte tengah dan menyerahkan diri pada Agustus 2016 untuk menjawab tuduhan narkoba.

Dia tewas tiga bulan kemudian, dalam sebuah kejadian yang disebut polisi sebagai baku tembak di sebuah penjara di mana Dia ditahan. Aktivis dan oposisi mengatakan keadaan kematian Espinosa sangat mencurigakan.

Sejak Duterte menjabat pada Juni 2016, 4.021 orang tewas akibar gerakan melawan gembong narkotika. Polisi menyalahkan penegak keamanan sipil setempat atas sekitar 2.300 pembunuhan lain terkait narkotika. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.