Film ‘Mata Dewa’, Kisah Pemain Basket Satu Mata

Editor: Koko Triarko

685

JAKARTA – Jika sudah cinta pada basket tentu seluruh waktunya tercurah pada basket. Sebuah petaka membuatnya sempat putus asa, tapi kemudian bangkit untuk semangat berlaga. Demikian yang mengemuka dari film ‘Mata Dewa’ yang berkisah tentang semangat laga pemain basket satu mata bernama Dewa.

Film ini diawali laga tim basketnya Dewa (Kenny Austin) yang mengalami kekalahan. Akibat kekalahan itu membuat para pemainnya menjadi tidak semangat.

Pelatih Miko (Nino Fernandez) tentu sangat terpukul, tapi ia mencoba untuk tetap semangat dan membesarkan hati para pemain basket yang dilatihnya. Tapi, keesokan harinya saat tim basket asuhannya hendak berlatih, ternyata lapangan sekolah dipakai untuk olahraga lainnya.

Miko tentu saja marah, karena menurut jadwal, tim basketnya yang seharusnya latihan. Terlebih, ia disindir pelatih olahraga yang menyerobot jadwal latihannya, bahwa tim basketnya tidak pernah membawa nama baik sekolah SMA Wijaya, sehingga wajar dan lebih baik lapangan sekolah dijadikan tempat latihan olahraga lainnya yang sering juara mengharumkan nama baik sekolah SMA Wijaya.

Sungguh, Miko begitu sangat kecewa dengan kenyataan itu dan kemudian bermaksud mengundurkan diri menjadi pelatih basket di sekolahnya.

Pengunduran dirinya disampaikan langsung pada kepala sekolah SMA Wijaya. Tapi, Kepala Sekolah tidak menerima begitu saja pengunduran dirinya dan kemudian masih tetap memberikan kesempatan satu tahun lagi pada Miko untuk menjadi pelatih.

Keputusan tersebut membuat Miko menjadi berpikir keras, agar ia bisa membuat tim basket asuhannya mengharumkan nama baik sekolah SMA Wijaya.

Mendengar Miko tetap menjadi pelatih basket, membuat anak-anak sekolah yang main basket tampak bingung, karena selama ini Miko dianggap sebagai pelatih yang terlalu arogan.

Tapi, Dewa mencoba untuk menyemangati teman-teman tim basket sekolahnya, agar bisa membawa nama sekolah, SMA Wijaya, menjadi juara DBL untuk pertama kalinya. Dewa dan timnya dibantu Bumi (Brandon Salim), koordinator supporter, yang selalu berada di tribun penonton untuk memimpin teman-teman sekolahnya, untuk bisa mewujudkan impian tersebut.

Miko meminta bantuan  Bening (Agatha Chelsea), jurnalis SMA Wijaya, untuk aktif mengikuti perjalanan tim basket SMA Wijaya. Awalnya, Bening menvideokan kegiatan Miko dalam menyemangati tim basket yang dilatihnya, tapi kemudian mewawancarai satu per satu pemainnya. Termasuk di antaranya, Dewa yang pada awalnya tampak sungkan, tapi kemudian mau juga, bahkan yang semula angkuh hatinya kemudian luluh.

Dari wawancara itu, Bening jatuh hati pada Dewa. Begitu juga Dewa yang tampaknya sama-sama suka. Keduanya lalu sering bertemu, bahkan Bening kemudian mendatangi rumah susunnya Dewa.

Dewa dan Bening menjadi sering jalan berdua, bahkan saling menautkan janji untuk tetap selalu bersama, seandainya Dewa suatu saat nanti akan melanjutkan sekolahnya di luar negeri. Keduanya memang dimabuk asmara.

Suatu saat saat Dewa dan Bening sedang bersama di sebuah taman. Tiba-tiba preman yang menjambret tas Bening membawa lari jauh-jauh, tentu saja Dewa langsung mengejar untuk mendapatkan tas itu.

Sialnya, kawanan preman lain menghajar Dewa hingga mengenai mata kirinya. Akibatnya, satu matanya tidak dapat berfungsi baik. Dewa tentu saja frustasi karena tak bisa bergabug dalam tim basket.

Petaka yang membuat mata kiri tak berfungsi sempat membuat Dewa putus asa, tapi kemudian ia bangkit untuk kembali semangat berlaga. Hal itu berkat dukungan orang-orang di sekelilingnya. Seperti di antaranya seorang mantan petinju kawakan (Ariyo Wahab) yang tinggal di seberang rumah susun pamannya (Dodit Mulyanto), membantu Dewa bangkit dari keterpurukan. Terutama ibunya (Imelda E Budiman), yang memang sengaja pulang datang jauh-jauh dari luar negeri.

Berhasilkah Dewa bersama tim basket sekolahnya membawa nama sekolah, SMA Wijaya, menjadi juara DBL? Seberapa serunya Dewa kembali semangat berlaga? Lalu, bagaimana hubungan selanjutnya antara Dewa dengan Bening?

Film ini memberi motivasi pada anak-anak muda yang karena sesuatu hal tertimpa musibah untuk kemudian harus bangkit dan tetap semangat memperjuangkan impiannya.

Andi Bachtiar Yusuf, sutradara yang banyak menggarap film-film olahraga ini cukup mampu mengemasnya dengan baik. Skenario yang digarapnya bersama Oka Aurora mengalir lancar, meski sederhana, tapi mengena.

Kenny Austin, pemeran utamanya, cukup mampu memainkan karakter Dewa dengan baik. Kenny juga cukup mampu mengimbangi akting Agatha Chelsea dengan baik. Keduanya termasuk bintang pendatang baru yang cukup diperhitungkan. Karirnya tentu masih sangat panjang untuk melalui berbagai ujian dan tantangan dalam dunia perfilman.

Sedangkan, para pemain pendukung, seperti Nino Fernandez cukup mampu memainkan peran sebagai pelatih basket. Brandon Salim bagus juga aktingnya sebagai koordinator supporter, yang selalu berada di tribun penonton untuk memimpin teman-teman sekolahnya, menyemangati Dewa dan tim basket sekolahnya.

Kemudian, Ariyo Wahab yang berperan sebagai mantan petinju cukup menyakinkan. Meski porsi penampilannya sedikit, tapi cukup memberi arti pada film ini.

Terakhir, tentu saja Dodit Mulyanto, stand up komedian yang berperan sebagai Paman Dewa. Dodit mampu mencairkan suasana, bahkan meghidupkan film ini lebih hidup. Ia menjadi warna tersendiri yang membuat film ini lebih berwarna lagi.

Menyaksikan film produksi kerja sama Sinema Imaji, DBL Indonesia dan Shanaya Films ini, kita menjadi tahu bagaimana suka-duka siswa yang aktif main basket dan berjuang demi mengharumkan nama sekolahnya. Film ini bisa menjadi film Indonesia pertama yang mengangkat basket, yang jarang digarap sineas Indonesia.

Bang Ucup, sapaan akrab sutradara film ini, yang memang banyak menggarap film olahraga dan kini mengangkat basket tentu pasti diberi apresisi karena kiprahnya kali ini semakin memperkaya tema film Indonesia.

Baca Juga
Lihat juga...