Fuad Bawazier: Makin Banyak Orang Rindukan Orde Baru

Editor: Satmoko

517

JAKARTA – Fuad Bawazier, Menteri Keuangan Indonesia pada Kabinet Pembangunan VII, mengerti sekali sejarah perjalanan bangsa Indonesia yang mengalami jatuh-bangun hingga mencapai keemasan di zaman Orde Baru dengan prestasi pertumbuhan ekonomi sangat baik sampai swasembada beras.

Ia mampu menunjukkan peran besar Pak Harto yang sangat berjasa pada bangsa ini.

“Mengenang jasa HM Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Indonesia, riwayatnya sangat panjang, dimulai dari susahnya hidup pada tahun 1960-an dan puncaknya tahun 1965, mau itu pegawai negeri, tentara, sipil, petani, buruh, memang hidup susah. Makan sehari-hari susah, antri beli minyak, puncaknya adalah peristiwa G30S/PKI,“ kata Fuad Bawazier.

Lelaki kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 22 Agustus 1949 itu, menerangkan, ketika manusia sedang kebingungan, pada saat itu alhamdulillah sepertinya Allah menurunkan Pak Harto dengan gagah berani, menyikapi suasana yang sangat mencekam dan menegangkan. Karena pada waktu itu saling menghabisi.

“Dengan ketenangan dan ketegasan beliau mengatasi dua masalah yang sekaligus terjadi, masalah keamanan-politik dan masalah ekonomi yang susah makan. Saya masih ingat waktu makan sehari sekali, makan bubur, atau gaplek, singkong yang dikeringkan. Alhamdulillah anak generasi sekarang tidak mengalami, tapi kalau saya mengalami. Barangnya tidak ada, sulit dan mahal sekali, itulah krisis multi dimensi. Krisis yang padanannya seperti pada zaman penjajahan Jepang,“ terangnya.

Menurut Fuad, peristiwa G30S/PKI itu peristiwa perubahan zaman pada bangsa yang sangat penting karena melibatkan semua aspek baik ekonomi, politik, sosial, budaya dan pertahanan keamanan.

“Hanya figur yang luar biasa yang mampu mengatasi berbagai masalah. Setelah itulah, beliau mulai memerintah negara ini dari 1967 sampai 1997 kita menikmati kehidupan yang normal, aman, tenteram, damai sehingga beliau mendapatkan gelar oleh MPR sebagai Bapak Pembangunan,“ ungkapnya.

Seingat Fuad yang lama duduk dalam pemerintahan, Pak Harto orang yang sangat susah kalau mau dikasih gelar. Untuk gelar Honoris Causa sejenis itu sudah ia tumpuk banyak sekali, baik dalam maupun luar negeri, Pak Harto hanya senyum dan bilang nanti saja. Itu penolakan cara Jawa.

“Padahal sudah nyata, yang mau memberi gelar terus mendesak. Beliau tidak pernah mau menerima. Sebenarnya MPR memberi sebagai rasa syukur. Masyarakat sudah tenang hidup. Begitu beliau duduk dari inflasi yang tadinya 650 persen, turun menjadi pertumbuhan ekonomi 7 persen, susah dicari bandingannya di negara Asia Teggara,“ bebernya.

Memang kita memasuki era reformasi, yang bagi Fuad ada kelirunya, dengan mengobok-obok UUD 45. Dari situlah menimbulkan kesenjangan ekonomi.

“Kesenjangan nilainya naik. Kesenjangan memburuk  dominasi asing. Dulunya dikuasai Bank Indonesia sekarang dikuasai asing,“ ujarnya.

Bangsa Indonesia kini mengalami perjalanan perbaikan, menjadi tantangan kita bersama. Walaupun sekarang ada yang mau membolak-balik sejarah, misalnya peristiwa G30SPKI itu suka dibuat terbalik, yang pahlawan mau dijadikan korban atau pengkhianat.

Kini  orang selalu mengenang dan merindukan ketenangan kehidupan pada waktu zaman Orde Baru di masa pemerintahan Presiden Soeharto. “Mari kita doakan, jasa-jasa beliau menjadi ladang amal dan teladan kita,” tegasnya.

Bangsa yang baik adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. “Mari kita mendoakan Pak Harto atas jasa-jasanya, mudah-mudahan akan kembali zaman keemasan seperti zaman Orde Baru di negeri kita ini,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...