Gunakan Gelagar, Jalur Utara Flores Sudah Bisa Dilintasi Kendaraan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

232

MAUMERE — Jalur jalan trans utara Flores yang merupakan jalan strategis nasional tepatnya di cross way Dagemage desa Kolisia kecamatan Magepanda kini mulai bisa dilintasi kendaraan setelah sebelumnya terputus akibat dihantam banjir bandang.

“Ini sudah ketiga kalinya jalan tersebut kami perbaiki dan saat ini kami menggunakan Gelagar atau konstruksi baja atau beton yang membentuk bentangan jembatan. Kendaraan pun bisa lewat meski harus bergantian dan antri,” ujar Tommy Lameng, kepala dinas Pekerjaan Umum kabupaten Sikka, Kamis (1/3/2018).

Saat ditemui Cendana News, Tommy menjelaskan, saat pertama di bulan Januari 2018 kemarin, cross way Dagemage belum putus total dan masih bisa dilewati. Bagian selatan atau sebelah atas cross way dibuat jalan darurat namun saat banjir jalan tersebut pun rusak kembali.

“Tahap kedua kami membangun jalan darurat dengan menyusun batu di atas cross way dan menimbunnya agar kendaraan bisa lewat. Namun itu juga tidak bertahan lama dan saat banjir bandang jalan tersebut pun kembali rusak,” tuturnya.

Tahap ketiga lanjut Tommy, pihaknya meminjam 12 gelagar di Unit Pemeliharaan Rutin (UPR) Jalan Negara Dirjen Bina Marga di Maumere dan membangun jembatan darurat dan sudah bisa dilintasi kendaraan sejak Selasa (27/2/2018) walau harus bergantian.

“Jalur air dibagi tiga jalur yakni dua jalur lewat bagian bawah jembatan dan satu jalur lewat gorong-gorong di samping jembatan. Waktu hujan juga tidak masalah sebab jembatannya tinggi sehingga air tidak kena di jembatan,” ungkapnya.

Sudah dua hari lanjut Tommy, kendaraan bisa melintasi jalan ini dan hari ini Kamis (1/3/2018) jalan tersebut diratakan dan besok Jumat (2/3/2018) akan dirapikan dan diperkuat. Batu disusun di pangkuan gelagar agar bisa kuat dan tahan air saat terjadi banjir.

“Tadi saya juga sudah ditelepon oleh kepala BPBD Sikka agar pekerjaan harus dipercepat sebab setelah tanggal 6 sudah tidak bisa dikerjakan karena waktu tanggap darurat selesai. Kami selama empat hari ini terus bekerja dan menyusun gelagar jembatan,” urainya.

trans utara flores
Kepala dinas Pekerjaan Umum kabupaten Sikka Tommy Lameng. Foto : Ebed de Rosary

Meski hanya jembatan darurat papar Tommy, dinas PU kabupaten Sikka bekerja membangun jembatan yang kuat supaya saat terjadi banjir jalan tidak terputus kembali. Bila jalan putus maka yang susah masyarakat kabupaten Sikka sendiri dan juga kabupaten Ende dan Nagekeo yang suka melintasi jalan ini.

“Pihak provinsi katanya sedang membuat perencanaan dan paling lama tahun 2019 sudah bisa dibangun jembatan permanen. Kita berharap jembatan darurat yang dibangun bisa bertahan lama,” harapnya.

Sunardi Santoso salah seorang warga yang ditemui Cendana News mengakui, sejak jembatan ini rusak dirinya harus mengeluarkan uang sebesar 50 ribu rupiah untuk menyeberang jalan. Pungutan ini pun dirasakan sangat memberatkan dirinya bersama masyarakat lainnya yang sering melintas.

“Sekarang jalan ini sudah bisa dilintasi dan memang masih ada saja masyarakat yang meminta kami membayar 5 ribu ruopiah sebab lokasi jembatan darurat tersebut berada di lahan miliknya. Tapi kami juga tidak ada masalah yang penting bisa lewat bersama sepeda motor,” ungkapnya.

Sunardi yang sehari-hari berjualan keripik pisang hingga ke perbatasan kabupaten Ende ini ingin pemerintah segera membangun jembatan permanen agar masyarakat bisa melintas dengan aman dan nyaman tanpa ada pungutan liar seperti yang terjadi selama ini.

Baca Juga
Lihat juga...