Hadapi Ujian, Siswa Terdampak Banjir Belajar di Masjid

Editor: Koko Triarko

323

LAMPUNG — Sebanyak 80 siswa usia sekolah TK, SD, SMP hingga SMA di tiga Dusun di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, masih tinggal di sejumlah lokasi pengungsian, di antaranya tenda dan masjid.

Salah satu wali murid yang anaknya duduk di SMPN 1 Sragi, Firdaus, menyebut sejak satu pekan terakhir anaknya dan belasan anak usia sekolah belajar di Masjid Manbaul Huda yang digunakan sebagai lokasi mengungsi. Masa ujian midsemester genap hingga akhir pekan ini membuat orang tua ikut mendampingi anak belajar, meski di pengungsian.

Menurut Firdaus, anak-anak usia sekolah yang belajar di tenda pengungsian sempat terkendala pemadaman listrik pada Rabu (14/3) malam, sehingga sempat belajar menggunakan lampu emergency. Belajar di lokasi pengungsian, membuat sejumlah siswa bisa belajar bersama, karena tinggal dalam satu lokasi yang sama. Sebagian anak, bahkan berlatih mengerjakan soal ujian midsemester yang tengah dihadapi sepekan ini.

“Baru tahun ini anak-nak kami yang duduk di bangku sekolah tinggal di pengungsian bertepatan dengan masa ujian midsemester, dalam situasi permukiman dikepung banjir, meninggalkan rumah sementara waktu tinggal di masjid,” terang Firdaus, Kamis (15/3/2018).

Siswa sekolah yang akan menjalani ujian diantar orang tuanya menggunakan perahu karet milik polisi [Foto: Henk Widi]
Selain belajar di lokasi pengungsian saat malam hari dan tidur dalam kondisi tidak nyaman, para siswa juga harus selalu bangun subuh. Kegiatan rutin tersebut dilakukan karena fasilitas kamar mandi umum yang terbatas. Selain itu, para siswa harus berangkat sekolah menggunakan perahu karet, dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Salah satu siswa kelas VII yang tinggal di masjid sebagai lokasi pengungsian, Putri, mengaku belajar bersama kawan-kawannya untuk mempersiapkan ujian midsemester genap. Tinggal di pengungsian membuatnya bisa belajar bersama kawan-kawan. Ia bahkan bisa belajar pada kakak kelas yang melatih untuk persiapan ujian.

“Selain malam harus belajar di lokasi pengungsian, kami siswa sekolah harus bangun pagi, karena lokasi banjir sudah sedalam pinggang orang dewasa, sehingga kami diantar dengan perahu,” beber Putri.

Rini Ariasih, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Belasan siswa usia sekolah TK hingga SMA di Dusun Bunut Utara terbilang beruntung tinggal di masjid. Sebanyak 70 siswa usia sekolah di Dusun Umbul Besar bahkan harus tinggal di tenda terbuat dari terpal selama banjir.

Sebagian siswa, bahkan belajar dalam tenda sempit yang didirikan di lokasi tanggul penangkis. Tenda besar milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamsel  bahkan menjadi tempat belajar bersama siswa usia SD.

Sementara itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2PA) Kabupaten Lampung Selatan, sudah mendatangi korban banjir di Desa Bandar Agung tersebut.

Kepala Dinas P2PA kabupaten Lamsel, Rini Ariasih, saat dikonfirmasi Rabu (14/3) menyebut, sebagian anak usia sekolah yang tinggal di lokasi pengungsian telah mendapat perhatian dari pemerintah setempat dan pihak terkait. Antara lain dengan memberikan tenda-tenda pengungsian dari BPBD, Dinas Sosial Lamsel dan Polres Lamsel.

Selain itu, para siswa mendapat perhatian dengan fasilitas perahu karet milik BPBD Lamsel untuk mengantar siswa ke sekolah. Sebagian siswa sekolah harus berjalan kaki menempuh jalur darat yang rusak sekitar tiga kilometer. Meski demikian, sebagian siswa diantarkan melalui jalur air menggunakan perahu.

“Saya sudah berkomunikasi dengan dinas pendidikan dan sekolah untuk memberi toleransi waktu anak korban banjir jika ada yang terlambat tiba di sekolah,” beber Rini Ariasih.

Menurutnya, masa ujian sekolah midsemester genap membuat anak-anak perlu mendapat pendampingan khusus dari orang tua. Sebagian siswa usia SD merupakan siswa di MI Guppi 05 Bandar Agung yang harus berangkat sekolah tanpa alas kaki saat berangkat sekolah. Perhatian oleh P2PA juga diberikan dengan melakukan program trauma healing saat anak korban banjir ada di lokasi pengungsian.

Rini Ariasih menyebut, program trauma healing dilakukan dengan kegiatan bermain, belajar, membaca, melukis dan kegiatan seni yang dilakukan di tenda pengungsian. Selain itu, kegiatan bercerita untuk menghibur anak-anak dilakukan oleh Toni Fisher selaku fasilitator perlindungan anak terpadu Komisi Perlindungan Anak Lampung yang mengajak ana-anak bermain dan bercerita, bersama 34 orang dari tim dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Tunas Jaya kecamatan Sragi di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Lamsel.

“Setiap ada musibah banjir, anak-anak selalu mengalami dampak langsung terutama kegiatan belajar di sekolah dan juga selama berada di pengungsian, sehingga Dinas P2PA kabupaten Lampung Selatan langsung terjun memberikan trauma healing,” terang Rini Ariasih.

Menurutnya, kehadiran tim trauma healing untuk menghilangkan trauma terhadap anak-anak akibat bencana alam, memberikan hiburan kepada anak-anak secara psikososial. Trauma healing sangat penting agar kepanikan bisa berkurang, karena orang tua fokus pada menyelamatkan barang-barang sehingga perhatian untuk anak berkurang.

Kondisi anak-anak yang sudah beberapa hari berada di lokasi pengungsian, kata Rini Ariasih, kerap mengalami stress dan depresi. Selain tidur di lokasi pengungsian yang minim fasilitas dengan ketiadaan hiburan, di antaranya biasa menonton televisi seperti biasanya saat ada di rumah. Selain memberikan trauma healing kepada anak-anak pemberian konseling juga diberikan kepada orang dewasa yang juga berada di lokasi pengungsian.

Ia menyebut, trauma healing juga diberikan bertepatan dengan masa ujian midsemester sekolah, agar siswa mendapat dukungan dan agar tetap semangat dalam belajar.

Diberi dukungan dengan trauma healing tersebut diharapkan para siswa masih bisa menjalankan kegiatan belajar secara normal hingga ujian midsemester selesai.

“Langkah-langkah efektif dalam penanganan bencana, khususnya bagi anak-anak sangat diperlukan dengan melibatkan berbagai pihak,” terang Rini Ariasih.

Ia berharap, dengan adanya hiburan yang diberikan, anak-anak bisa dikuatkan secara psikologis agar tidak bersedih, karena mereka sudah bosan di pengungsian.

Selain itu, anak-anak juga mendapat makanan kecil, susu, serta keperluan belajar. Sementara kebutuhan untuk orang dewasa diberikan jatah berupa air mineral dan makanan instan.

Rini berharap, banjir di wilayah tersebut bisa segera berakhir, sebab selain mengganggu aktivitas dunia pendidikan juga mengganggu kagiatan warga terutama perempuan.

Kondisi sanitasi yang terbatas disebutnya sangat berpengaruh bagi perempuan dan anak-anak yang sebelumnya tinggal di rumah, lalu berada di pengungsian. Rini Ariasih juga mendorong kebutuhan air bersih tetap diberikan, agar siswa sekolah tetap bisa beraktivitas seperti hari normal.

Baca Juga
Lihat juga...