Harga Dinilai Murah, Petani Lombok Pilih Simpan Gabah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

248

LOMBOK — Meski panen telah berlangsung semenjak dua minggu lalu, sebagian petani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak langsung menjual, melainkan memilih menyimpan di gudang maupun lumbung padi.

Harga yang dinilai masih terlalu murah menjadi alasan sebagian besar petani tidak langsung menjual gabah miliknya, menunda penjualan sampai harga naik.

“Harga gabah sekarang masih terlalu murah, hanya Rp400.000 satu kwintal, makanya daripada dijual dengan harga murah, lebih baik disimpan dulu, sementara menunggu harga naik,” kata H. Sukar, petani Kabupaten Lombok Tengah, Senin (12/3/2018).

Ia mengatakan, petani bisanya baru akan menjual, kalau harga gabah mencapai Rp500.000 perkwintal. Menurutnya sekarang ini hanya padi merah yang harganya Rp500.000 satu kwintal.

Subhan, petani lain mengungkapkan, menyimpan dan menunda penjualan gabah, terutama bagi petani pedesaan memang sudah biasa dilakukan setiap tahun.

Pasalnya, kalau gabah hasil panen dijual dengan harga Rp400.000, jelas tidak menguntungkan bagi petani, jika dibandingkan dengan biaya dikeluarkan sampai masa panen.

“Untuk bisa menjadi padi, dari masa tanam hingga masa panen, selain memakan biaya besar, juga menguras tenaga, jadi untuk apa terburu – buru menjual padi dengan harga murah, lebih disimpan sampai menunggu harga mahal,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...