Harga Komoditas Pertanian di Pasar Tradisional Lamsel, Naik

Editor: Satmoko

305

LAMPUNG – Merangkaknya harga sejumlah komoditas pertanian mulai terjadi di sejumlah pasar tradisional yang ada di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel).

Menurut Sumini (40) salah satu pedagang di Pasar Tradisional Sidoasih, kenaikan sejumlah komoditas sayuran sudah terjadi sejak dua pekan terakhir. Hujan yang mengakibatkan kerusakan lahan pertanian di antaranya tanaman sayuran berimbas harga sudah naik di level petani.

Sumini menyebut, jenis sayuran yang merangkak naik di antaranya sawi semula seharga Rp3.000 per kilogram menjadi Rp4.000 per ikat, kentang semula seharga Rp13.000 per kilogram menjadi Rp15.000 per kilogram, seledri semula seharga Rp25.000 menjadi Rp39.000 per kilogram, terong semula seharga Rp4.000 menjadi Rp5.000 per kilogram. Cabai merah besar dari semula Rp40.000 menjadi Rp45.000 dan cabai rawit semula Rp25.000 menjadi Rp30.000.

Selain itu harga sayuran jenis kembang kol semula seharga Rp25.000 menjadi Rp29.000 per kilogram, kacang panjang semula seharga Rp4.000 menjadi Rp6.000 per kilogram. Tomat semula Rp4.000 menjadi Rp5.000 per kilogram.

Pedagang bumbu dapur, Mistinah, menjual berbagai bumbu dapur [Foto: Henk Widi]
“Kami para pedagang menaikkan harga karena dari petani harga sudah melonjak dengan kondisi hujan yang terus terjadi selama beberapa pekan terakhir, termasuk proses distribusi yang terhambat dari wilayah lain,” tutur Sumini, salah satu pedagang sayuran di Pasar Tradisional Sidoasih Kecamatan Ketapang, saat ditemui Cendana News, Sabtu (24/3/2018).

Sumini mengungkapkan, kenaikan komoditas sayuran masih akan berpotensi terjadi akibat hujan masih mengguyur sebagian wilayah Lampung Selatan. Sejumlah sayuran disebutnya bahkan terpaksa didatangkan dari sentra pertanian sayuran lain di antaranya wilayah Liwa kabupaten Lampung Barat dan Gisting Kabupaten Tanggamus. Sejumlah sayuran yang dipasok dari luar daerah untuk memenuhi stok barang yang dijual karena pasokan dari wilayah Lampung Selatan minim.

Minimnya pasokan sayuran dari Lampung Selatan diakui Sumini karena sebagian wilayah terimbas banjir luapan Sungai Way Pisang dan Way Sekampung. Wilayah penghasil sayuran disebutnya berada di Kecamatan Palas, Sragi dan Candipuro masih terimbas banjir dengan kerusakan pada lahan pertanian khususnya sayuran. Sejumlah petani yang masih bisa menanam sayuran sebagian memanfaatkan tanggul dan lahan yang berada jauh dari area terdampak banjir.

Dwi Utari (kanan), PPL UPTD TPHBun Kecamatan Ketapang melakukan pemanenan cabai milik kelompok tani Persada Mandiri Desa Karangsari Kecamatan Ketapang [Foto: Henk Widi]
Meski mengalami kenaikan pada beberapa komoditas, sejumlah komoditas disebut Sumini justru mengalami penurunan. Penurunan terjadi pada jenis beras biasa Rojolele semula seharga Rp12.500 kini hanya dijual seharga Rp11.000 per kilogram, telur ayam negeri semula Rp13.000 menjadi Rp12.000, dan gula merah semula Rp12.000 menjadi Rp11.000 per kilogram. Jenis kebutuhan dapur lain diakuinya mengalami kenaikan dan penurunan beragam dari kisaran Rp500 hingga Rp1000 per kilogram.

Selain pedagang sayuran, pedagang bumbu dapur bernama Mistinah (50) mengungkapkan, kenaikan bumbu dapur terjadi sejak dua pekan terakhir. Jenis bumbu dapur berupa kencur semula seharga Rp30.000 menjadi Rp40.000 per kilogram, laos semula Rp5.000 menjadi Rp6.000 per kilogram, kunyit semula seharga Rp4.000 menjadi Rp6.000, jahe sebelumnya Rp12.000 menjadi Rp16.000 per kilogram.

“Kebutuhan bumbu umumnya banyak diminta oleh ibu rumah tangga dan juga para pemilik usaha rumah makan, selain itu pembuat jamu tradisional juga kerap membeli,” terang Mistinah.

Kenaikan sejumlah hasil pertanian berupa sayuran dan bumbu disambut positif oleh sejumlah petani yang ada di wilayah Kecamatan Ketapang. Dwi Utari, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Unit Pelaksana Teknis Daerah Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (UPTD TPHBun) Kecamatan Ketapang menyebut, musim hujan ikut berdampak pada budidaya tanaman sayuran.

Imbas musim hujan disebutnya menyulitkan petani dalam perawatan, panen dan distribusi sehingga kenaikan harga cukup wajar. Sebagai pembina dari sebanyak 3 kelompok tani di Desa Lebungnala, Pematangpasir dan Karangsari dengan luasan lahan di atas enam hektar, ia mengaku, sebagian petani tengah memasuki masa panen. Meski demikian, hujan cukup menghambat proses pemanenan dan berisiko membuat cabai dan tomat busuk.

Areal pertanian tomat milik Poktan Setia Tani Desa Lebungnala Kecamatan Ketapang [Foto: Henk Widi]
“Petani cabai dan tomat yang saya dampingi sebagian mengeluh kondisi cuaca saat panen sehingga mereka berharap harga membaik,” beber Dwi Utari.

Dwi Utari yang mendampingi salah satu kelompok tani Persada Mandiri di Desa Karangsari menyebut, harga ideal cabai merah mencapai Rp35.000. Harga tersebut diakuinya sudah bisa menutupi biaya modal dan perawatan karena jika harga di bawah tersebut petani dipastikan merugi. Sebagai PPL ia terus melakukan pendampingan untuk melakukan penanganan pra dan pasca-panen sehingga petani cabai masih bisa memperoleh keuntungan.

Salah satu upaya pendampingan diakuinya dengan menghitung masa tanam dengan prediksi masa panen bertepatan dengan tingkat kebutuhan yang tinggi. Jelang Ramadan dan hari raya Idul Fitri, ia menyebut, penanaman komoditas cabai dan sayuran sangat dianjurkan. Pola penanaman berdasarkan waktu tersebut membuat kelompok tani yang dibinanya sukses sebagai pembudidaya sayuran.

Baca Juga
Lihat juga...