Harga Sayuran di Lampung Mulai Naik Akibat Banjir

Editor: Koko Triarko

724

LAMPUNG — Curah hujan yang masih tinggi berdampak banjir dan genangan air pada lahan pertanian di wilayah Lampung Selatan, membuat harga sayuran melonjak. Pasokan dari luar daerah yang menyusut juga mengakibatkan harga sayuran di sejumlah pasar tradisional kian terdongkrak.

Pedagang berbagai jenis sayuran dan bumbu dapur, Umini (40), mengaku kenaikan terjadi pada sejumlah sayuran yang dipasok dari sentra pertanian di Lampung Selatan, di antaranya Kalianda, Way Panji, Palas, Sragi dan Ketapang.

Umini menyebut, harga sayur yang naik di antaranya seledri, sawi, tomat, daun bawang serta hampir sebagian besar jenis sayuran lain.

Lahan pertanian yang terendam air  dan mengakibatkan gagal panen menjadi pemicu harga naik di tingkat penjual. Selain kerusakan pada lahan pertanian, faktor distribusi terhambat akibat kerusakan jalan dan banjir penyebab akses jalan terputus ikut menyumbang kenaikan harga sayuran.

“Sebagian sayuran lokal didatangkan dari wilayah Lampung Barat dan Tanggamus, sementara sepanjang bulan Maret banjir melanda wilayah tersebut sebagian memutus akses jalan imbasnya distribusi terhambat,” terang Umini, di pasar tradisional desa Pasuruan, Penengahan, Jumat (9/3/2018).

Umini menyebut, sifat sayuran yang tidak bisa bertahan lama dan cepat membusuk membuat harga lebih mahal. Pasokan yang berkurang terutama pada jenis kubis atau kol dari Gisting, Kabupaten Tanggamus dan Liwa, Lampung Barat, membuat harga semula Rp4.000 menjadi Rp5.500 per kilogram. Daun bawang dari semula seharga Rp7.000 sekarang dijual dengan harga Rp8.000 per kilogram.

Harga daun seledri semula dari Rp20.000 menjadi Rp25.000 per kilogram, tomat semula Rp5.000 naik menjadi Rp7.000, cabai merah dari Rp30.000 menjadi Rp35.000.

Sejumlah sayuran lain seperti tomat, kentang, kacang panjang, bayam, kangkung, terong, serta sejumlah sayuran mengalami kenaikan harga berkisar Rp2.000 hingga Rp5.000 per kilogram.

“Kenaikan harga merata di sejumlah pasar tradisional dan ini wajar, karena memang akibat hujan dan banjir mengganggu stok dan distribusi, sudah hukum ekonomi pasokan sedikit harga naik,” beber Umini.

Pedagang lain di pasar tradisonal Pasuruan, Ida (30), juga menyebut kenaikan harga dilakukan karena dari petani dan distributor harga sudah naik. Kenaikan akibat biaya operasional pendistribusian yang naik dari kerusakan jalan serta lahan pertanian yang rusak.

Meski harga naik, Ida mengaku belum berpengaruh pada penghasilannya sebagai pedagang sayur. “Harga nominalnya memang besar, namun dari barang yang saya jual khususnya sayuran kerap tidak terjual semua sehingga kerap membusuk dan tidak terjual,” beber Ida.

Kenaikan harga tersebut, juga disebabkan cuaca ekstrem, salah satunya banjir. Ia mengaku cukup wajar harga naik karena sebagian petani penanam sayuran bahkan bisa mengalami kerugian lebih besar dan hanya sebagian sayuran bisa terjual. Selain membusuk akibat genangan air, sebagian sayuran bahkan tidak terjual saat sudah berada di pasar.

Salah satu penanam sayuran jenis tomat, bawang merah dan cabai merah di Desa Ruguk, Ketapang, Hendra (40), mengakui kenaikan harga sayuran tersebut. Meski sudah membuat tanggul dan guludan, namun hujan dan banjir membuat produktivitas sayuran miliknya berkurang.

Selain membusuk akibat curah hujan tinggi, sebagian sayuran terpaksa dipanen lebih dini menghindari kerugian lebih banyak.

Baca Juga
Lihat juga...