banner lebaran

Haryono Suyono: Posdaya Mendapat Perhatian Dunia Internasional

Editor: Mahadeva WS

428
Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D - Foto : M. FAHRIZAL

JAKARTA – Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), adalah sebuah program yang pada awalnya merupakan binaan Yayasan Damandiri. Lahirnya Posdaya diawalnya, saat Yayasan Damandiri membantu mahasiswa-mahasiswa dari keluarga miskin.

Mantan Menko Kesra Kabinet Reformasi Pembangunan Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D. menyebut, Posdaya lahir mengikuti apa yang sering dilakukan Presiden Soeharto yang senang membantu keluarga miskin. Bantuan yang diberikan adalah untuk ujian masuk perguruan tinggi melalui kursus Bahasa Inggris dan matematika, hingga ke proses pendaftaran masuk Perguruan Tinggi.

“Dari membantu mendaftarkan ke perguruan tinggi itulah akhirnya saya banyak bergaul dan berkenalan dengan rektor dan dosen. Selanjutnya saya meminta kepada perguruan tinggi perguruan tinggi agar anak-anak miskin itu diberikan kompensasi, jikalau kurang sedikit nilainya tetap di masukkan supaya banyak anak miskin yang jika selesai dan menjadi sarjana tentunya akan mengangkat orangtuanya,” tuturnya.

Dari pendekatan yang dilakukan, apa yang ditawarkan akhirnya mendapatkan persetujuan. Dalam hal masuk ujian perguruan tinggi dengan jika nilainya kurang-kurang sedikit mahasiswa dari keluarga miskin ini tetap dimasukkan.

Proses komunikasi berlanjut hingga para Rektor menjelaskan bahwa di perguruan tinggi juga ada kegiatan mahasiswa masuk desa. Kegiatan tersebut kemudian dimanfaatkan dengan cara para mahasiswa diminta membangun kelompok-kelompok desa. Metode pengelompokan dengan cara mencampurkan keluarga miskin dan keluarga kaya ke dalam satu kelompok pemberdayaan yang diberi nama pos pemberdayaan keluarga.

“Nama pos Pemberdayaan Keluarga digunakan karena dulunya saya membentuk Keluarga Berencana (KB) dan teringat dengan nama pos KB yang tujuannya untuk meng KB kan keluarga yang belum KB, sedangkan pos pemberdayaan keluarga bertujuan untuk memberdayakan keluarga miskin untuk menjadi sejahtera,” tambah lelaki yang juga dikenal sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan program terkenal program Keluarga Berencana tersebut.

Pos Pemberdayaan Keluarga tersebut didukung beberapa rektor. Kegiatannya dimulai di daerah Banyumas oleh Universitas Jendral Sudirman, kemudian di Yogyakarta, dan disusul di daerah-daerah lain dengan program KKN Posdaya yang akhirnya menyebar hingga ke 475 Perguruan Tinggi yang ikut bergabung.

Yayasan Damandiri kemudian membuat Mou dengan perguruan tinggi agar selalu mengadakan program KKN Posdaya. Pembiyaan KKN Psodaya biaya ditanggung oleh Perguruan Tinggi karena memiliki dana untuk mengirim mahasiswanya. Sedangkan Yayasan Damandiri mengirimkan wakil pada saat pembekalan kepada mahasiswa, menjelaskan perihal apa itu posdaya dan programnya seperti apa.

Program yang dijelaskan dalam pembekalan merupakan program untuk membantu agar pemerintah memiliki program yang lebih bagus lagi. Yayasan Damandiri mengambil program yang dicanangkan PBB yakni Millenium Development Goals (MDGs) dengan kriteria-kriteria yang sudah tertuang didalamnya.

“Kriteria-kriteria itulah yang Yayasan Damandiri terjemahkan dan kita berikan kepada mahasiswa, agar jika berhasil di Indonesia akan mengangkat nama Indonesia sebagai pelaksana MDGs. Pada waktu itu pemerintah sendiri belum paham benar tentang MDGs yang dicanangkan PBB sehingga kita tularkan atau kita sampaikan ke sekitar 450 lebih Perguruan tinggi dengan MDGs dan diturunkan ke desa. Apa yang kita lakukan mendapatkan perhatian Internasional yang sangat luar biasa. Internasional menghargai kita sebagai pelaksana MDGs di desa,” tuturnya mengakhiri obrolan santai bersama Cendana News.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.