Hasil Tangkapan Cumi di Kalianda, Melimpah

Editor: Koko Triarko

190

LAMPUNG — Melimpahnya hasil tangkapan nelayan bagan apung atau bagan ponton dan bagan congkel di Kalianda, membuat pasokan cumi di sejumlah pelelangan ikan membludak.

Pemilik bagan apung di Dermaga Bom Kalianda, sekaligus pembuat ikan asin, Misri (60), menyebut hasil tangkapan cumi mulai meningkat sejak tiga pekan terakhir. Tangkapan cumi mencapai 5 hingga 6 kuintal kerap berbarengan dengan proses penangkapan ikan teri jengki hingga mencapai 1 ton.

Hasil tangkapan cumi yang sudah melalui proses penyortiran akan dijual ke pelele atau penjual ikan keliling. Pada musim cumi melimpah, ia menyebut dari para nelayan tangkap dan pemilik bagan cumi dijual seharga Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Harga bahkan bisa turun saat sejumlah nelayan menangkap cumi dalam jumlah lebih banyak pada musim cumi di perairan Kalianda Lampung Selatan.

“Pada musim cumi kami menggunakan sistem obor, terutama saat bulan mati atau sinar bulan minim, lebih mudah menangkap mempergunakan bagan dan alat tangkap cumi hasilnya bisa mencapai satu ton dari sejumlah nelayan,” terang Misri, Selasa (27/3/2018)

Misri yang berasal dari Jakarta Utara dan menetap di Kalianda menyebut, sebagian cumi basah dikirim ke Muara Baru untuk dijual di wilayah Jakarta. Sebagian hasil tangkapan cumi, ikan teri jengki, selar, lemuru, tembang dan ikan japu dijual ke produsen ikan teri dan ikan asin rebus.

Misri, pemilik usaha pembuatan teri dan ikan asin rebus di kelurahan Way Urang kecamatan Kalianda melakukan pemilihan teri yang sudah kering. [Foto: Henk Widi]
Meski memiliki bagan apung, Misri menyebut tidak pernah serakah untuk mengolah hasil tangkapan bagan miliknya. Dua bagan miliknya saat musim teri dan musim cumi bahkan menghasilkan sekitar enam kuintal hingga satu ton tangkapan ikan teri serta berbagai jenis ikan lain termasuk cumi.

Sebagian hasil tangkapan disebutnya didistribusikan ke pembuat teri lain dengan harga jual Rp180.000 hingga Rp200.000 untuk satu cekeng atau keranjang buah dengan berat sekitar 15 kilogram. Sementara jenis bahan baku ikan asin, di antaranya selar, lemuru, tembang dan ikan japu dijual dengan harga Rp150.000 percekeng.

Distribusi ke sejumlah pemilik usaha ikan asin diakuinya untuk menghidupkan sektor usaha kecil pengolahan teri. “Saya sejak di Jakarta Utara selalu dilatih oleh orang tua untuk berbagi, dan dalam usaha kecil pengolahan ikan harus memperhatikan juga perajin lain agar tetap beroperasi,” ungkapnya.

Meski menjadi salah satu pemilik usaha teri, ikan asin rebus terbesar, Misri mengaku tetap menggandeng sejumlah perajin untuk tetap berproduksi. Dalam kondisi sepi tangkapan ikan akibat cuaca buruk, angin kencang dan gelombang Misri mengaku hanya bisa memproduksi sekitar lima hingga enam kuintal teri jengki dan ikan asin rebus. Sementara saat hasil tangkapan melimpah, sehari bisa mengolah sekitar satu ton teri dan ikan asin rebus.

Setelah proses perebusan menggunakan candang berupa keranjang bambu, proses selanjutnya dibantu enam pekerja teri dan berbagai ikan dijemur di atas laha. Laki-laki dengan logat khas Betawi tersebut mengaku memiliki sebanyak 500 laha yang digunakan untuk menjemur teri dan ikan asin rebus. Butuh proses sehari penuh proses penjemuran dalam kondisi cuaca panas matahari maksimal.

Tiga pekan terakhir, Misri dominan membuat ikan asin dari ikan lemuru, tembang, japu dan cumi. Cumi hasil tangkapan yang melimpah merupakan proses penyortiran jenis cumi yang kecil dan dimasukkan bersama dengan teri dan ikan asin jenis lain.

Dalam kondisi basah, cumi disebutnya hanya maksimal bisa dijual seharga Rp30.000, namun dalam kondisi kering bisa dijual hingga Rp50.000 per kilogram.

“Nilai jual yang tinggi hasil pengeringan cumi asin setelah direbus, sekaligus membuat produsen teri memiliki pendapatan yang meningkat,” terang Misri.

Kondisi tersebut juga tidak akan bisa diperoleh saat hasil tangkapan cumi menurun.

Selain cumi asin yang telah dikeringkan, jenis teri jengki rebus dijual seharga Rp60.000, ikan asin tembang, japu dan lemuru dijual seharga Rp50.000 per kilogram. Menghasilkan sekitar 10 kuintal ikan teri, ikan asin rebus, Misri mengaku dengan harga jual Rp50.000 ia bisa memperoleh omzet sekitar Rp50 juta dari hasil pengolahan ikan teri,i kan asin dan cumi setiap dua pekan sekali.

Hasil penjualan tersebut diakuinya dipergunakan untuk biaya operasional bagan, upah karyawan serta operasional harian sekaligus menutup biaya sewa tempat.

Pengepul teri, ikan asin rebus, cumi asin kering disebutnya kerap datang saat hasil ikan teri sudah siap dikirim dalam kemasan-kemasan siap kirim. Khusus untuk jenis cumi kering pada musim tangkapan banyak, Misri mengaku kerap memperoleh sekitar 200 kilogram cumi kering.

Harga yang menjanjikan disebutnya membuat produsen teri memilih mengolah cumi basah menjadi cumi asin dan dijual dalam kondisi kering. “Selain cumi yang dikeringkan lebih awet dan harga jualnya lebih tinggi, cumi basah yang kerap dijual berukuran lebih besar,” cetus Misri.

Selain menguntungkan, Misri mengaku dengan membuat tempat perebusan teri, ikan asin rebus dirinya menyebut ikut memberdayakan masyarakat di sekitar kelurahan Way Urang. Pascaadanya perebusan teri dan ikan asin, banyak warga yang bekerja dan memperoleh penghasilan dari sektor pengolahan teri dan ikan asin rebus.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.