Himaprodi Sastra Cina FIB UB Berbagi Keceriaan di Perayaan Cap Go Meh

Editor: Irvan Syafari

598

MALANG — Cap Go Meh merupakan tradisi yang melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek yang rutin dirayakan komunitas Tionghoa di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Berbagai acarapun digelar untuk memeriahkan perayaan tersebut, seperti halnya yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi) Sastra Cina (LONGWENXI) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB).

Ketua pelaksana, Salsabilla Jihan, mengatakan jika selama ini Cap Go mMh identik dengan gelaran festival dan pertunjukkan Barongsai, tahun ini ia ingin membuat sesuatu yang berbeda yakni dengan acara tukar kado dan bakti sosial kepada 30 anak Yatim Piatu.

“Karena saat ini kami tidak memungkinkan untuk menggelar festival atau mendatangkan Barongsai, jadi kami ganti dengan acara bakti sosial membagikan angpao, alat tulis dan sembako kepada anak-anak Yatim Piatu dari Panti Asuhan Siti Hajar, yang tujuannya adalah berbagi keceriaan sekaligus kebahagiaan, “jelasnya.

Tidak hanya itu, perayaan Cap Go Meh kali ini juga diadakan acara tukar kado antar mahasiswa Sastra Cina.

” Jadi setiap mahasiswa yang datang diwajibkan membawa kado untuk nantinya saling tukar dengan harapan mempererat kebersamaan di antara mahasiswa Sastra Cina, “terangnya.

Lebih lanjut, Wakil Dekan Syariful Muttaqin, yang turut hadir dalam acara tersebut mengaku sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Himaprodi Sastra Cina dalam perayaan cap go meh kali ini. Menurutnya, di Indonesia ada beberapa perayaan tahun baru yakni, Tahun Baru Masehi, Hijriah dan Imlek. Dan perayaan Cap Go Meh ini adalah perayaan hari ke 15 yang merupakan acara terakhir dari rangkaian perayaan tahun baru Cina atau Imlek.

“Mudah-mudahan melalui acara cap go meh ini kita bisa terus berbagi kebahagian kepada semua orang, “ujarnya.

Sementara itu salah satu dosen Sastra Cina, yang juga menjadi pembicara dalam acara tersebut, Nurila Shanti Octavia, menceritakan asal usul perayaan hari ke 15 yang biasa disebut Cap Go Meh.

Menurutnya sejarah Cap Go Meh sendiri merupakan hari di mana Kaisar Langit ingin membakar bumi sebagai bentuk kemarahannya karena binatang peliharaannya yang dibunuh oleh penduduk Tiongkok.

Agar bumi tidak jadi di bakar, jadi penduduk Tiongkok akhirnya berinisiatif setiap hari ke 15 di tahun baru Imlek, mereka memakai baju berwarna merah, menghidupkan petasan serta obor yang bertujuan untuk mengelabuhi Kaisar langit.

“Jadi dengan mereka menghidupkan petasan dan obor, Kaisar langit akan mengira bahwa bumi sudah terbakar, padahal sebetulnya tidak,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...