Hindari Kerugian, Petambak Udang Lamsel Panen Dini

Editor: Irvan Syafari

389

LAMPUNG —Belum cukup was was petambak tradisional udang vaname (litopenaus vannamei) akibat serangan penyakit white spot berimbas kematian pada udang, petambak kembali mengalami kerugian akibat banjir luapan Sungai Way Sekampung.

Budiman (40), salah satu warga Bunut pemilik lahan tambak udang vename di Dusun Umbul Besar, Desa Bandar Agung mengaku terpaksa melakukan panen parsial dini udang vaname miliknya. Tambaknya terdampak luapan Sungai Way Sekampung.

Pada kondisi normal udang vaname diakuinya dilakukan metode panen parsial (bertahap) pada usia 60 hari dengan size 100 atau 10 gram per ekor. Namun akibat banjir risiko kerugian lebih besar, akibat air sungai masuk ke tambak.

Akhirnya ia memanen udang miliknya pada parsial kedua saat usia sekitar 75 hari. Meski hasilnya hanya udang dengan size 70 dengan berat 15 gram per ekor.

“Para pekerja menggunakan jaring untuk memanen selanjutnya dibawa menggunakan blong atau drum plastik dengan mengapungkan di air karena kendaraan sudah tidak bisa masuk ke area tambak dengan kedalaman air sudah selutut,” tutur Budiman saat ditemui Cendana News dalam proses panen parsial dini di dusun Umbul Besar desa Bandar Agung, Senin (12/3/2018)

Budiman mengalami kerugian cukup besar hingga puluhan juta karena dirinya masih memiliki waktu hingga udang berumur 90 hari. Parsial ketiga pada umur 90 hari disebutnya dengan ukuran 17 gram per ekor atau size 57 hingga panen total sudah tidak bisa dilakukan. Padahal ia menyebut harga udang vaname berkisar mulai dari Rp70.000 hingga Rp80.000 saat panen puncak. Namun akibat panen parsial dini terpaksa harga udang vaname hanya berkisar Rp50.000 hingga Rp60.000 sesuai ukuran.

Budiman menyebut sudah melakukan antisipasi dengan peninggian tanggul dan pemasangan jaring di sekeliling kolam. Namun upayanya tidak dapat mengatasi luapan Sungai Way Sekampung. Dia terpaksa melakukan panen parsial sejak Kamis (9/3) berturut turut dengan sekali panen memperoleh sekitar dua kuintal. Pada panen terakhir Senin (11/3) dirinya menyebut hanya memperoleh total keseluruhan sekitar 9 kuintal panen udang vaname.

“Sebagian udang sudah tidak bisa diselamatkan karena terbawa arus dan mudah mudahan nanti saat banjir surut bisa dikuras masih ada udang di petak tambak saya,” ujarnya.

Petambak tradisional lainnya Tana, Warto serta sejumlah petambak udang dan bandeng juga terkena dampak meluapnya Sungai Way Sekampung ke area tambak. Banjir yang membuat budi daya tambak udang vaname dan bandeng merugi, diestimasikan mencapai puluhan juta rupiah. Estimasi tersebut diakuinya dihitung dari biaya penyiapan bibit, pakan serta biaya perawatan selama berada di kolam.

Sejumlah tambak terimbas paling langsung merupakan tambak yang berada di luar tanggul penangkis dari Dusun Umbul Besar hingga Dusun Paret 1, Paret 2, Paret 3 hingga Paret 4.

Sebagian besar petambak yang berada di dalam tanggul penangkis bahkan masih tetap was was jika luapan Sungai Way Sekampung melimpah ke area pertambakan udang vaname dan bandeng yang ada di dalam tanggul penangkis.

Pada pedagang pakan udang dan bandeng di wilayah desa Bandar Agung juga terkena imbasnya. Hujan selama lebih dari sepekan disebut Udin, salah pengecer pakan udang ikut berpengaruh pada pedagang pakan udang seperti dirinya. Semenjak banjir selama sepekan sejumlah pemilik tambak disebutnya dominan melakukan panen dini untuk menghindari kerugian.

“Jika cuaca baik tentunya akan banyak permintaan pakan udang namun selama musim hujan dan banjir permintaan pakan justru turun,” kata Udin.

Udin mengaku stok pakan udang di toko miliknya mencapai dua ton dari berbagai merek. Pakan udang yang disediakannya berupa klumbe untuk bibit udang usia hingga satu minggu dan pelet untuk pakan udang usia lebih dari satu minggu.

Udang vaname normal dipanen usia tiga bulan terpaksa dipanen pada usia satu bulan akibat banjir -Foto: Henk Widi.

Jenis pakan udang nomor 0 sampai 3 dijual dalam ukuran 10 kilogram hingga 25
kilogram. Ia menyebut harga pakan dijual mulai dari Rp15.000 hingga Rp355.000 sesuai ukuran dan merek.

Turunnya permintaan pakan disebut Udin karena sebagian warga lebih memilih fokus mengurusi keluarga masing masing. Akibat banjir tersebut Udin bahkan menyebut warga pemilik tambak lebih fokus mengungsi dibandingkan mengurusi tambak. Dampaknya sebagian warga di dusun Umbul Besar, yang kerap membeli pakan udang mulai menurun.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.