Hujan Deras, Jalan Dua Desa Terputus, Rusak Lahan Pertanian

Editor: Satmoko

195

LAMPUNG – Hujan deras selama semalaman sejak Minggu malam (4/3) hingga Senin pagi (5/3) berimbas Sungai Way Pisang di Kecamatan Penengahan meluap.

Akibat luapan Sungai Way Pisang akses dua desa di antaranya Desa Sukabakti dan Desa Ruang Tengah, serta Desa Rawi terputus. Akses jalan terputus tersebut merupakan jalur utama warga yang akan beraktivitas dihubungkan dengan jembatan permanen sekitar sepuluh meter.

Hendra (34) salah satu warga Dusun Selapan Desa Rawi menyebut, tidak bisa menyeberang ke Desa Sukabakti karena luapan sungai mencapai 300 meter dengan kedalaman air mencapai dua hingga tiga meter. Ia bahkan terpaksa harus memutar dengan melintasi jembatan Rantau Makmur meski harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk mengantar anaknya sekolah di salah satu SMP.

“Tidak tahu kalau sungai meluap karena memang semalam memang hujan sangat deras. Imbasnya saya harus berjalan memutar untuk mengantar anak saya sekolah sekaligus menjemputnya,” terang Hendra, salah satu Dusun Selapan Desa Rawi Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News di tepi Sungai Way Pisang, Senin (5/3/2018).

Selain memutus akses jalan sejumlah petani penanam jagung dan sayuran di wilayah perbatasan Kecamatan Penengahan dan Palas bahkan mengalami lahannya terendam banjir.

Salah satu siswa MTS Negeri 2 Sukaraja Lampung Selatan terpaksa tidak berangkat sekolah alibat banjir memutus akses jalan [Foto: Henk Widi]
Menik (30) salah satu penanam sayuran bayam, mentimun, pare dan terong menyebut, mengalami kerugian jutaan rupiah. Kerugian tersebut diakuinya akibat sayuran siap panen dipastikan membusuk akibat terendam luapan air sungai berlumpur.

Banjir yang melanda akibat luapan Sungai Way Pisang diakui Menik sudah kerap terjadi setiap hujan deras meski kini terbilang cukup parah. Pada tahun sebelumnya banjir yang melanda wilayah tersebut hanya meluap hingga 100 meter dari bantaran sungai dan kini meluap hingga 300 meter. Dipastikan tanaman sayuran yang ditanam olehnya tidak bisa dipanen terlebih akibat terendam air sungai yang kemungkinan akan surut setelah satu hari.

“Petani masih tetap was-was banjir susulan masih akan terjadi karena hujan masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan ke depan,” beber Menik.

Selain Menik, petani lain bernama Sukidi (40) memastikan mengalami kerugian jutaan rupiah akibat tanaman jagung berusia 20 hari miliknya diterjang banjir. Kerugian tersebut dari proses pemupukan yang dilakukan sehari sebelumnya sebanyak empat kuintal pupuk SP36, Phonska dan Urea. Akibat banjir tersebut pupuk yang sudah ditebar bahkan hilang terbawa banjir.

Selain pupuk yang hilang, bibit sebanyak 20 kilogram atau empat kampil dengan harga per kampil Rp400 ribu bahkan dipastikan rusak. Kerusakan selain terbawa arus juga dengan terendam air banjir mengakibatkan bibit jagung yang sudah tumbuh membusuk. Ia memastikan harus melakukan penanaman kembali dengan bibit baru.

“Saya harus merombak tanaman jagung yang saya tanam akibat banjir karena jika terendam selama dua hari dipastikan tanaman jagung membusuk,” beber Sukidi.

Berbeda dengan Sukidi, petani lain bernama Sapon yang menanam jagung siap panen bahkan terendam banjir. Jagung yang sudah ditebang tersebut sebagian sudah hanyut terbawa arus banjir yang melanda bantaran Sungai Way Pisang. Sementara jagung yang bisa dikupas dipastikan akan berkecambah jika tidak segera dijemur.

Petugas UPT Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kecamatan Penengahan membersihkan saluran irigasi [Foto: Henk Widi
Jagung yang akan dipanen dengan hasil rata-rata dua ton tersebut diakuinya baru pertama kalinya terendam banjir. Ia berharap banjir segera surut karena bisa mengakibatkan kerugian petani di Desa Sukabakti dan sebagian warga lain yang ada di bantaran Sungai Way Pisang. Petani terimbas banjir di antaranya di Desa Rawi dan Desa Ruang Tengah dengan desa kantong yang ada di wilayah berbatasan dengan Kecamatan Palas.

Selain merusak lahan pertanian dan menghambat akses jalan, banjir dari luapan Sungai Way Asahan juga merusak lahan pertanian padi sawah. Lahan pertanian sawah di Desa Kelau dan Desa Pasuruan bahkan roboh diterjang banjir. Petugas dari UPT Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kecamatan Penengahan pun bahu membahu membersihkan saluran irigasi.

Saluran air irigasi dan luapan Sungai Way Asahan bahkan merobohkan hektaran sawah di sepanjang bantaran sungai. Barjani, petugas pengairan dari UPT Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang mengaku, banjir mengakibatkan sampah dari material kayu menerjang areal lahan sawah. Padi yang roboh dipastikan akan mengurangi produksi padi yang memasuki masa berisi tersebut.

“Kami petugas dari dinas pekerjaan umum dan tata ruang dibantu petani membersihkan saluran irigasi agar air bisa lancar,” beber Barjani.

Barjani menyebut, akibat hujan deras semalaman dan sampah yang dibuang warga mengakibatkan saluran air tersumbat. Imbasnya, kerugian akibat robohnya padi di lahan sawah mengakibatkan kerugian jutaan rupiah. Potensi banjir di Sungai Way Asahan dan saluran irigasi masih akan terjadi akibat hujan kerap terjadi.

Baca Juga
Lihat juga...