IAIN Bukittinggi jadi Sorotan ‘Kekang’ Hak Muslimah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

548

PADANG — Perguruan Tinggi Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, Sumatera Barat, baru-baru ini sontak membuat dunia pendidikan Islam heboh.

Semenjak adanya surat edaran yang dikeluarkan oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang salah satunya isinya menyatakan agar tidak melanggar kode etik berpakaian, dan diminta supaya tidak becadar/masker/penutup wajah, membuat seorang dosen diberikan teguran.

Surat edaran itu ditanda tangani langsung oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi, Nunu Burhanuddin Lc, M.Ag per tanggal 20 Februari 2018.

Akibat dari surat edaran itu, Dr. Hayati Syafri, dosen Bahasa Inggris di Fakultas Tarbiyah yang aktif mengajar sejak tahun 2007 tidak diberikan jam mengajar.

Dr. Hayati Syafri menceritakan, dirinya baru mengenakan cadar sejak penghujung tahun 2017 lalu. Meski sudah menjadi dosen sejak tahun 2007 lalu, hatinya baru terpanggil untuk mengenakan cadar, belum lama ini.

Sebelumnya dirinya memilih mengenakan cadar, ia mengaku telah mengetahui tentang kode etik dosen itu. Namun untuk menuju jalan menegakkan syariat Islam, dirinya datang menemui petinggi kampus IAIN Bukittinggi, untuk meminta pendapat dan izin.

Alhasil, ternyata petinggi kampus tidak memberikan izin, dan memberikan sejumlah penjelasan terkait larangan mengenakan cadar di lingkungan kampus.

“Mendengar ucapan dari petinggi kampus yang tidak memberikan izin mengenakan cadar, hati saya membrontak. Sejak itu, saya tekadkan hati untuk mengenakan cadar, karena semuanya karena keyakinan,” katanya, ketika dihubungi Cendana News dari Padang, Kamis (15/3/2018)

Ia menjelaskan, alasan petinggi kampus tidak memberi izin, karena menilai, seseorang yang mengenakan cadar akan sulit untuk dikenali. Sehingga muncul prasangka, yang menyebutkan adanya joki di dalam kampus.

Dr. Hayati Syafri menyebutkan yang membuatnya tetap bertahan untuk mengenakan cadar, karena dorongan bersama dengan mahasiswi, serta dukungan dark keluarga. Apalagi mengingat dirinya seorang muslimah, mengenakan cadar disebutnya syariat Islam.
Kondisi yang terjadi di IAIN Bukittinggi mendapat teguran dari Buya Gusrizal Gazahar. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat ini menyatakan, aturan yang ditetapkan oleh pihak kampus IAIN Bukittinggi, sebuah aturan yang keliru.

“Saya rasa tidak harus diberi taguran hingga tidak diberi jam mengajar. Seharusnya pihak kampus memahami, karena IAIN kampus Islam,” ungkapnya.

Ia mengaku sebelumnya setelah mengetahui adanya aturan tersebut, dirinya langsung mengkonfirmasi ke pihak IAIN Bukittinggi. Namun pihak kampus memberikan sejumlah alasan tentang aturan tersebut. Seperti beralasan soal administratif atau kode etik dalam sebuah perguruan tinggi islam.

“Tapi, yang saya pahami aturan itu sama sekali tidak ilmiah,” katanya.

Ia menjelaskan, jika melihat dalam sejarah Islam, tidak sedikit para ulama menjadi murid para sahabat wanita yang bercadar, tapi mereka sampai hari ini tercatat sebagai ulama-ulama tabi’in.

Lalu, tidak sedikit pula para wanita bercadar yang datang kepada para ulama untuk belajar tapi tetap menjadi wanita-wanita shalihah yang melahirkan para ulama dari rahim mereka.

Gusrizal Gazahar
Ketua Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat Gusrizal Gazahar/Foto: Ist

Selain itu pihak kampus juga mengemukakan alasan keamanan untuk membuat pembenaran alasan melarang bercadar. Ada pula alasan dosen khawatir, jika mahasiswi bercadar, nanti bisa mengikuti perkuliahan yang bukan mahasiswa, dan pada saat ujian bisa diganti dengan orang lain.

“Alasan pelarangan cadar ini terkesan dicari-cari. Apakah teman-teman mahasiswi tersebut yang bergaul setiap hari akan lupa sama sekali dengan suaranya dan tanda-tanda lainnya?,” tegas Gusrizal.

Menurutnya, wanita yang mengenakan bercadar tidak boleh dilarang. Hal ini dikarena hak wanita muslimah. Lalu bercadar juga bagian dari pilihan menjalankan pandangan dan anjuran ulama.

“Bercadar itu diridhai Nabi Muhammad SAW. Istri-istri beliau, sahabat wanita semasa beliau, banyak yang mengenakan cadar. Kita umat nabi Muhammad, tapi kok melarang bercadar. Di kampus islami pula,” ucapnya.

Ia menjelaskan ada tiga pandangan ulama terhadap penggunaan cadar. Ada yang berpendapat, cadar (menutup wajah) adalah wajib. Kemudian, mayoritas berpendapat, jika mengenakan cadar adalah sunnat. Sebagian lainnya, berpendapat cadar itu hukumnya mubah (boleh). Namun, jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah, maka yang mengatakan cadar diperbolehkan tadi bisa jadi sunnat hingga wajib.

“Belum kita temukan pandangan ulama yang kita jadikan pegangan yang menyatakan bercadar itu dilarang. Khilafiahnya bukan persoalan boleh atau tidaknya. Tapi, tentang tingkatan pensyariatannya. Apakah wajib, sunat atau sebatas mubah,” jelas Gusrizal.

Baca Juga
Lihat juga...