INDEF: Ada yang Tidak Beres dengan Fundamental Ekonomi Indonesia

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

358
Ekonom Institute of Development for Economy and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara.foto : Sri Sugiarti

JAKARTA — Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Bhima Yudisthira Adinegara menilai risiko krisis keuangan akibat melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bisa kembali terjadi.

Bhima pun mengingatkan pemerintah agar meningkatkan cadangan devisa. Karena menurutnya, cadangan devisa itu merupakan perlindungan dari adanya goncangan eksternal.

“Nah, cadangan devisa kita terkuras USD4 miliar untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Dari USD131,98 miliar, di Februari tinggal US$128 miliar,” kata Bhima kepada Cendana News, saat dihubungi Kamis (9/3/2018).

Bhima pun menyarankan agar pemerintah meningkatkan devisa ekspor non migas dan pariwisata. Karena menurutnya, hanya dua sektor tersebut yang bisa memperkokoh ekonomi Indonesia.

Selain itu, kata dia, pemerintah juga harus bisa memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam negeri agar investor tidak beralih ke negara lain.

Adapun cara memperkuat ekonomi menurutnya, adalah daya beli dipulihkan jangan ada inflansi pangan, program perlindungan sosial harus tepat sasaran, dan penyalurannya jangan terlambat.

Intinya, tegas Bhima, fundamental ekonomi harus bagus, maka investor akan melihat ke Indonesia. “Karena ini tidak sehat. Saya bandingkan dengan beberapa mata uang negara lain, depresiasi kurs paling parah itu Indonesia. Rupiahnya anjlok satu setengah persen,” tukas Bhima.

Sementara sebut Bhima, kalau dibandingkan dengan Mayalsia dan Singapura, mata uang kedua negara tersebut menguat terhadap dolar AS.

“Ada yang tidak beres dengan fundamental ekonomi Indonesia, paling lemah di antara negara-negara lain,” ujarnya.

Menurutnya, cadangan devisa Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terbilang paling rendah. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN.

Yakni sebut dia, cadangan devisa Indonesia 14 persen terhadap PDB, sedangkan devisa negara Filipina mencapai 28 persen terhadap PDB. Begitu juga Thailand di angka 58 persen terhadap PDB.

“Kalau cadangan devisa kita terus terkuras, kemampuan kita menahan gejolak internal semakin rendah, berdampak risiko krisis keuangan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...