Indonesia Gagal Bawa Pulang Gelar dari Jerman Terbuka

234
Ilustrasi bulutangkis - Foto: Dokumentasi CDN

JAKARTA – Indonesia gagal membawa pulang gelar dari turnamen Jerman Terbuka 2018. Bahkan harapan terakhir dari pasangan ganda putra yang sempat mencetak All Indonesia Semifinal juga gagal membawa pulang gelar.

Kendatri demikian, pelatih ganda putra Pemusatan Latihan Nasional (pelatnas) Herry Iman Pierngadi menilai, anak asuhnya yang berlaga di turnamen tersebut sudah memenuhi harapan.

“Penampilan di Jerman Terbuka 2018 masih on track dan sesuai harapan, akan tetapi memang masih ada yang harus diperbaiki,” kata Herry dalam keterangan yang disampaikan Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) di Jakarta, Senin (12/3/2018).

Pada turnamen di Jerman yang berlangsung enam hingga 11 Maret 2018 tersebut, Indonesia diwakili tiga pasangan ganda putra, yakni Angga Pratama/Rian Agung Saputro, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.

Angga/Rian terhenti di putaran dua oleh pasangan Taiwan Lee Jhe-Huei/Lee Yang. Pasangan Ahsan/Hendra dan Fajar/Rian melaju ke semifinal untuk saling mengalahkan. Sayangnya, Fajar/Rian yang lolos ke final, juga harus menerima kenyataan pulang tanpa gelar usai duet muda ini dikalahkan Takuto Inoue/Yuki Kaneko (Jepang), dengan skor 16-21, 18-21.

Tercatat kekalahan tersebut menjadi kekalahan keempat dari Fajar/Rian. Menurut Herry, di partai final tersebut sebetulnya Fajar/Rian bermain dengan normal dan sesuai rencana. Namun keputusan wasit untuk memfault pukulan servis hingga lima kali membuyarkan konsentrasi Fajar.

“Saya tanya Fajar, Dia bilang iya memang jadi terganggu. Sedangkan, menurut saya, di pasangan ini playmaker nya Fajar, Dia lebih dominan untuk mengatur cara mainnya. Selain itu, Fajar/Rian banyak bikin kesalahan terutama diatas angka 16, sehingga pemain Jepang banyak dapat poin gratis,” tandas Herry.

Herry menilai pasangan Indonesia maupun duet Jepang, sesungguhnya sekelas dan berkekuatan imbang. Namun Inoue/Kaneko memiliki kelebihan mainnya lebih safe, sabar dan jarang membuat kesalahan sendiri. Sehingga jika ingin mendapat poin dari mereka, pemain harus benar-benar membunuh.

“Sesungguhnya Fajar/Rian selama di Jerman Terbuka mainnya bagus, sesuai yang diharapkan. Di final, mungkin ada faktor sudah tiga kali ketemu kalah terus, tetapi saya menilainya tidak begitu. Menurut saya, pola mainnya nggak jalan. Di pertemuan yang akan datang, saya sudah punya strategi baru untuk Fajar/Rian supaya mengalahkan Inoue/Kaneko. Dan hasil mereka kalah di final, bagi saya itu bukan kegagalan,” ucapnya.

Sedangkan, untuk Ahsan/Hendra, sang pelatih menilai capaian kedua pemain senior yang baru dipasangkan awal 2018 ini ke semifinal, juga masih sesuai harapan. “Dari segi mental bertanding dan pengalaman sudah cukup lah. Tetapi yang harus diperhatikan itu kesegaran fisik, kekuatan otot dan kecepatan. Mungkin mereka tidak bisa disamakan dengan Kevin/Marcus atau Fajar/Rian, karena sudah usia, jadi kecepatan menurun. Nah, ini yang harus disiasati, bagaimana ke depannya bersaing dengan pemain-pemain muda. Menurut saya sih, tidak terlalu banyak PR-nya,” kata dia.

Sementara itu, bagi Angga/Rian, Herry menilai penampilannya masih belum konsisten. Disamping bekal pengalaman dan jam terbang mereka belum cukup tinggi. Turnamen selanjutnya yakni All England, akan menjadi ajang evaluasi bagi Angga/Rian. “Saya rasa kemajuannya tidak signifikan. Kita lihat di All England seperti apa, walaupun harus ketemu Kevin/Marcus di babak pertama,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.