Jejak Pembangunan Pak Harto di Lampung Selatan

Editor: Koko Triarko

213

LAMPUNG — Pemanfaatan Sungai Way Sekampung dan Way Pisang di Kabupaten Lampung Selatan sebagai sumber pengairan lahan pertanian, dengan dibangunnya proyek Rawa Sragi, telah berlangsung sejak Orde Baru.

Pembangunan proyek Rawa Sragi merupakan upaya Presiden Soeharto memajukan sektor pertanian untuk meraih swasembada pangan. Proyek irigasi Rawa Sragi dengan pembangunan saluran irigasi tersier dan pemanfaatan sungai, merupakan bagian dari Pembangunan Lima Tahun III (Pelita III), yakni sejak 1979 hingga 1984.

Tonggak sejarah pembangunan di zaman Presiden kedua RI tersebut masih kokoh berdiri, yakni berupa Tugu Pak Tani, di Kecamatan Palas di dekat akses jalan Desa Bandanhurip. Tugu tersebut dibangun pada masa Menteri Pekerjaan Umum Suyono Sosrodarsono. Tugu Pak Tani yang dibangun pada Mei 1985 ini bahkan menjadi pelengkap bangunan irigasi saluran primer, sekunder dan tersier ke ribuan hektare lahan pertanian di wilayah Kecamatan Sragi dan Palas.

Proyek infrastruktur di era Presiden Soeharto, dirasakan betul manfaatnya oleh warga transmigran, salah satunya Suhaimi (45), warga transmigran asal Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Juga transmigran lainnya asal Banten, Marfuah (50) dan Barial (40), yang sebagian merupakan generasi kedua dari ratusan transmigran yang ditempatkan di wilayah Lampung Selatan dan Lampung Timur.

Lokasi yang dekat dengan sungai dan laut, membuat sebagian besar warga di daerah itu berprofesi sebagai petani dan nelayan pembudidaya, serta nelayan tangkap.

Suhaimi, yang dikenal sebagai pemilik usaha tambak udang vaname (litopenaeus vannamei), ikan air tawar jenis lele sangkuriang (clarias sp) dan kepiting bakau (scylla), menyebutkan, ketika menjadi transmigran di wilayah Kecamatan Sragi, kala itu wilayah tersebut masih menjadi daerah administratif Kecamatan Palas.

Menurutnya, setiap transmigran saat itu mendapatkan jatah lahan garapan sekitar dua hektare sebagai lahan pertanian padi pada 1979. “Mayoritas warga di sini merupakan generasi kedua yang merupakan transmigran asal Pulau Jawa, yang datang secara mandiri dan sebagian mengikuti program transmigrasi di wilayah Lampung Selatan dan Lampung Timur,” terang Suhaimi, warga Dusun Umbul Besar, Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi, saat ditemui Cendana News baru-baru ini, di area tambak budi daya udang vaname, kepiting bakau dan lele sangkuriang miliknya.

Suhaimi memilih kepiting sesuai ukuran untuk dijual ke pemesan lokal dan ekspor ke Taiwan dan Singapura [Foto: Henk Widi]
Suhaimi mengaku sebagian keluarganya dari wilayah Banten juga bersama transmigran lain asal Pati, Jawa Tengah, dan Banyuwangi, menempati sebagian wilayah Labuhan Ratu, wilayah yang kini menjadi bagian dari Lampung Timur.

Menurutnya, semula sebagian warga transmigran di wilayah yang berada di dekat area tanggul penangkis dan sejumlah saluran irigasi di era Presiden Soeharto, membuka lahan pertanian padi.

Sebelum menjadi lahan pertanian padi dan tambak pada 1980 hingga 1990, kawasan yang kini ditempati warga merupakan hutan lebat dan rawa yang membentang di dekat pesisir Timur Lampung dan sepanjang Sungai Way Sekampung.

Ia menyebutkan, awalnya masyarakat didominasi para transmigran yang mengembangkan sektor pertanian, khususnya di wilayah dekat Sungai Way Sekampung. Namun, kondisi pasang air laut kerap menyebabkan lahan pertanian terkena air laut yang memiliki sifat payau.

“Masyarakat mulai belajar pola perubahan pasang surut air laut, musim hujan dan kemarau yang tepat untuk bertani atau memelihara udang dan ikan,” terang Suhaimi.

Pola perubahan cuaca, kata Suhaimi, juga membuat warga memilih melakukan penanaman padi sejak bulan Maret hingga September. Selanjutnya warga melakukan budi daya ikan dan udang. Pola tersebut menyesuaikan keberadaan tanggul penangkis dan klep pengatur air yang sudah dibangun sejak zaman Presiden Soeharto.

Sebagian kawasan sejauh 30 kilometer dari muara sungai di sepanjang alur Sungai Way Sekampung, bahkan sebagian secara permanen dijadikan lahan pertambakan.

Sukses Tekuni Usaha Perikanan Budi Daya

Suhaimi mengatakan, pergeseran pola pertanian menjadi usaha tambak mulai terjadi pada 1990. Mula-mula, warga melakukan budi daya udang windu (penaeus monodon). Akibat serangan penyakit jenis white spot (WS) pada 2000, petambak seperti Suhaimi mulai beralih membudidayakan udang vaname.

Saat awal budi daya udang vaname, Suhaimi mengaku menjadi pelopornya budi daya udang kecil-kecil itu. Ia bahkan sempat dicemooh petambak lain yang masih membudidayakan udang windu, dengan perbedaan ukuran yang mencolok tersebut. Kala itu, ia mengaku harga udang vaname masih dijual pada kisaran Rp20.000 per kilogram.

“Saya sempat dicemooh, karena udang kecil-kecil kok dibudidayakan, bahkan hanya udang sayur berbeda dengan udang windu yang berkelas restoran,” kenang Suhaimi.

Berbekal pengalaman bekerja pada sebuah perusahaan budi daya udang, Suhaimi mengaku ingin menjadi transmigran sukses. Ia pun mulai mengembangkan sistem budi daya tradisional dan selanjutnya menerapkan sistem bagongan atau membuat kincir air untuk sirkulasi oksigen dalam tambak.

Setelah serangan virus WS membuat petambak udang windu tumbang, sebagian petambak akhirnya mulai melirik usaha budi daya udang vaname yang ditekuninya.

Ia menyebutkan, satu hektare lahan tambak bisa menghasilkan sekitar satu ton udang vaname yang bisa dipanen secara parsial. Saat ini, harga udang dijual seharga Rp54.000 ukuran 100, harga Rp80.000 ukuran 75, harga 90.000 ukuran 90 dan harga Rp120.000 ukuran 30.

“Selain lebih menguntungkan, pola budi daya intensif mulai dilakukan, didukung sumber pakan dan benih yang mudah diperoleh,” terang Suhaimi.

Udang vaname yang bisa dipanen saat usia tiga bulan, dan sebagian bisa dipanen parsial, dinilai cukup menjanjikan. Pada satu hektare lahan dengan harga rata-rata Rp80.000, Suhaimi bisa memperoleh Rp80 juta per hektare, sementara pada 2000 dirinya memiliki sekitar lima hektare lahan tambak.

Kini, sebagian tambak dikontrakkan dan digunakan sebagai modal membuat rumah dan sebagian dijadikan area budi daya ikan lele sangkuriang dan kepiting bakau.

Sukses budi daya udang vaname, tak lantas membuatnya berpuas diri. Terlebih pada kondisi cuaca yang tak mendukung, udang kerap mengalami kematian. Petambak udang seperti dirinya, bahkan kerap merugi sehingga ia mulai beralih untuk melakukan budi daya lainnya.

Berbekal pengalaman melakukan budi daya kepiting bakau, ia pun mulai melakukan budi daya kepiting bakau dengan sistem keramba di kolam.

“Sebagian kolam saya gunakan untuk budi daya kepiting, udang dan lele sangkuriang, karena saya ingin memaksimalkan lahan dan tak terpaku pada satu budi daya,” cetus Suhaimi.

Ia menjelaskan, budi daya kepiting bakau dilakukan dengan memanfaatkan sistem tambak dengan kincir air listrik sebagai pengatur sirkulasi air. Keramba dari bambu berjumlah belasan digunakan untuk memisahkan kepiting yang siap jual, dengan kepiting yang belum memenuhi ukuran. Sebagian kepiting merupakan hasil mengumpulkan dari sekitar 300 pencari kepiting di Lampung Selatan dan Lampung Timur.

Pembesaran kepiting hasil tangkapan tersebut dilakukan setelah ada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 56 tahun 2016, tentang larangan penangkapan dan atau pengeluaran lobster, kepiting dan rajungan.

Aturan tidak dibenarkan menangkap dan mengirim kepiting dengan berat di bawah 200 gram dan kepiting bertelur membuat dirinya melakukan penyortiran dari pengepul dan melakukan proses pemeliharaan.

Saat ini, Suhaimi memiliki sekitar 30 pengepul dan memberdayakan sekitar 300 lebih pencari kepiting. Selain mencegah penangkapan dan penjualan kepiting yang menyalahi aturan, Suhaimi juga ikut memberi lapangan pekerjaan bagi ratusan orang.

Menurutnya, budi daya kepiting dalam keramba, dilakukannya pula untuk menghindari penjualan kepiting yang belum memenuhi standar, karena sebagian diekspor ke Taiwan dan Singapura.

Harga kepiting yang dibudidayakan oleh Suhaimi saat ini berkisar Rp120.000 hingga Rp180.000 per kilogram, dengan syarat ukuran di atas 200 gram. Permintaan dalam sepekan untuk pangsa pasar lokal di restoran wilayah Jakarta, Bandung, Bandarlampung, mencapai 100 kilogram atau Rp10 juta per pekan. Sedangkan sisanya untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke Singapura dan Taiwan, rata-rata 50 kilogram per pekan.

“Saya sudah menjadi suplier ke sejumlah restoran dan suplier untuk eksportir, sehingga budi daya terus saya lakukan,” terang Suhaimi.

Ia mengatakan, selain budi daya ikan lele sangkuriang, dirinya juga membudidayakan sekitar 1 ton ikan lele dengan masa panen 3 bulan. Hasil panen dengan pengurangan jumlah kematian sekitar 20 persen disebutnya menghasilkan omzet sekitar Rp14 juta sekali panen.

Kebutuhan akan ikan lele yang tinggi, membuat budi daya tersebut diliriknya sekaligus melengkapi budi daya udang vaname dan kepiting yang ditekuninya.

Ia mengatakan, rata-rata per bulan mengeluarkan biaya operasional sebanyak Rp60 juta untuk ketiga jenis budi daya yang dilakukannya.

Meski demikian, dengan kisaran omzet sebanyak Rp130 juta, dirinya masih bisa mendapatkan hasil sekitar Rp70 juta. Ia mengaku, hasilnya tersebut bisa memberdayakan masyarakat yang ada di wilayah tersebut, sekaligus menjadi contoh sebagai transmigran yang sukses dalam sektor perikanan budi daya.

“Tujuan utama saya bukan hanya kesuksesan pribadi, tapi bagaimana memaksimalkan potensi lahan yang ada, memberdayakan masyarakat, agar mendapat lapangan pekerjaan pada sektor perikanan,” terang Suhaimi.

Suhaimi yang memiliki istri bernama Nurlela (35), dan tiga anak tersebut, mengatakan, kunci kesuksesan transmigran adalah belajar dari kegagalan. Ia mengaku berkat proyek Rawa Sragi di era Presiden Soeharto, sebagian petani padi yang gagal akibat banjir bahkan beralih menjadi petambak udang dan ikan.

Kegagalan akibat banjir juga membuat sejumlah petambak menerapkan pola pertambakan insentif dan membuat tanggul. Hasilnya, berkat peninggalan infrastruktur di era Presiden Soeharto, Suhaimi menyebut sejumlah transmigran seperti dirinya bisa sukses di sektor perikanan budi daya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.