banner lebaran

Jubir MK: Pergantian Ketua Bukan karena Pelanggaran Etik

Editor: Irvan Syafari

271
Juru Bicara MK Fajar Laksono-Foto; M Hajoran.

JAKARTA — Juru Bicara Mahkamah Konstitusi (MK) Fajar Laksono membantah bahwa pergantian Ketua MK yang akan dilaksanakan Senin depan lewat pemilihan, bukan disebabkan pelanggaran kode etik yang dilakukan Arief Hidayat selaku Ketua MK. Pergantian dilakukan karena memang masa jabatan Arief Hidayat sudah dua periode, dan itu aturan undang-undang dan Peraturan MK.

“Tidak ada itu (karena pelanggaran kode etik), karena memang berdasarkan rapat pleno hakim diputuskan bahwa dilakukan pemilihan Ketua MK baru menggantikan Pak Arief Hidayat yang sudah dua periode,” kata Fajar kepada wartawan di Gedung MK Jakarta, Kamis (29/3/2018).

Meskipun Fajar tidak bisa menampik, jabatan Arief Hidayat sebagai Ketua MK untuk periode kedua akan berakhir 2020 atau dua tahun lagi. Tapi, berdasarkan putusan rapat pleno hakim (RPH), semua hakim setuju dilakukan pemilihan ketua baru.

“Memang semestinya, jabatan Pak Areif sebagain Ketua MK akan berakhir tahun 2020 mendatang. Namun, karena hasil putusan RPH sembilan hakim konstitusi, sepakat untuk memilih ketua baru,” ungkapnya.

Bukan hanya itu saja, menurut Fajar dalam pemilihan ketua yang dijadwalkan Senin depan, Areif tidak punya hak untuk dipilih, karena Areif sudah menjabat dua periode meskipun periode kedua hanya satu tahun.

“Dalam pilihan ketua nanti Pak Areif juga tidak punya hak untuk dipilih, karena berdasarkan Peraturan MK No. 3 Tahun 2013 di Pasal 2 ayat (2), menyebutkan bahwa Ketua dan wakil ketua MK yang terpilih dan dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama untuk satu kali masa jabatan,” terang Fajar.

Sebelumnya, Arief telah menjabat sebagai Ketua MK sejak 2015. Sesuai dengan peraturan MK Nomor 3 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua MK, pada Pasal 2 Ayat 1 disebutkan bahwa masa jabatan ketua dan wakilnya adalah dua tahun enam bulan sejak hakim konstitusi diangkat jadi ketua atau wakil ketua MK.

Kemudian pada 2017 kemarin, Mahkamah Konstitusi (MK) kembali menggelar pemilihan Ketua MK untuk periode 2017-2020, di mana saat itu Arief Hidayat kembali terpilih untuk kedua kalinya.

Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini banyak desakan publik Kepada Arief Hidayat untuk mundur dari jabatan hakim konstitusi dan Ketua MK. Karena tidak pantas lagi, melihat Arief Hidayat sudah dua kali melanggar kode etik MK.

Namun, demikian hingga saat ini Arief tetap kukuh sebagai hakim konstitusi, walaupun Ketua akan beralih dari genggaman guru besar hukum dari Undip tersebut.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.