Jujur Prananto: Dulu Menulis Itu Istimewa

Editor: Irvan Syafari

166
Jujur Prananto, penulis skenario film Indonesia-Foto Akhmad Sekhu

JAKARTA — Jujur Prananto termasuk salah satu penulis skenario film Indonesia yang handal. Ia mengawali kariernya sebagai penulis cerpen, yang karyanya banyak diangkat menjadi skenario film, seperti ” Parmin”, “Kado Istimewa”, “Tamu dari Jakarta”, “Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari”.

Namanya sebagai penulis skenario melejit saat ia terlibat dalam pembuatan film “Ada Apa dengan Cinta” (2002). Sebuah film yang menjadi penanda kebangkitan film Indonesia. Atas karyanya di film tersebut, ia dianugerahi trofi “Skenario Terpuji” dari Festival Film Bandung 2002.

Kemudian, ia meraih Piala Citra kategori Penulisan Skenario Asli Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2012 lewat film “Rumah di Seribu Ombak” dan FFI 2016 lewat film “Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara”.

“Sebetulnya saya ditugasi untuk merevisi film “Revan & Reina”,” kata Jujur kepada Cendana News di Bioskop XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu.

Jujur mengaku menerima draf kesekian yang menurut produsernya dari mereka sudah baik, tapi bagi produser masih belum “sreg” dan kemudian minta dirinya untuk merevisi

“Seingat saya, dialog remaja tidak saya otak-atik. Sedangkan dialog antara antara ibu dengan anak barulah saya revisi sedikit. Biasanya penulis pemula itu tidak terlalu menguasai dialognya, “ ungkapnya.

Jujur memang sering menulis revisi skenario. Sedangkan Giri, penulis skenario awal film “Revan & Reina” ini setia dengan cerita di novel aslinya.

“Dia tidak banyak mengotak-atik cerita asli novelnya. Ceritanya unik, pacaran tapi cowoknya lebih muda,” bebernya.

Menurut Jujur, kalau skenario film “Dilan” beda, penulisnya sudah dewasa. “Tapi masuk dialog antara ibu dan anak tetap enak,” puji Jujur.

Jujur menyampaikan, yang paling aman menulis skenario dengan gaya stereotipikal.

“Guru biasanya stereotip, galak dan dibenci murid-muridnya, itu yang paling aman.

Stereotip itu senjata untuk mengatasi kalau tidak terlalu menguasainya masalah ceritanya,” paparnya.

Menurut Jujur, perkembangan penulis skenario itu bagus dengan makin mudahnya orang menulis, seperti bikin blog, tidak peduli orang baca atau tidak, tapi yang penting sudah berekspresi.

“Dulu menulis itu istimewa karena dulu banyak orang kesulitan untuk mencari medianya, “ tegasnya.

Sekarang, menulis bukan lagi istinewa, chatting itu juga termasuk berbahasa. Apalagi sekarang media sosial yang begitu sangat populer, yang semakin memudahkan orang berani menulis, berani berekspresi.

“Istilahnya, kalau pisau semakin diasah tentu akan semakin tajam. Begitu juga dengan menulis yang semakin diasah akan semakin berkembang gaya penulisannya,” tandasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.