Kain Sasirangan Banjar Siap Mendunia

637
Ilustrasi/Foto: Dokumentasi CDN.

BANJARMASIN — Seorang wanita tinggi semampai berdiri di depan sebuah bangunan tua di tepian Siring Tendean, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk mengikuti kegiatan “Banjarmasin Sasirangan Festival” (BSF) yang digelar pada 7-11 Maret 2018.

Sementara banyak pengunjung yang memadati kawasan objek wisata andalan Kota Banjarmasin tersebut yang pandangannya tertuju ke arah wanita yang agaknya menunggu teman-temannya yang mengikuti kegiatan festival tersebut.

Sesekali wanita tersebut memperbaiki letak gaun kain khas Suku Banjar yang dikenakannya itu yang berubah karena desiran angin. Senyum khas wanita itu seakan padu dengan motif kain sasirangan yang dominan dengan warna hijau tersebut.

“Oh sungguh cantik,” kata seorang pemuda yang dari tadi memerhatikan gerak gerik wanita yang ditaksir bersusia sekitar 20 tahun itu.

Kegiatan BSF yang dipusatkan di Menara Pandang Siring Tendean, kawasan Wisata Susur Sungai Kota Seribu Sungai tersebut pada tahun ini bertemakan “Sasirangan to The World”.

Pemerintah dan masyarakat Kota Banjarmasin tak ingin kain kebanggan warga yang menghuni bagian selatan pulau terbesar tanah air tersebut, cuma cukup untuk dinikmati warga setempat, kain ini harus go internasional, dan dikenal hingga ke mancanegara.

Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan pemerintah dan warga setempat guna mengangkat citra khasanah kain yang lahir dari proses budaya nenek moyang setempat, yang dalam sejarahnya kain ini hanya sebatas sebagai peralatan pengobatan.

Dalam BSF 2018 menawarkan aneka acara yang dijamin memanjakan wisatawan. Ada parade budaya unik, kegiatan religi, expo, hingga forum diskusi.

Sebagai daya tarik, panitia juga menghadirkan artis Terry Putri. Untuk memperkuat nilai kain adat Banjar ini, saat kegiatan BSF juga ada atraksi unik yakni menyirang (mengerjakan kain sasirangan) sepanjang 250 meter melibatkan ratusan pelajar.

Festival juga akan memilih duta sasirangan 2018, memilih putri muslimah sasirangan hingga Pemuda Pelopor. Selain itu bagi anak-anak, silakan mengikuti lomba mewarna untuk PAUD. Nuansa religius juga dibangun melalui kasidah dan hadrah.

Semua potensi yang dimiliki Banjarmasin atau Kalimantan Selatan agaknya akan ditampilkan dalam BSF, makanya panitia juga akan menggelar bazzar dan expo, kata Assiten II Sekdako Banjarmasin Drs Hamdi saat berbincang dengan penulis.

Menurut Hamdi festival 2018 akan dikemas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kemasannya lebih segar, dan juga melibatkan publik figur, seperti artis Terry Putri yang juga berasal dari Banjarmasin. Ia mengakui adanya upaya Pemkot mengangkat lebih tinggi lagi keberadaan kain yang selama ini sudah menjadi barang cendera mata bagi wisatawan yang datang ke ibu kota provinsi Kalsel itu.

Menurut Hamdi yang juga Ketua penitia BSF keberadaan sasirangan selama ini belum memuaskan semua pihak, terutama kalangan wisatawan mancanegara, lantaran pewarna yang digunakan sebagian besar adalah bahan kimia sehingga warnanya menjadi mencolok dan kurang alamiah.

Oleh karena itu upaya kedepan bagaimana kain sasirangan ini diproduksi dengan proses pewarna dari bahan sumber daya alam setempat yang mudah saja dicari, selain biayanya tidak mahal, namun produk sasirangan itu akan beharga mahal, lantaran diminati.

Ke depan kain sasirangan akan mempergunakan pewarna berasal dari daun-daunan, buah, dan kayu, seperti kunyit untuk membuat kain jadi berwarna kuning, kayu ulin untuk warna cokelat atau merah marun, warna biru menggunakan daun indigo, warga ungu berasal dari buah balangkasua, dan banyak lain pewarna alam yang tersedia di sini.

Motifnya pun akan terus diperbaharui dan diperkaya dari selama ini yang dikenal dengan motif Iris Pudak, Kambang Raja, Bayam Raja, Kulit Kurikit, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Sari Gading, Kulit Kayu, Naga Balimbur, Jajumputan, Turun Dayang, Kambang Tampuk Manggis, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Sisik Tanggiling, dan Kambang Tanjung.

“Kita yakin jika semua kian khas ini pakai pewarna alamiah pasti lebih lembut, dan akan memancing lebih banyak lagi pembeli untuk memiliki dan menggunakan kain kebanggaan masyarakat Kalsel itu, khususnya dari luar negeri,” kata Hamdi.

Bila kebaradaan kain ini sudah lebih terangkat kepermukaan harapannya tak sekadar dipakai saat ada acara resmi saja, tak sekadar jadi barang cendera mata, tetapi akan menjadi mata dagangan antarpulau bahkan jadi mata dagangan ekspor.

Hal itu bukan saja akan meningkatkan kontribusi pendapatan daerah yang lebih penting bagaimana mendongkrak penghasilan para perajin yang pada gilirannya menyejahterakan masyarakat luas.

Kain Pengobatan berdasarkan berbagai catatan atau cerita rakyat yang berkembang di masyarakat suku Banjar, kain ini sudah ada sejak abad XII sampai XIV saat wilayah ini dikuasi oleh Kerajaan Dipa.

Kain sasirangan pertama kali dibuat yaitu manakala Patih Lambung Mangkurat bertapa 40 hari 40 malam di atas lanting balarut banyu (di atas rakit mengikuti arus sungai).

Menjelang akhir bertapanya, rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengar suara seorang wanita. Wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di “Banua” atau daerah ini.

Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi/padiwaringin.

Kain calapan/sasirangan yang pertama kali dibuat dan sering disebut oleh masyarakat sebagai batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.

Itulah sejarah singkat asal usul kain sasirangan. Arti kata sasirangan sendiri diambil dari kata “sa” yang berarti “satu” dan “sirang” yang berarti “jelujur”. Sesuai dengan proses pembuatannya, di jelujur, di simpul jelujurnya kemudian dicelup untuk pewarnaannya.

Sasirangan menurut tetua adat Banjar dulunya dipakai untuk pengobatan orang sakit, dan juga digunakan sebagai laung (ikat kepala adat Banjar), Kakamban (serudung), udat (kemben), babat (ikat pinggang), tapih bahalai (sarung untuk perempuan) dan lain sebagainya. Kain ini juga dipakai untuk upacara-upacara adat Banjar.

Sekarang Sasirangan bukan lagi hanya untuk kegiatan spiritual, tapi sudah jadi pakaian kegiatan sehari-hari Pemerintahan Kalimantan Selatan. Sasirangan disejajarkan dengan batik. Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan 91 tahun 2009 tentang standarisasi Pakaian Dinas pegawai negeri sipil di lingkungan Pemprov Kalsel.

Pegawai negeri sipil dibebaskan memilih untuk memakai Sasirangan atau pun Batik pada hari yang sudah ditentukan, bahkan ada pemerintah kabupaten dan kota tertentu justru mewajibkan pemakaian kain khas ini pada waktu tertentu (Ant).

Baca Juga
Lihat juga...