Kampung Nelayan Pegantungan Diterjang Banjir

Editor: Koko Triarko

234

LAMPUNG — Puluhan warga kampung nelayan di Dusun Pegantungan, Desa Bakauheni, Lampung Selatan, diterjang banjir luapan Sungai Pegantungan pascahujan deras melanda sejak Minggu (4/3) malam hingga Senin (5/3/2018).

Camat Bakauheni, Zaidan, menyebut akibat banjir itu belasan rumah di dekat sungai terendam air, termasuk lokasi pengolahan teri dan ikan asin rebus.

Berdasarkan data, rumah warga Dusun Pegantungan yang terimbas banjir di antaranya milik Hasanudin, Ambo Singke, Afin, Maruli, Subuh Subagio, Baharudin, Bilal Efendi, Rahmat, Dedi, Tugiman, Ali Murtopo,Tomi dan Munah.

Akibat terjangan banjir tersebut lumpur dan air juga masuk ke rumah warga dan membuat warga mengungsikan barang-barang miliknya dari dalam rumah.

I Ketut Sukerta, Kepala BPBD Lamsel meninjau lokasi banjir yang melanda di wilayah kampung nelayan Dusun Pegantungan. [Foto: Henk Widi
“Banjir ini sudah yang kedua kali, akibat hujan deras melanda hampir semalaman. Perumahan warga terendam, bahkan banjir kedua lebih parah menyebabkan jembatan putus,” terang Zaidan, saat meninjau kampung nelayan di Dusun Pegantungan, Senin (5/3/2018).

Zaidan menyebut, banjir sempat merendam rumah warga setinggi sekitar 40 cm dan baru surut menjelang siang. Meski sudah surut, lumpur dan pasir yang terbawa arus sungai masih belum dibersihkan oleh warga.

Banjir ini diduga imbas dari menyempitnya Sungai Way Pegantungan akibat pasir proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Zaidan mengaku telah menghubungi pihak pelaksana JTTS yang dilakukan PT. Pembangunan Perumahan, untuk melakukan normalisasi sungai, meski masih membutuhkan waktu.

Normalisai Sungai Pegantungan, kata Zaidan, juga sudah diusulkan kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang kabupaten Lampung Selatan dengan proses talud dan bronjong.

Munah (29), ibu rumah tangga yang rumahnya terendam banjir mengaku air merendam rumah miliknya sejak subuh, dan memaksanya menyelamatkan barang-barang di dalam rumah. Televisi, kasur bahkan beberapa barang terpaksa dinaikkan ke atas meja, dan kasur yang basah terpaksa dijemur untuk dikeringkan. Sisa-sisa lumpur yang masuk ke rumah dibersihkan dengan air.

Selain merendam rumah warga, pemilik perebusan teri bernama Ajak (45) terpaksa menghentikan pembuatan teri rebus dan ikan asin. Penghentian dilakukan karena lumpur masuk ke lokasi perebusan setinggi 40 cm. Selain itu, kondisi cuaca juga menghambat proses pengeringan teri dan ikan asin.

“Saya terpaksa mengirim ikan teri bahan pembuatan teri rebus dan ikan japu ke wilayah Kalianda, lokasi tempat pembuatan teri lain,“ beber Ajak.

Menurut Ajak, akibat banjir bagian belakang lokasi perebusan berupa pondasi batu ambrol. Ia berharap, normalisasi Sungai Way Pegantungan segera dilakukan, untuk menghindari banjir kembali melanda wilayah tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamsel, I Ketut Sukerta, menyebut banjir masih akan berpotensi jika normalisasi sungai belum dilakukan. Ia pun mendorong, agar warga segera melakukan pengajuan normalisasi sungai kepada pelaksana jalan tol.

Imbas pembangunan jalan tol yang mengakibatkan pendangkalan sungai juga berimbas alur masuk perahu nelayan wilayah tersebut.

I Ketut Sukerta menyebut, banjir yang melanda perkampungan warga tersebut tidak mengakibatkan kerugian material yang cukup besar. Meski demikian, kerusakan beberapa fasilitas di antaranya jembatan bambu, membuat warga kesulitan untuk menuju ke areal perkebunan.

Selain memantau wilayah Bakauheni, I Ketut Sukerta juga mengimbau agar wilayah berpotensi bencana bisa melaporkan ke pihak BPBD. “Saya imbau kepada aparat dusun hingga kecamatan, agar waspada dengan potensi bencana alam yang terjadi dan aparat desa harus selalu siaga,” katanya.

Selain potensi bencana banjir, beberapa potensi bencana yang bisa terjadi di wilayah Lampung Selatan, di antaranya gelombang pasang di pesisir pantai dan angin puting beliung.

I Ketut Sukerta berharap, warga selalu waspada terutama saat perubahan cuaca akhir akhir ini.

Baca Juga
Lihat juga...