Kasus Pelecehan Seksual di Sikka Cukup Tinggi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

357

MAUMERE — Saat ini kasus pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak di kabupaten Sikka cukup tinggi dan perbuatan tersebut biasanya dilakukan oleh orang-orang yang lebih dekat dengan anak-anak dimana pemicu terbesarnya karena mabuk minuman keras.

“Pemicu kedua karena terdorong oleh hawa nafsu dimana dengan adanya perkembangan teknologi informasi orang lebih sering mencari informasi seksual melalui internet. Setelah menonton film porno tentu orang ingin melampiaskannya sehingga terjadilah pelecehan seksual,” ujar Drs. Paolus Nong Susar, Jumat (2/3/2018).

Untuk itu kata Nong Susar sapaannya, perlu keterlibatan semua pihak untuk bisa menanggulangi persoalan tersebut. Bahkan di desa-desa ada banyak kasus yang tidak dilaporkan ke polisi dan diselesaikan secara kekeluargaan.

“Ada juga yang menyelesaikannya secara adat tapi bila sudah dilaporkan ke polisi maka kasus hukumnya tetap saja berlanjut sesuai Undang-Undang terkait perlindungan terhadap perempuan dan anak,” terangnya.

Ditambahkan Nong Susar, kasus pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak di Sikka bukan saja terjadi di kota tetapi sudah menyebar hingga ke desa-desa. Bahkan pelecehan seksual juga dilakukan oleh guru dan kepala sekolah terhadap para murid.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRuK-F) Flores kepada wartawan menyebutkan, selama tahun 2017 terdapat 141 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di kabupaten Sikka. Jumlah ini meningkat 21 persen dibandingkan tahun 2016 yang hanya 96 kasus.

Sebanyak 122 kasus yang terjadi, menurut Heni Hungan divisi Adokasi TRuK-F pelaku sangat mengenal baik korbannya atau 87 persen dari jumlah kasus di tahun 2017. Dari jumlah tersebut, 78 kasus terjadi pada anak-anak dan sisanya 44 kasus menimpa para perempuan dewasa.

“Korban juga sangat mengenal pelakunya karena pelaku dan korban masih dalam status suami, ipar, pacar, sepupu, saudara dan mantan suami. Trend-nya pelajar paling rentan dan saat ini anak-anak bukan lagi hanya menjadi korban tetapi juga menjadi pelaku,” paparnya.

Baca Juga
Lihat juga...