Kau, Diabetes, dan Vertigo

CERPEN RIFAT KHAN

645

AKU tahu, tiga kali dalam sehari kau mesti menyuntikkan jarum pengantar insulin itu ke tubuhmu. Di bagian perutmu, jarum itu akan perlahan masuk, sesaat cairan itu mengaliri darahmu dan kau akan merasa lebih baik.

Kadang kau berikan dosis 6 mili, atau jika gula darahmu lebih sering di atas 200 atau 300, tak jarang kau akan menaikkan dosis jadi 10 bahkan 12 mg. Pada awal-awal pertama, kau merasa takut melakukannya sendiri, lama-kelamaan kau terbiasa. Bahkan sambil kau menonton film kesayanganmu, tanpa melihat bagian perut yang mana kau akan suntik, kau melakukannya dengan sempurna.

“Persis seperti digigit semut” katamu, sambil meringis kecil. Kau perlihatkan lagi jarum kecil itu, jarum yang kadang membuat tanda banyak di kulit perutmu. Lantas kau membuangnya, menggantinya dengan jarum baru dan esok kau akan melakukan hal sama lagi. Tak jarang kau meminum satu biji tablet.

“Sebagai penyeimbang,” sering kau bilang demikian. Tablet metformin itu ada berpuluh-puluh lembar di laci, kadang kau taruh pula di samping buku puisi Joko Pinurbo yang masih terbuka. Sering pula tak pernah habis, bahkan sampai jadwalmu harus konsultasi kembali. Dokter akan memberimu tablet yang sama. Tablet yang lama akan kau masukkan ke bak sampah dengan terpaksa.

“Tubuhku sering terasa lemah, dan ada kalanya bahkan untuk menyelesaikan satu cerita saja kepalaku dilanda pusing yang hebat. Kadang aku langsung berbaring, dan cerita-cerita itu terbengkalai. Esoknya aku lupa lagi mesti melanjutkannya bagaimana,” kau berucap pelan sambil tersenyum pagi itu. Sehabis bicara, wajahmu meringis kembali.

“Kau merasa sakit?” Aku bertanya. Kau hanya menggeleng, kemudian tersenyum dan berucap, “Tidak ada orang yang betul-betul sehat. Hanya saja aku lebih sakit darimu.” Kau tertawa meniru kata yang ditulis oleh pengarang itu.

“Bisa kau ambilkan amlodipin di laci,” kau kali ini memintaku mengambil obat yang baru pertama kudengar namanya. Aku melangkah pelan, membuka laci, dan mencari-cari. Banyak buku di dalam lacimu, bahkan ada yang masih tersegel, mungkin belum sempat kau baca. Setelah hampir semenit aku mencari, obat itu kutemukan juga. Aku berjalan mendekatimu.

Kau tersenyum dan meminumnya dengan segelas air putih di samping ranjang.

“Kau tahu, obat ini akan membuat segalanya lancar, akan meringankan segala yang kaku di tubuhku.”

Kau bicara seolah kau dokter. Aku tersenyum. Dan kau hanya diam saja.
***
AKU pernah membopong tubuhmu dari parkiran rumah sakit swasta itu. Kau hanya mampu memejamkan mata saat itu. Kau bilang, “Semua bergoyang Han, seperti bumi hendak kiamat, kadang aku merasa di atas, kadang di bawah. Aku sempatkan berdiri pagi itu, goyangannya terasa lebih hebat, aku terjatuh. Badanku tersungkur di lantai. Aku coba duduk, semua lagi-lagi bergoyang.

Hingga aku dibawa ke rumah sakit ini. Dokter bilang, sangat bahaya jika kau berdiri dalam kondisi demikian, kau akan jatuh, dan bisa saja lari ke jantung. Jantung bisa saja berhenti berdenyut. Atau kemungkinan lain tubuhmu akan kaku. Stroke.”

Kau berhenti bicara. Saat hendak kunaikkan badanmu di atas motor, kau berkata, “Pegang aku yang kuat Han, semua masih bergoyang. Jangan lepaskan aku.”

Aku melajukan motor itu begitu pelan, angin lembut membelai wajahku. Kau berpegang erat, tanganmu melingkar di tubuhku. Dan aku tahu, kau pasti masih memejamkan mata.

Sebab, jika kau membukanya, bumi kau lihat seperti bergoyang dan tubuhmu bisa saja tersungkur ke jalan beraspal itu. Hingga sampai di rumah, aku membopongmu ke kamarmu.

Sesaat kau berbaring, seperti tak nyaman, kau terus membolak-balik kepalamu. Kau cenderung memilih posisi dengan wajah menghadap ke kanan. Ini lebih baik, katamu, goyangannya terasa pelan. Daripada harus menghadap kiri, goyangannya lebih hebat.

Kau kemudian memintaku mengambil surat hasil laboratorium tadi. Aku merogoh tas itu. Dua lembar surat itu kuberikan padamu. Lengkap dengan tanda tangan dokter yang menanganimu.

“Semua gara-gara ini, Han.” Kau memberiku surat itu seakan memintaku untuk membacanya.

Dalam surat itu, tertulis gula darahmu di atas 500 dan tensi darah yang amat tinggi bagi orang seusiamu, 180/130. Aku geleng-geleng.

“Kau makan apa memang kemarin?” Aku mencoba bertanya.

“Aku tak makan apa-apa. Semalam aku menulis, sebab ada ide melintas di otakku. Hampir satu jam aku duduk di depan laptop. Baru empat paragraf jadi, kepalaku pusing. Kemudian aku berbaring dan lelap. Dan paginya, saat terbangun, semua bergoyang… ” Kau bicara pelan.

Sejak peristiwa itu, aku tahu segalanya lebih sulit bagimu. Goyangan itu tetap ada dan kau tak mampu berdiri. Makan dan minum kau selalu dibantu. Bahkan untuk buang air kecil, adikmu yang perempuan selalu menyiapkan beberapa botol kosong bekas minuman mineral. Dan dalam semalam, bisa sampai dua tiga kali kau terbangun untuk buang air. Semua lebih sulit. Kamarmu agak bau pesing. Namun aku terus saja mengunjungimu.

“Semua sudah lebih baik Han, aku bisa berjalan dengan berpegangan di tembok. Tak lagi buang air di dalam kamar. Dan jika berbaring, goyangannya sangat pelan. Seperti sedang diayun-ayun, seperti sedang di tepi pantai.

Aku belajar menikmatinya. Dan saat sesekali goyangannya terasa lebih besar, aku akan melotot dan memandang sesuatu yang jauh selama tiga sampai empat menit. Cara itu sepertinya mampu membuatku lebih baik,” katamu saat aku datang, dua minggu selepas kau masuk rumah sakit.

Aku tersenyum dan membukakan roti tawar padamu. Memberimu selembar saja.

Baca Juga

Garep

“Tanpa susu, mana bisa enak makan beginian,” kau nyeletuk. Seakan kau tak pernah menganggap gula dan sejenisnya itu adalah musuh bagimu.

“Serius mau pakai susu?” Aku bertanya. Kau hanya mengangguk, kemudian kuberikan satu kaleng susu itu. Kau tersenyum dan menuangnya ke atas selembar roti tawar tadi. Selepas makan, kau kembali menyuntikkan insulin itu di perutmu. Tak tanggung-tanggung, kau mengatur dosisnya sampai 18 mg.

“Apa tak berlebihan?” tanyaku.

“Gula darahku kan masih di atas 500, jadi nggak apa-apa. Aku naikkan sendiri saja,” kau tertawa saat mengatakan itu.
***
HARI terus saja berjalan, setiap pagi kau akan duduk di halaman rumah. Merasakan cahaya matahari yang panas namun terasa lembut.

“Sinar matahari baik bagi tubuhku. Agar kolesterol jahat yang menggumpal ini terbakar,” ujarmu.

“Kau sudah sarapan?” Aku menatapmu.

“Aku bosan. Menunya itu-itu saja,” katamu.

Aku terdiam. Memang menu yang mesti kamu makan itu-itu saja, kalau tidak roti tawar, kentang rebus, paling sering ya ubi.

“Sesekali aku ingin makan daging ayam. Bila perlu satu panggangan. Aku juga sangat ingin makan rawon, bebalung…” Kau menatap jauh saat bicara. Tanpa memandangku. Tapi kau tahu, makanan-makanan itu sangat berbahaya bagi tubuhmu. Makanan itu bisa saja menaikkan gulamu secara drastis atau meninggikan kadar kolesterol di tubuhmu.

Kau kembali bicara sendiri, “Aku menjadi takut untuk melakukan hal-hal kecil, Han. Kematian selalu memenuhi pikiranku akhir-akhir ini. Aku takut sendirian dalam gelap, semua seperti bergoyang, itu sebabnya lampu kamar tak pernah kumatikan. Aku takut ke kamar mandi, bisa saja aku terpeleset jatuh dan tubuhku kaku. Stroke dan hidupku sangat sia-sia. Habis di kursi roda dan mati dalam kebosanan.

Aku selalu bermimpi hal yang sama tiga malam berturut-turut. Seseorang dengan jubah hitam datang mengetuk pintu kamarku. Dia terus saja mengetuk, dan aku, dalam mimpi itu, tak pernah mau membukakan pintu.”

Kau terus saja bicara, meski aku tak menjawab. Aku hanya diam saja.

“Kau tahu Han, setiap tidur, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan itu sungguh mengganggu, jika tidur dengan posisi wajah menghadap kiri, semua terasa bergoyang. Jika tidur dengan posisi wajah menghadap kanan, jantungku yang terus berdetak hebat. Jika terlentang, cahaya lampu menerpa wajahku dan tak akan bisa tidur sampai pagi. Jika hadap ke bawah, semua terasa gelap dan aku seperti merasakan tubuhku tak bergerak. Aku bingung. Jika memutuskan tak tidur, paginya kepalaku akan pusing hebat.”

Aku diam.

“Kenapa kau diam saja, Han?”

Kali ini kau menatapku. Tatapanmu begitu asing. Seperti orang yang sangat jauh dan baru kutemui. Aku mencoba tersenyum padamu. Kau lagi-lagi bilang, “Kematian, katamu, hanyalah cemas sementara. Selebihnya, tak ada. Tak ada.” Kau meniru puisi Agus Noor kali ini. Tapi beban jelas seperti bergantung di kedua matamu.

“Ujung-ujungnya aku bisa gagal ginjal atau stroke atau gangguan jantung.” Kau menggerutu lagi. Aku masih diam saja. Tak tahu mesti bicara apa kali ini.
“Han, ada hal yang sebenarnya ingin kutanyakan padamu sejak beberapa minggu lalu.”

Kali ini aku tersentak, “Apa yang hendak kau ingin bicarakan?” Aku bicara pelan dan menatapmu.

“Sidang perceraian kita kapan? Aku lupa, apakah tanggal 21 atau tanggal 28? Aku juga lupa, apakah bulan ini atau bulan depan?”

Kau menunduk mengucapkan itu.

Air mataku sesaat ingin jatuh. Aku menggeser badanku lebih dekat denganmu.
“Aku membatalkan gugatan itu.” Aku menatapmu sangat dalam. Wajahmu datar saja. Diam. ***

Lombok Timur, 2017

Rifat Khan, lahir pada 24 April 1985. Beberapa karyanya dimuat di Majalah Cempaka, Suara NTB, Lombok Post, Radar Surabaya, Tribun Jabar, Bali Pos, Padang Ekspres, Sinar Harapan, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Riau Pos dan Republika. Kini mukim di NTB dan bergiat di Komunitas Rabu Langit Lombok Timur.

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Naskah orisinil, belum pernah tayang di media online maupun cetak, dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...