Kedu Warna Camp, Berdayakan Masyarakat Sekitar Pantai

Editor: Satmoko

408

LAMPUNG – Sejumlah masyarakat didominasi oleh ibu rumah tangga dan peserta Kedu Warna Camp 2018 menerima pelatihan memasak dari salah satu juru masak  salah satu hotel di Lampung dengan bahan baku hasil laut yang ada di wilayah tersebut.

Pelatihan langsung dipandu oleh Chef Waluyo (48) sebagai juru masak berpengalaman dari salah satu hotel di Bandarlampung dibantu oleh cook helper Handri (33). Kegiatan tersebut merupakan upaya untuk memperkenalkan beberapa varian menu berbahan hasil laut.

Yodistira Nugraha selaku tim kreatif dan pengembangan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lawok Kedu memaparkan, kegiatan pelatihan memasak merupakan salah satu kegiatan dalam Kedu Warna Camp 2018. Diikuti oleh sekitar 400 peserta dari wilayah Bandar Lampung, Palembang dan dari Komunitas Lastday29 bertempat di objek wisata Pantai Kedu Warna di Kelurahan Way Urang Kalianda.

“Hari pertama pelaksanaan Kedu Camp dilakukan pendirian tenda sekaligus penyiapan panggung hiburan para peserta dan melibatkan ibu rumah tangga di wilayah Kalianda untuk digelar pelatihan memasak,” terang Yodistira Nugraha selaku tim kreatif dan pengembangan Kelompok Sadar Wisata Lawok Kedu, saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (24/3/2018).

Yodistira Nugraha, tim kreatif dan pengembangan Pokdarwis Lawok Kedu Kelurahan Way Urang Kalianda [Foto: Henk Widi]
Pada kegiatan pelatihan memasak tersebut, diakui Yodistira Nugraha, bisa membantu kaum ibu rumah tangga yang berada di kawasan wisata. Setelah pelatihan memasak tersebut diharapkan kaum ibu rumah tangga di wilayah tersebut bisa mengembangkan potensi ekonomi kreatif dalam sektor wisata. Beberapa hasil kreasi kuliner boga bahari disebutnya bisa memberi pengalaman dan menu-menu baru yang dilatih oleh juru masak dari salah satu hotel di Lampung.

Waluyo selaku juru masak dari salah satu hotel di Lampung menyebut, kegiatan pelatihan memasak mempergunakan bahan hasil laut. Ada tiga jenis masakan yang dilatihkan kepada peserta dan kaum ibu rumah tangga di Pantai Kedu Warna di antaranya cumi bakar isi kedu warna, sop ikan tongkol, dan cumi kedu warna kombinasi. Bahan-bahan dari laut sengaja dipilih karena lokasi berada di dekat pantai dan tempat pelelangan ikan, yaitu pasar ikan higienis.

“Konsep kita belajar memasak bersama dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh sehingga bisa diterapkan sebagai menu keluarga dan dijual oleh pemilik usaha kuliner,” tutur Waluyo yang sudah menjadi juru masak selama 25 tahun tersebut.

Para ibu rumah tangga dan peserta Kedu Warna Camp 2018 belajar menyiapkan kuliner boga bahari [Foto: Henk Widi]
Desy, salah satu peserta pelatihan memasak menyebut, kegiatan memasak bersama yang langsung dilatih oleh juru masak berpengalaman memberi ilmu baru baginya. Beberapa jenis bahan baku dari laut diakuinya bisa dioleh menjadi kuliner boga bahari (sea food) yang selama ini hanya diolah menjadi menu biasa. Beberapa varian kuliner boga bahari diakuinya akan diterapkan sebagai menu untuk keluarganya.

Selain pelatihan memasak berbagai kegiatan juga akan digelar dalam Kedu Warna Camp 2018 di antaranya kegiatan atraksi seni. Hardian Septico selaku anggota komunitas Lastday29 sekaligus supervisi penyelenggara Kedu Warna Camp 2018 pada Sabtu (24/3) hingga Minggu (25/3) menyebut kegiatan tersebut merupakan upaya untuk memberdayakan masyarakat.

Kegiatan sejenis di tempat wisata diakui Hardian merupakan kegiatan ketiga yang dilakukan setelah sebelumnya dilakukan di Desa Margahayu Lampung Timur dan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), sebelumnya ketiga di Pulau Pahawang Kabupaten Pesawaran. Kegiatan di lokasi wisata sekaligus upaya pemberdayaan masyarakat agar bisa meningkatkan perekonomian di sektor wisata.

Salah satu menu hasil belajar memasak,. cumi bakar Kedu Warna [Foto: Henk Widi]
Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Lastday29 di antaranya belajar bersama pembuatan meja dan kursi dengan bahan baku dari sampah-sampah kayu yang bisa dibuat menjadi peralatan fungsional untuk wisata. Selain itu dari sampah plastik yang ada di tempat wisata bisa dibentuk menjadi anyaman untuk bahan tas, tikar, alas meja. Kreasi tersebut umumnya merupakan daur ulang sampah yang terdampar di tepi pantai dan bisa dimanfaatkan sebagai barang fungsional serta artistik.

“Khusus untuk pelatihan kami melibatkan tim kreatif dalam upaya pengembangan sumber daya manusia khususnya di sekitar tempat wisata,” tutur Hardian Septico.

Ia berharap dengan belajar bersama bersama pegiat wisata, Pokdarwis dan masyarakat peningkatan ekonomi kreatif bisa ditingkatkan. Ia menyebut upaya pengembangan sektor wisata bisa dilakukan melibatkan berbagai pihak termasuk menyiapkan lokasi wisata yang memadai, pemanfaatan sampah daur ulang dan juga melibatkan ibu rumah tangga dalam usaha kuliner.

Baca Juga
Lihat juga...