Kedu Warna Camp Dorong Wisata Berbasis Lingkungan

Editor: Satmoko

452

LAMPUNG – Pengembangan sektor wisata berbasis lingkungan terus didorong oleh para pegiat wisata, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lawok Kedu dan berbagai komunitas salah satunya Lastday29.

Kegiatan Kedu Warna Camp 2018 yang digelar sejak Sabtu (23/4) hingga Minggu (25/3) dan diikuti oleh ratusan peserta menjadi salah satu upaya menjaga lingkungan di objek wisata.

Salah satu kegiatan dilakukan dengan pembersihan sampah di area pantai dan dikumpulkan untuk dimusnahkan terutama plastik dan sebagian didaur ulang.

Yodistira Nugraha, selaku tim kreatif dan pengembangan Pokdarwis Lawok Kedu menyebut, pembersihan pantai merupakan salah satu kegiatan dalam Kedu Warna Camp 2018.

Area sekitar pantai terdiri dari lokasi perkemahan peserta, bibir pantai, sekitar danau tidak luput dari pembersihan sampah oleh para peserta. Sebanyak lebih dari lima ton sampah diakui Yodistira dibersihkan selama kegiatan sekaligus menambah jumlah sampah yang dibersihkan di tepi pantai yang mencapai lebih dari 30 ton terhitung sejak pantai tersebut dibuka pada awal 2018.

Ananda Tohpati, Ketua Umum Komunitas Lastday29 yang memperhatikan pengembangan dan pemberdayaan sektor wisata berbasis lingkungan [Foto: Henk Widi]
“Para peserta Kedu Warna Camp 2018 sekaligus mendorong pelaku bisnis wisata, pegiat wisata, Pokdarwis dan komunitas pemerhati lingkungan untuk peduli pada lingkungan terdekat. Salah satunya sampah pantai dan hari ini dilakukan acara bersih pantai,” terang Yodistira Nugraha selaku Tim Kreatif dan Pengembangan Pokdarwis Lawok Kedu saat dikonfirmasi Cendana News dalam kegiatan bersih Pantai Kedu Warna Kalianda, Minggu (25/3/2018).

Pembersihan pantai dari sampah diakui Yodis hanya menjadi salah satu upaya menjaga kebersihan lingkungan di objek wisata. Lebih dari itu Pokdarwis dan peserta Kedu Warna Camp 2018 terus mendorong berbagai pihak untuk ikut menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah ke sungai dan laut. Meski kerap dibersihkan, namun Yodistira mengaku kebersihan pantai tidak akan tercapai jika kesadaran masyarakat rendah untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Perhatian pada objek wisata berbasis lingkungan juga diperlihatkan dengan melakukan penanaman pohon di sekitar pantai. Selain itu menambah beberapa fasilitas tempat berteduh dari kayu dan atap daun rumbia.

Sebagian fasilitas meja dan kursi di lokasi wisata tersebut merupakan kreasi dari kayu-kayu bekas yang terdampar di pantai. Tyo Crafts selaku salah satu peserta bahkan melatih proses pembuatan meja dan kursi artistik yang meningkatkan nilai estetika objek wisata Pantai Kedu Warna.

Yodistira Nugraha, tim kreatif dan pengembangan Kelompok Sadar Wisata Lawok Kedu [Foto:Henk Widi]
“Kegiatan pembersihan sampah pantai merupakan bagian kegiatan Kedu Warna Camp 2018 karena berbagai kegiatan juga telah kita lakukan,” beber Yodistira.

Kegiatan Kedu Warna Camp 2018 juga mendapat dukungan dari sejumlah komunitas pemerhati dan pemberdayaan lingkungan lainnya. Salah satu komunitas yang peduli di antaranya Lastday29 yang diketuai oleh Ananda Tohpati, salah satu tokoh muda Lampung yang peduli akan pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.

Selain mendukung sektor wisata berbasis lingkungan komunitas tersebut bahkan memfasilitasi upaya menjaga lingkungan dengan konsep yang dimulai dari diri sendiri untuk meminimalisir membuang sampah sembarangan.

Upaya meminimalisir membuang sampah sembarangan diakui Ananda Tohpati dilakukan dengan membawa tas khusus sampah kemana pun pergi. Tas tersebut merupakan cara untuk mencegah masyarakat membuang sampah sembarangan sekaligus bisa dimanfaatkan untuk daur ulang dan pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitar lokasi wisata diakui Andes, sapaan akrab Ananda Tohpati, umumnya dilakukan secara spontan sesuai dengan situasi dan kebutuhan masyarakat di lokasi wisata tersebut.

“Awalnya Komunitas Lastday29 mendapatkan pengalaman dari Pokdarwis Lawok Kedu dan pegiat wisata lain dalam pengelolaan pantai yang semula dipenuhi sampah. Selanjutnya bisa disulap menjadi objek wisata yang menarik,” ujar Ananda Tohpati.

Ananda Tohpati juga mengapresiasi kegiatan Kedu Warna Camp 2018 yang diikuti oleh berbagai komunitas yang peduli pada pengembangan sektor wisata berbasis lingkungan tersebut. Ia bahkan menyebut sebelum ada kegiatan tersebut ia melihat
masyarakat di Kelurahan Way Urang Kecamatan Kalianda juga sangat mendukung pengembangan sektor pariwisata. Wujud upaya pengembangan tersebut dilakukan dengan membentuk Pokdarwis yang menyulap lokasi wisata bahari meski sebelumnya tidak menarik.

Melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat di sekitar kawasan wisata Ananda Tohpati mendorong Lastday29 berkontribusi bagi masyarakat yang peduli
menjaga lingkungan. Pihaknya juga mendukung setiap kegiatan yang berangkat dari keinginan masyarakat untuk memberdayakan potensi yang ada di masyarakat dalam sektor wisata.

Kegiatan di Pantai Kedu Warna melibatkan berbagai elemen diakui Ananda Tohpati sekaligus menjadi proyek percontohan bagi sejumlah destinasi wisata lain di Lampung.

Salah satu materi pemberdayaan kepada masyarakat dilakukan dengan hal sederhana di antaranya pemanfaatan limbah plastik. Komunitas Lastday29
di antaranya telah mengajari masyarakat di sekitar pantai membuat anyaman, papan nama, pembuatan meja dan kursi artistik dari kayu bekas.

“Berbagi pengetahuan dengan masyarakat dengan potensi yang mereka miliki sekaligus mendorong peningkatan ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi wisata terutama kaum perempuan,” ungkap Ananda Tohpati.

Beragam potensi yang ada di lokasi wisata juga telah dilakukan dalam pemberdayaan kaum perempuan dengan pelatihan memasak. Pelatihan memasak yang digelar pada Sabtu (24/3) mendatangkan Waluyo, juru masak profesional dari salah satu hotel berbintang di Lampung. Potensi sektor bahari dengan bahan baku tangkapan nelayan bisa diolah menjadi kuliner menyehatkan untuk keluarga kaum perempuan di wilayah destinasi wisata dan bisa untuk menambah penghasilan keluarga.

Dukungan dari berbagai pihak pada pengembangan sektor wisata khususnya di Pantai Kedu Warna juga diakui oleh Ibrahim Husin yang dikenal dengan sapaan Datuk Bawel. Sebagai Ketua Pokdarwis Lawok Kedu ia menyebut mengangkat sektor wisata butuh perjuangan.

Bersama sekitar 20 orang lebih tim Pokdarwis Lawok Kedu pembenahan pantai dilakukan di antaranya pembersihan sampah yang sejak awal tahun 2018 sudah diangkat sekitar 25 ton sampah lebih.

“Kami tidak pernah lelah mendorong masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan di sungai dan tepi pantai untuk menciptakan objek wisata sesuai standar Sapta Pesona,” ungkap Ibrahim Husin.

Laki-laki yang juga sebagai Kepala Lingkungan Sinar Laut tersebut bahkan menyebut dukungan dari pemerintah untuk kelengkapan destinasi wisata telah diberikan. Sebanyak empat objek wisata di Lampung Selatan di antaranya objek wisata bahari  Teluk Nipah, Minang Ruah,Tanjung Tua dan Pantai Kedu Warna mendapat bantuan. Bantuan fasilitas berupa mushola, toilet, baju renang, pengeras suara dan senter yang bermanfaat dalam pengembangan sektor wisata.

Baca Juga
Lihat juga...