Kedu Warna Camp, Upaya Dongkrak Pariwisata Lampung Selatan

Editor: Satmoko

270

LAMPUNG – Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lawok Kedu Kelurahan Way Urang Kecamatan Kalianda Lampung Selatan menggelar Kedu Warna Camp 2018.

Salah satu acara yang digelar dalam Kedu Warna Camp 2018 di antaranya diskusi wisata dihadiri Ponimin dari Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Lampung Selatan, Erdyansyah selaku Camat Kecamatan Kalianda, Akbar dari Komisi D DPRD Lampung Selatan, dan Hendrawan dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Lampung.

Diskusi yang dilakukan pada Sabtu malam (24/3) tersebut, menurut Ibrahim Husin selaku Ketua Pokdarwis Lawok Kedu, memiliki tujuan untuk memajukan sektor wisata di Lampung Selatan.

Ibrahim Husin menyebut, sebelum Pantai Kedu Warna bersih seperti saat ini sebanyak 20 ton sampah dikeluarkan dari kawasan pantai tersebut. Pengelolaan yang baik bekerja sama dengan berbagai pihak diakui laki-laki yang juga Kepala Lingkungan Sinar Laut tersebut membuat jumlah kunjungan wisatawan meningkat.

Ibrahim Husin, Ketua Pokdarwis Lawok Kedu Kelurahan Way Urang Kecamatan Kalianda Lampung Selatan dalam diskusi di Pantai Kedu Warna [Foto: Henk Widi]
“Butuh kesadaran masyarakat bukan hanya oleh pegiat wisata Pokdarwis agar sebuah destinasi wisata tetap terjaga dengan baik termasuk dalam pengelolaan sampah,” ungkap Ibrahim Husin selaku Ketua Pokdarwis Lawok Kedu saat membuka diskusi wisata di Pantai Kedu Warna, Sabtu malam (24/3/2018).

Penyelenggaraan Kedu Warna Camp 2018, diakui Ibrahim Husin, selain meningkatkan kunjungan wisata ke pantai tersebut sekaligus menjaga kesadaran untuk menjaga lingkungan.

Lingkungan pantai yang selama ini sudah kerap dipenuhi sampah dari perairan harus tetap dijaga dengan adanya kesadaran dari masyarakat yang tinggal di dekat kawasan wisata. Selain menjaga kawasan wisata melalui program sapta pesona, menjaga kelestarian budaya juga bisa dilakukan misalnya dengan menjaga kesenian yang ada di wilayah Lampung.

Ponimin dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mengungkapkan, salah satu upaya pelestarian budaya yang ada di Lampung Selatan dengan menghadirkan kesenian tarian Sigekh Pengunten, tari Bedana dari Pokdarwis Lawok Kedu, dan tarian Puspanjali dan Cendrawasih dari Sanggar Seni Desa Balinuraga Kecamatan Way Panji pada malam diskusi wisata tersebut.

“Lampung Selatan memiliki kekayaan wisata dan budaya sehingga masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan dan melestarikannya,” terang Ponimin.

Akbar, anggota komisi D DPRD Lampung Selatan menyebut, upaya pengembangan sektor wisata harus melibatkan berbagai pihak. Ia menyebut mendukung langkah Pokdarwis Lawok Kedu yang melakukan iven lintas sektoral agar pantai di Lamsel semakin dikenal. Ia menyebut, pemberdayaan masyarakat dari sektor wisata akan memberi dampak positif bagi masyarakat yang tinggal di kawasan wisata.

Akbar juga menyebut, berdasarkan pengalaman dari sejumlah destinasi wisata di Indonesia, sejumlah destinasi wisata bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kondisi tersebut diakuinya harus bisa dicontoh dan diaplikasikan di Lampung Selatan yang memiliki potensi destinasi wisata cukup menjanjikan.

Ananda Tohpati (jaket coklat) Ketua Umum Lastday29 yang hadir dalam diskusi wisata di Pantai Kedu Warna [Foto: Henk Widi]
“Diskusi malam ini akan menjadi awal dan melanjutkan kepedulian bagi para pemerhati sektor wisata bekerja sama dengan pemangku kebijakan dan pelaku jasa wisata,” tegas Akbar.

Ia juga mendukung kegiatan Pokdarwis Lawok Kedu yang bekerjasama dengan beberapa komunitas di antaranya Lastday29, Green, Mumy dan beberapa komunitas pemerhati wisata. Kondisi Pantai Kedu Warna yang semula dipenuhi sampah atas koordinasi dan kerja keras masyarakat serta Pokdarwis Lawok Kedu menghasilkan pantai yang kini bisa menjadi destinasi favorit di Lampung Selatan.

Salah satu kegiatan yang digagas oleh Lastday29 dengan Ketua Umum Ananda Tohpati bahkan telah memberikan pelatihan pembuatan kerajinan bernilai jual dari barang bekas. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan di antaranya pelatihan pembuatan barang multifungsi dari sampah yang pernah digelar di Pulau Pahawang Kabupaten Pesawaran dan di Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur.

Isu lingkungan hidup dalam pengembangan wisata yang digagas oleh Lastday29 juga diwujudkan dengan penanganan sampah berkelanjutan. Komunitas Lastday29 bahkan terus mendorong penanganan sampah agar lokasi tempat wisata tidak menjadi lokasi pembuangan sampah. Kepedulian dengan sampah tersebut diwujudkan dengan meminimalisir penggunaan tempat minum berbahan plastik dan tas untuk membuang sampah.

Ananda Tohpati selaku Ketua Umum Lastday29 yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi berbagai elemen yang peduli akan lingkungan dan sektor wisata. Upaya Lastday29 dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dalam sektor wisata dan lingkungan.

Selain di wilayah Lampung Lastday29 juga dalam waktu dekat akan melakukan kegiatan di daerah aliran Sungai Citarum Jawa Barat. Kegiatan Kedu Warna Camp 2018 bisa menjadi awal kesadaran akan lingkungan bersih yang sekaligus menjadi destinasi wisata.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.