Kegiatan Belajar SDN 2 Pematang Lancar dalam Keterbatasan

Editor: Irvan Syafari

321

LAMPUNG — Sebuah bangunan sekolah tepat berada di Jalan Penghubung, Kecamatan Palas dan Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan. Bangunan sekolah merupakan bangunan SDN 2 Pematang Baru, meski tidak ada plang penanda.

Romiati (33), salah satu guru di SDN 2 Pematang Baru menuturkan, sekolah yang berdiri puluhan tahun silam tersebut masih menjadi lokasi untuk belajar siswa dengan penanda yang masih rusak dan belum terpasang.

Sebagai salah satu sekolah negeri, kata dia, saat ini kegiatan belajar mengajar masih tetap berjalan dengan normal, meski hanya ada dua lokal. Dua lokal tersebut disebutnya digunakan untuk belajar sebanyak 22 siswa di antaranya siswa kelas satu sebanyak 3 siswa, siswa kelas dua sebanyak 2 orang, siswa kelas tiga sebanyak 3 orang, siswa kelas empat sebanyak 3 siswa, siswa kelas lima sebanyak 5 orang, dan siswa kelas enam sebanyak 6 orang.

“Siswa memang sangat terbatas karena ada sekolah dasar negeri yang berada di desa ini sehingga sebagian memilih bersekolah di SDN 1 Pematang Baru yang ada di desa Pematang Baru,” ujar Romiati saat ditemui Cendana News, Kamis (22/3/2018).

Sekolah yang berdekatan dengan Desa Marga Sari, Kecamatan Sragi tersebut dua pekan sebelumnya, sempat terisolir akibat banjir. Aktivitas masyarakat yang berada di dekat tanggul penangkis Sungai Way Pisang, terganggu meski tidak berdampak bagi siswa sekolah. Meski demikian kegiatan para orangtua, yang akan melakukan aktivitas di Kecamatan Palas dan Sragi sempat terhambat.

Meski berada di daerah yang jauh dari Ibu Kota Kecamatan, Romiati sebagai guru sekolah mengaku tetap memiliki semangat mengajar. Ia menyebut, dua ruang kelas tersebut sempat disekat mempergunakan papan dan triplek, kelas 1,2 dan kelas 4 dalam satu ruang belajar dan kelas 3,5 dan kelas 6 belajar dalam satu ruangan. Dua papan tulis terpaksa dipergunakan untuk kegiatan belajar tiga kelas dalam satu ruang belajar tersebut.

“Sempat disekat mempergunakan papan dan triplek namun karena terlihat sempit akhirnya sekat dibuka untuk tiga kelas belajar,” papar Romiati.

SDN 2 Pematang Baru saat ini memiliki lima guru. Tiga guru di antaranya berstatus PNS dan 2 lagi masih berstatus honorer. Kepala sekolah Iis Sugiwangsih, ketika Cendana News singgah tengah mengikuti kegiatan di kabupaten. Beberapa guru lain tengah menyelesaikan administrasi untuk program keluarga harapan bagi para siswa.

Selain lokal yang terbatas,pada beberapa bagian dinding bangunan kelas SDN 2 Pematang Baru tersebut sebagian sudah terkelupas akibat dimakan usia. Meski demikian sekolah tersebut masih bisa dipergunakan untuk kegiatan belajar mengajar dan pernah mendapatkan program rehabilitasi dari pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Lampung Selatan.

Dalam keterbatasan, siswa tetap memiliki semangat belajar termasuk dalam mengikuti ujian tengah semester (UTS). Keterbatasan siswa kelas enam yang hanya berjumlah sebanyak 6 siswa, saat Ujian Akhir Nasional kerap menginduk ke sekolah terdekat. Beruntung lokasi sekolah SDN 1 Pematang Baru dan SDN 2 Pematang Baru berada dalam satu desa.

Dimas, salah satu kelas 4 menyebut, meski dalam satu kelas hanya terdiri dari tiga siswa ia mengaku tetap akan bersekolah di SDN 2 Pematang Baru. Selain lokasi yang berada di dekat rumah dengan belajar bersama siswa yang lebih sedikit ia mampu belajar dengan fokus. Seperti sekolah lain yang memiliki perpustakaan dirinya juga berharap fasilitas perpustakaan yang lengkap juga bisa diadakan di sekolah tersebut.

“Saat jam istirahat yang kami lakukan hanya bermain di halaman karena tidak ada fasilitas perpustakaan,” ungkap Dimas.

Menurut Dimas fasilitas ruang kelas yang digunakan untuk siswa kelas lain sudah dijalaninya selama hampir empat tahun. Keterbatasan ruang kelas sehingga siswa belajar dalam satu ruangan menjadi hal biasa.

Dia tidak merasa terganggu dengan kondisi tersebut. Saat rekan kelas lain belajar ia dan kawan kawannya bahkan kerap dianjurkan untuk tidak mengganggu agar kelas lain fokus belajar.

Baca Juga
Lihat juga...