Kemanunggalan TNI-Rakyat Kunci Hadapi Setiap Ancaman Bangsa

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

579

YOGYAKARTA — Semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda, kemanungalan TNI dan rakyat, serta sinergitas seluruh elemen bangsa sangat diperlukan guna menghadapi setiap ancaman bangsa di era proxy war saat ini.

Hal itu diungkapkan Gubernur Akademi Militer Magelang, Mayjen TNI Eko Margiono saat menjadi pembicara dalam acara Seminar Peringatan Serangan Oemoem 1 Maret 1949 bertema Implementasi Nilai-nilai Patriotisme SO 1 Maret Untuk Kejayaan Indonesia yang digelar Yayasan Harapan Kita bekerjasama dengan Yayasan Kajian Citra Bangsa, bertempat di Moseun Benteng Vredeburg Yogyakarta, Kamis (01/03 /2018).

Eko Margiono menyebutkan, di era proxy war seperti saat ini, setidaknya terdapat tiga ancaman yang paling mungkin dihadapi segenap elemen bangsa dan negara. Yakni persoalan terorisme dan radikalisme, intoleransi, serta narkotika. Ketiga hal tersebut dikatakan merupakan ancaman nyata yang tengah dihadapi generasi muda di Indonesia saat ini.

Untuk menangkal ancaman terorisme dan radikalisme, Eko menilai bisa dilakukan dengan memberantas setiap benih paham yang bertentangan dengan nilai-nilai pancasila. Selain itu juga meningkatkan pemahaman, serta menyaring segala informasi, agar tidak mudah terpengaruh dan menerima paham radikal.

“Apalagi di jaman sekarang ini, media sosial kerap digunakan, karena sangat evektif menjaring generasi muda. Itu bisa terjadi karena ketidakmengertian dan ketidakpahaman,” katanya.

Sementara itu, untuk mengatasi persoalan intoleransi di tengah kondisi negara yang dibangun atas berbagai macam suku bangsa, menurut Edi, diperlukan kesadaran bersama untuk senantiasa menyerukan perdamaian dan menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa bernegara.

“Agar tidak terjebak narkotika, generasi muda harus selektif bergaul, jangan takut memilih teman. Selain juga harus memiliki aktifitas positif, yang berorientasi pasa masa depan, dengan cara berusaha meraih prestasi setinggi mungkin,” katanya.

Berbicara soal peristiwa sejarah SO 1 Maret, Eko menyebut setidaknya ada sejumlah hal yang bisa dipetik. Yakni patriotisme, atau sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segalanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya. Semangat cinta tanah air, hingga kemanungalan TNI dan rakyat yang senantiasa harus dijaga.

“Nilai yang bisa dipetik dari peristiwa SO 1 Maret antara lain adalah patriotisme, sikap rela berkorban, pantang menyerah, cinta tanah air, dan rasa sepenanggunga. Peristiwa SO 1 Maret juga menjadi bukti bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat sudah terjadi sejak lama. SO 1 Maret tidak mungkin terjadi tanpa dibantu rakyat. Itu yang tidak banyak dibahas dan diungkit,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...