Kembang Bakung

CERPEN YUS R. ISMAIL

641

“Menggigil tapi badannya panas, Bu,” kata Mang Karta menceritakan keadaan anaknya, Siti. “Sejak dua hari yang lalu panasnya, Bu.”

“Kenapa tidak dibawa ke Puskesmas?”

“Katanya mau sama Ibu saja.” Mang Karta diam beberapa saat. “Maafkan anak saya, Bu, sudah semakin kurang ajar sama Ibu.”

Saya meneguk segelas air putih, mengambil tas stetoskop, mewadahi obat ke dalam plastik, lalu keluar rumah.

Bik Minah mencegat saya di pintu. “Katanya Ibu mau mandi, air hangatnya sudah siap,” katanya.

“Nanti saja, Bik, saya nengok Siti dulu,” kata saya. Lalu berangkat dengan Mang Karta.

Hari menjelang Maghrib. Saya sebenarnya baru sampai setelah tiga hari ada keperluan ke kota. Yang dimaksud kota adalah Sumedang, ibu kota kabupaten, atau Bandung, ibu kota propinsi. Karena keperluan saya ke Bandung, sekalian saya mampir ke rumah Om Ardi, adik Ayah.

Pulang dari Bandung bukanlah perjalanan ringan bagi saya. Berdesakan di elf dari terminal Cicaheum, kadang berjam-jam ngetem di Cibiru. Sampai di Cadas Pangeran, dilanjutkan dengan angkutan umum sampai Ciwening.

Terakhir naik ojek selama satu jam, melewati perkebunan penduduk, tepi hutan, dan jalan berbatu. Bila musim hujan tiba seperti sekarang, lebih sengsara lagi. Jalanan licin, motor bisa terpeleset di mana saja.

Untungnya ada beberapa tukang ojek tetangga saya yang siap mengantar atau menjemput saya kapan saja, selalu hormat dan menjaga saya.

Badan Siti memang panas, 38.7 derajat celcius. Tapi anak itu seperti tidak merasakannya. Saya kasih parasetamol dan vitamin.

“Bu, jadi kita belajar bahasa Inggris itu?” tanyanya.

“Tentu dong, tapi Siti harus sembuh dulu,” jawab saya. “Pasti gara-gara hujan-hujanan lagi, ya?”

Siti tersenyum. “Besok juga sembuh, Bu,” katanya yakin.
***
Sampai di depan rumah hari sudah mulai gelap. Lampu depan sudah dinyalakan Bik Minah. Rumah sederhana, kecil, terlampau sederhana malah buat saya yang sejak kecil tinggal di perumahan elit di Jakarta. Rumah dinas buat dokter di kampung terpencil ini.

Kebun seluas sepuluh bata (140 meter persegi) di sebelah rumah, dibuat taman dengan bantuan Mang Karta dan tetangga lainnya. Sebuah gubuk bambu, panggung, berdiri cantik di tengah taman. Gubuk tempat anak-anak membaca buku dan belajar apa saja. Baru sebulan gubuk itu dibangun.

Siti yang mempunyai ide. Anak kurus itu membaca buku hampir setiap hari. Kebetulan saya mempunyai koleksi buku bacaan. Mulai dari cerita, dongeng, sampai ensiklopedia. Sejak kecil hobi saya membaca dan mengoleksi buku. Untuk teman sepi saja sebagian saya bawa ke sini.

“Seandainya Ibu punya taman, ada gubuk di tengahnya, kita bisa lebih leluasa membaca dan belajar ya, Bu,” kata Siti suatu kali. Mungkin dia merasa canggung saat datang untuk membaca buku saya kelihatan masih lelah.

Besoknya Siti datang lagi dengan laporan baru. “Bu, kata Abah saya, kalau Ibu ingin dibuatkan gubuk, boleh dipakai saja kebun di sebelah rumah ini,” katanya. “Kebun itu kan dititipkan ke Abah saya.”

Tiga hari kemudian, hari minggu, Mang Karta datang bersama tetangga lainnya. Mereka membersihkan kebun, membuat taman, membangun gubuk bambu. Anak-anak bergembira ikut membantu. Ibu-ibunya membuat nasi liwet. Sorenya sudah berdiri sebuah gubuk, taman yang tertata rapi meski tanamannya baru sedikit.
***
Duduk di gubuk panggung menjelang gelap, saya seperti menyusuri perjalanan yang menakjubkan. Sampai tiga tahun yang lalu ketika begitu gembiranya saya diantar Ayah dan Ibu menghadiri wisuda, tidak terbayangkan sedikit pun episode perjalanan hidup seperti ini.

“Jadi pegawai negeri itu lebih terjamin saat ini,” kata Ayah. Entah apa yang ada di pikiran Ayah saat itu. Karena Ayah sendiri adalah seorang pengusaha. Ibu yang menjadi pegawai negeri, guru di sebuah SMU. “Mendaftarlah ke Departemen Kesehatan, pengabdian ke pelosok tidak terlalu lama.”

Baca Juga

Sakura Gugur

Tapi waktu yang tidak terlalu lama itu telah membuat saya terpana. Seorang anak yang batuk menyambut saya di Puskesmas yang sangat sederhana. Batuk yang memercikkan setetes darah TBC.

Saya merasa ngeri waktu meraba dada anak yang kurus itu. Ngeri karena dada tulang berbungkus kulit itu menggambarkan lingkaran setan kemiskinan – kebodohan – kurang gizi. Nyatanya saya menghadapi lingkaran setan itu setiap hari.
***
Lembah Ciceuri sebenarnya bertanah subur. Sepertinya pohon apapun yang ditanam di sini akan tumbuh bagus. Katanya, mata air memancar di mana-mana. Dulu, sebelum pepohonan ditebang. Sebelum kebun-kebun penduduk berpindah tangan ke pemilik yang jarang datang. Sebelum hutan Ciceuri gundul karena dibuat peternakan ayam.

Orang-orang kota berebut membeli tanah di sini. Mungkin karena harganya sangat murah. Tanah seluas sepuluh hektar, dua puluh hektar, lalu dibatasi tembok tinggi atau pagar kawat. Pemiliknya hanya dikenal dengan nama sandinya, “pejabat di Bandung” atau “orang terkenal di Jakarta”.

Pepohonan besar ditebangi. Mata air semakin jarang. Penduduk asli kemudian menjadi petani penggarap atau pengurus kebun. Mereka tinggal di rumah-rumah sederhana, berjauhan, kadang hanya satu-dua rumah di kebun yang luas.
Cerita seperti itu tentu saya tidak mengalaminya. Karena ketika saya datang tiga tahun yang lalu, Lembah Ciceuri sudah gersang. Bila kemarau tiba, penduduk menghemat air. Bila musim hujan tiba, jalanan becek, licin, dan sunyi.

Tapi di dalam hati saya lebih sunyi lagi. Saya teringat suatu pagi di hari minggu, saat jalan-jalan menyusuri perkampungan, saya mampir ke sebuah rumah. Mereka sedang makan. Saya ikut makan. Saya harus mencoba akrab dengan mereka, membiasakan diri makan apa yang mereka makan. Saya begitu terpana saat suap pertama masuk ke mulut. Gigi saya berhenti mengunyah. Saya ingin muntah, tapi ditahan.

“Maaf, Bu, nasinya tidak pakai bumbu-bumbu,” kata Mak Esih sudah terus rasa. “Saya tidak mengira Ibu akan ikut makan, jadi beras raskin saya tanak biasa saja.”

Semalaman saya tidak bisa tidur. Hampir setiap hari mereka makan seperti itu. Bagaimana bisa kebutuhan gizi mereka cukup? Bagaimana dengan anak-anak? Mereka memelihara ayam, tapi menjelang musim hujan ayamnya mereka jual. Mereka tidak menganggap penting menanam sayuran di halaman.
***
Setelah dua tahun saya mengabdi di Puskesmas terpencil ini, Ayah dan Ibu menjemput.

“Saatnya sekarang kamu pulang. Meneruskan profesi atau spesialis. Masa depanmu ada di Jakarta atau kota besar lainnya,” kata Ayah.

Tapi saya menangis. Saya pulang ke Jakarta. Jakarta yang ramai. Jakarta yang padat. Tapi saya merasa kesepian. Ada sesuatu yang perih di dalam hati saat memandang anak-anak kecil menadahkan tangan di tempat pemberhentian, orang-orang mengais sampah di pembuangan akhir, orang-orang berdesakan sampai ada yang pingsan bahkan meninggal setiap orang kaya atau pejabat membagikan sembako gratis atau angpau. Saya seperti orang buta yang baru saja diberi keajaiban bisa melihat.

“Saya mau sekolah lagi, tapi mau kembali lagi ke Ciceuri,” kata saya.

“Kenapa?” Ayah seperti yang bingung. “Bagaimana kamu akan mendapat jodoh kalau kamu tetap di sana?”

Saya tersenyum. “Ah, Ayah, itu kan urusan Tuhan. Kita hanya wajib terbuka dan berusaha,” kata saya.

Ibu memeluk saya. “Ibu percaya, hati kamu begitu indah,” bisiknya. Airmatanya terasa membasahi pipi saya.
***
Hari minggu pagi Siti datang dengan membawa bibit bunga bakung.

“Ini bunga bakung hutan, Bu,” katanya. “Bunganya merah menyala, pink, ada juga yang putih. Orang sini biasa memakai bunga bakung ini sebagai pertanda musim hujan. Meski hujan sudah turun sekali-kali, tapi bila bunga bakung ini belum berbunga, orang sini tidak berani bertani.”

“Oh, jadi kemarin demam itu karena mencari bunga bakung hutan kehujanan, ya?”
Siti tersenyum. “Tapi nanti taman kita akan indah, Bu,” katanya. “Saya ingin pintar, Bu.”

Teman-teman Siti mulai berdatangan. Mereka menjinjing pepohonan, entah pohon apa. Mereka mencium tangan saya. Saling bercanda dengan yang lainnya.
Saya tersenyum. Tapi hati ini tetap merasa sepi. Saya seperti orang buta yang baru saja diberi keajaiban bisa melihat. ***

Keterangan:

Raskin = Beras miskin, beras dari pemerintah yang dibagikan untuk masyarakat miskin. Di RT/RW biasanya harus ditebus dengan harga sekiar 2-3 ribu rupiah per kilogram. Raskin seringkali berbau apek yang luar biasa. Memasaknya harus memakai bumbu pandan, salam, serai, biar bau apeknya berkurang.

Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi. Buku fiksinya yang sudah terbit Si Kabayan Return (BIP, 2017), Dongeng Putri Bulan (Bitread, 2017), Miss Maya and other Sundanese Stories (Kiblat Desember 2014, Yayasan Lontar 2017) yang menyertakan lima judul carpon (cerpen berbahasa Sunda) Yus di dalamnya, diterjemahkan oleh C.W. Watson. Selain itu adalah Pohon Tumbuh Tidak Tergesa-gesa, Disebabkan Oleh Cinta, Sepanjang Jalan Cinta, Pencuri Hati, dan sebagainya. Cerpen-cerpennya pernah dipublikasikan di Media Indonesia, Kompas, Republika, Koran Tempo, Suara Karya, Tribun Jabar, Pikiran Rakyat, Horison, dan sebagainya.

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Karya orisinil, belum pernah tayang di media online maupun cetak dan juga buku. Kirim naskah ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...