banner lebaran

Kepemimpinan Pak Harto di Mata Tanri Abeng

Editor: Koko Triarko

1.308

JAKARTA – Tanggal 7 Maret adalah tanggal kelahiran Tanri Abeng, Menteri Negara Pendayagunaan BUMN pada Kabinet Pembangunan VII masa jabatan 16 Maret 1998 – 20 Oktober 1999. Sebagai mantan menteri pada zaman Orde Baru, Tanri Abeng tentu dekat dengan Presiden Soeharto dan mengerti gaya kepemimpinannya pada saat Orde Baru.

Menurut Tanri Abeng, Presiden Soeharto memenuhi syarat sebagai seorang pemimpin dan mampu memberikan kemajuan yang sangat pesat bagi bangsa Indonesia.

Ada tiga syarat utama yang harus dimiliki seorang pemimpin hebat, yaitu memiliki visi, integritas dan keberanian. “Menariknya, semua syarat tersebut ada dalam diri seorang Soeharto. Sehingga mampu mengembalikan Indonesia yang terpuruk pada 1967 dalam waktu singkat melonjak dengan pembangunannya,” katanya.

Berkat visi yang detil dan mendalam dari pemikiran Soeharto melihat masa depan Indonesia, maka kondisi buruk ekonomi bisa lolos.  “Soeharto punya visi newly industrialized nation. Hal tersebut diwujudkan melalui pengelolaan teknologi pangan yang sukses, hingga berhasil menjadi swasembada pangan,” katanya.

Indonesia meraih penghargaan kemandirian pangan dari FAO pada 1988 dan setelah itu tidak pernah lagi.

Lalu, untuk integritas, sosok Soeharto merupakan jati diri anak bangsa yang menjunjung integritas. Sepenuh hati dan berbulat tekad mendorong Indonesia menjadi negara yang berkekuatan secara utuh.

Sedangkan syarat ketiga, kata Abeng, bagi seorang pemimpin perlu memiliki keberanian atau keteguhan. Kemampuan mengambil keputusan dalam kondisi sesulit apa pun. Sekaligus mendelegasikan kewenangan pada pihak yang diyakini mampu.

Amat jarang Soeharto turun langsung “blusukan”untuk mengetahui keadaan di bawah, melainkan memanfaatkan sistem yang dibangun dan dia tidak pernah menyalahkan bawahannya secara terbuka kepada pers.

“Namun, Pak Harto tak pernah menghindar dari tanggung jawab. Delegasi kewenangan yang diberikan tetap dipikul tanggung jawabnya sendiri. Inilah sosok pemimpin bangsa,” ujarnya.

Dengan bekal itulah Indonesia yang secara ekonomi, politik dan sosial mengalami kemunduran di awal era Orde Baru, dapat perlahan membaik. Tatanan politik yang stabil berhasil diciptakan, tatanan sosial yang kuat juga tumbuh. Hingga kondisi ekonomi pun melonjak hebat.

“Inflasi 600 persen bukanlah kondisi yang bisa dianggap biasa. Itu sudah kondisi darurat bagi sebuah negara. Namun, kerja visi, integritas dan courage yang dimiliki Pak Harto berhasil melewati situasi tersebut,” jelasnya.

Selain kagum atas gaya kepemimpinan Presiden Soeharto, Abeng juga menceritakan kebiasaan ‘The Smiling General’ ini ketika menerima tamu. “Waktu itu saya belum menjadi Menteri. Saya diundang beliau untuk memberikan solusi bagaimana memprivatisasi BUMN untuk membayar utang IMF,” kata Tanri, saat menjadi narasumber dalam acara Sarasehan Refleksi Kepemimpinan HM Soeharto dalam Membangun Kemandirian Bangsa di Universitas Mercu Buana, Jakarta Barat, Sabtu (13/4/2013).

Saat itu, Abeng belum pernah berhadapan langsung dengan Presiden Soeharto. Saat diundang itu, ia mengaku sangat gugup. Sebelum melakukan pertemuan dengan Presiden, Tanri sempat meminta penjelasan terlebih dahulu kepada Moerdiono yang saat itu menjabat sebagai Mensesneg masa pemerintahan Soeharto.

“Satu minggu kemudian, saya dipanggil oleh Pak Harto. Saya belum pernah bertemu berdua. Saya sampai minta Pak Moerdiono, adat istiadatnya bagaimana, dia bilang kalau sudah disuruh minum teh, berarti selesai pertemuan,” ucap Abeng.

Abeng pun mengikuti ‘petunjuk’ dari Moerdiono tentang kebiasaan Soeharto ketika menerima tamu.

Dalam pertemuannya membahas penjualan aset 158 BUMN selama beberapa menit, disuruhlah ia minum teh dan itu menjadi pertanda pertemuan selesai.

“Akhirnya, dalam pertemuan lainnya, saya sudah mengetahui, setiap disuguhi teh, tandanya pertemuan selesai,” kata Tanri.

Abeng memiliki sejumlah kenangan terhadap Presiden Soeharto saat memimpin Republik Indonesia. Namun, satu hal yang tak pernah ia lupa, yaitu ucapan Soeharto saat menghadapi media yang dengan tenang menyampaikan soal hutang International Monetary Funds saat Indonesia dilanda krisis moneter pada 1997.

“Saat itu, beliau dengan tenang menghadapi media, dan mengumumkan bahwa kita perlu hutang dengan IMF,” ucap Tanri saat menjadi narasumber dalam acara Sarasehan Refleksi Kepemimpinan HM Soeharto dalam Membangun Kemandirian Bangsa di Universitas Mercu Buana, Jakarta Barat, Sabtu (13/4/2013).

Yang menjadi luar biasa, menurut Tanri yang kini sebagai Pakar Manajemen Kepemimpinan, yaitu bahwa popularitas Soeharto yang sempat ‘mendunia’ ini terpaksa anjlok lantaran terpaksa menyampaikan hutang terhadap IMF ini.

Sebab, saat itu belum diketahui bagaimana cara melunasi hutang IMF yang nilainya cukup besar itu, yang pada 1999 mencapai 148 miliar US Dollar.

“Januari 1998. Setelah Pak Harto menandatangani itu, ia dikritik. Namun dia dengan tenang berani keluar dan menghadapi media. Ia bilang jangan takut dengan hutang. Kita masih banyak BUMN,” kata Abeng.

Menurutnya, sikap yang ditunjukkan ‘The Smiling General’ ini adalah sikap yang berani mengambil keputusan dan siap bertanggung jawab atas dampak keputusan tersebut. Hal itu juga terlihat ketika Soeharto ‘dipaksa’ mundur dari kursi kepresidenan pada Mei 1998 dan tentu menghakhiri masa kepemimpinannya menakhodai Negara Kesatuan Republik Indonesia selama 32 tahun.

Dalam buku “Pak Harto The Untold Stories” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Abeng menulis ‘Negara dan Bangsa Hanya Sebaik Pemimpinnya’, yang antara lain mengenai kepemimpinan Presiden Soeharto.

Sebagai manajer puncak sebuah negara-bangsa, Pak Harto memiliki kombinasi kemampuan manajerial yang hebat dengan kepiawaian memimpin. Tidak banyak pemimpin yang memiliki kompetensi ini. Ada yang pandai memimpin  tetapi manajemennya kacau, atau sebaliknya ada yang menguasai manajemen tetapi kepemimpinannya lemah.

Kemampuan Pak Harto sebagai manajer puncak dibuktikannya sejak awal ia mengambil alih kepemimpinan republik ini dari Bung Karno. Ketika itu, kondisi sosial, politik, dan utamanya ekonomi, demikian parahnya. Kelangkaan pangan, inflasi yang tidak terkendali pada kisaran 600 persen, nilai rupiah yang terus merosot, suku bunga yang tinggi, dapat dikendalikan Pak Harto dalam waktu relatif singkat.

Pada saat itu, Pak Harto dihadapkan pada dua pilihan, apakah harus berbenah dulu baru membangun atau membangun dulu baru berbenah? Ternyata, Pak Harto mampu melakukan keduanya dalam waktu bersamaan, sehingga pada periode pemerintahannya yang pertama telah terjadi proses turn-around, khususnya di bidang ekonomi. Ini bisa dicapai karena Pak Harto menempatkan skala prioritas dari sekian banyak tugasnya yang mendesak. Juga karena kemampuannya mengambil keputusan yang cepat, dan ia memiliki sense of urgency yang tinggi.

Sebagai pemimpin, Pak Harto mempunyai visi yang jelas dan sangat jauh ke depan. Ini disertai kemampuannya menerjemahkan visi ke dalam strategi untuk dilaksanakan oleh orang-orang yang dipilihnya. Misalnya, visi pembangunan jangka panjang 25 tahun yang dijabarkan ke dalam 5 Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), kemudian mampu dioperasionalisasikannya ke dalam Anggaran Perencanaan Belanja Negara (APBN).

Bagi seorang yang sama sekali tidak memiliki latar belakang akademis, pemikiran, konsep, dan wawasan jangka panjang Pak Harto dalam membangun negara-bangsa, sangatlah luar biasa.

Abeng melihat Pak Harto bukan saja pemimpin secara politis. lebih dari itu, ia memiliki kualitas negarawan. Negarawan berpikir jauh ke depan —yang mereka pikirkan adalah generasi mendatang, bukannya pemilu mendatang (ciri khas politisi). Dalam khazanah kepemimpinan, ada tiga hal yang harus dimiliki seorang pemimpin.

Pertama adalah vision; Pak Harto mewujudkan visinya dengan menjadikan Indonesia sebagai negara yang masuk dalam newly industrialized nation, dengan berswasembada pangan.

Kedua adalah value, integritas dan motivasi untuk memberikan yang terbaik bagi negara-bangsa. Hal ini terefleksi dari pikiran dan tindakannya. Yang ketiga adalah courage, Pak Harto berani mengambil keputusan dengan cepat, dan mengangkat orang-orang yang tepat. Ia mendelegasikan tugas dan kewenangan, namun tetap memikul tanggung jawab sebagai pemimpin puncak.

Sebagai kepala negara, Pak Harto sangat memperhatikan detail, suatu kelebihan yang juga dimiliki Bung Karno. Karena ia juga seorang yang berpartisipasi secara aktif dan fokus, Pak Harto mampu berdialog dengan siapa saja, mulai dari petani, nelayan, pegawai negeri, hingga orang-orang di level tinggi dan tertinggi, termasuk kepala lembaga tinggi negara.

Tanri Abeng, yang malang melintang menimba ilmu di Amerika Serikat, di usia 29 menjadi Direktur sekaligus Coorporate Secretary termuda sebuah perusahaan asing dan berkedudukan di Singapura. Sebuah prestasi dan prestise tersendiri di negeri ini.

Abeng yang meraih doktor Ilmu Multidisiplin di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dengan predikat cumlaude, ini pernah menjadi komisaris PT Bursa Efek Jakarta, dan Komisaris Utama PT Telkom, serta menjadi host program “Managing The Nation with Dr. Tanri Abeng” di sebuah televisi swasta. Satu-satunya program  TV yang menghadirkan narasumber yang sangat kompeten untuk membahas berbagai permasalahan bangsa ini dari sudut pandang managemen.

Ada pun, jabatan Abeng sebagai Menteri Negara Pendayagunaan BUMN pada Kabinet Pembangunan VII di zaman Orde Baru dicatat dengan tinta emas dalam sejarah Indonesia.

Pada 7 Maret 2018, Tanri Abeng memasuki usia 76 tahun. Kita doakan, Tanri Abeng panjang umur, sehat wal afiat, sejahtera, dan senantiasa bahagia. Amien.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.