Kivlan Zein : Bahaya Komunis Sudah di Depan Mata

Editor: Mahadeva WS

697

KEDIRI — Ancaman bahaya dari Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah berada di depan mata. Kondisi saat ini tidak ubahnya seperti kondisi di 1948 dan 1965 saat PKI melakukan pemberontakan.

Mereka yang berasal dari keluarga PKI sudah dengan terang-terangan mengaku bangga menjadi anak PKI. Bahkan berani menuntut agar negara mau meminta maaf kepada mereka.

“Mereka juga sudah berani mengadakan kongres PKI di Cianjur maupun di Magelang  dan membentuk satu partai secara diam-diam, partai di bawah tanah. Apabila nanti sudah kuat, rencana mereka tahun 2019 mereka akan ikut masuk ke partai semua untuk menjadi anggota MPR dan DPR,” Ungkap Mayjen TNI (Purn) Kivlan  Zein, saat menjadi pembicara di acara Refleksi 53 tahun teror PKI Kanigoro, Minggu (11/3/2018).

Kivlan menyebut, setelah masuk di parlemen, maka orang-orang PKI ini akan berusaha agar Tap MPR mengenai larangan dan pembubaran PKI bisa segera dicabut. Sementara dari catatannya, sudah ada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Kalimantan Barat yang membuat kalender komunis untuk dibagi-bagikan.

Kemudian di Madura ada bendera Komunis ikut dalam perayaan 17 Agustus, di Jember juga ada lambang-lambang PKI. Anehnya menurut Kivlan, semua kasus tersebut sudah dilaporkan tapi tidak ada satupun yang dinyatakan melanggar Undang-undang (UU) No.27/1999.

“Padahal dalam undang-undang tersebut sudah jelas disebutkan bahwa  barang siapa yang menunjukkan simbol dan mengajarkan tentang komunis kena hukuman 15 tahun. Barang siapa yang membuat organisasi dan menganjurkan orang lain ikut partai komunis kena hukuman 20 tahun. Dilaporkan bahkan tidak perlu dilaporkan, kalau sudah ketahuan harus segera ditangkap dan masukkan ke penjara. Tapi nyatanya tidak satupun pelaku yang  masuk penjara. Ada apa, kenapa mereka tidak ditangkap?,” tanyanya keheranan.

Kivlan menyebut, teror penyerangan bahkan pembunuhan terhadap para ulama yang akhir-akhir ini kian marak terjadi juga menjadi bagian dari ancaman bahaya tersebut. “Bahkan dalam tempo dua bulan ini sudah terjadi 10 teror kepada ulama,” tandasnya.

Pendukung PKI juga ada yang mengusulkan agar pelajaran Agama dihapuskan. Untuk membuat pesantren harus mendaftar dan memenuhi peraturan. Sekarang pesantren sudah mulai di mata-matai, karena dianggap mengajarkan paham radikal dan anti Pancasila.

“Sekarang kita justru dituduh tidak pancasilais dan tidak toleran. Sengaja mereka yang komunis menghembuskan isu tersebut. Padahal yang membuat Pancasila mayoritas adalah umat Islam dan umat Islam memiliki saham utama di republik ini,” tegasnya.

Untuk menghadapi permasalahan komunis, narkoba, teroris Kivlan menyebut, saat ini sudah dibentuk organisasi Gerakan Bela Negara (GBN) dan Barisan Patriot Bela negara.

Kivlan juga mengajak masyarakat utamanya umat muslim agar tidal alergi berpolitik. “Menurut Aristoteles politik adalah suatu perbuatan untuk kebaikan bersama. Ikutlah masuk kedalam partai politik dan pilihlah partai politik yang sesuai bobot kebaikannya, sedangkan Partai yang tidak pro kepada kebaikan jangan dipilih,” tandasnya.

Untuk melawan ancaman tersebut, masyarakat diminta memberikan dukungan kepada orang perorangan maupun partai yang akan melindungi dari ancaman PKI. Dan jangan memberikan dukungan kepada perorangan maupun partai yang hanya pura-pura sebagai pancasilais dan  tetapi ketika bekerja membuat produk hukum justru membuat undang-undang yang anti agama dan pro  LGBT.

“Biarkata politik itu saat ini dikatak jelek dan busuk, tapi kita justru harus masuk ke dunia politik, agar politik di Indonesia tidak dikuasai komunis. Sekarang ada juga KPUD tingkat dua dan tingkat satu, kita harus masuk ke KPUD. Jangan sampai yang menguasai KPUD orang komunis atau orang-orang yang mau disogok. Karena kalau banyak korupsi, negara tidak makmur, maka disitulah subur munculnya komunis,” pungkasnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk