Komunitas Driver Online dan TSC Uji Materil UU LLAJ ke MK

Editor: Irvan Syafari

257

JAKARTA — Komunitas Driver Online dan Komunitas Otomotif dari Toyota Soluna Community (TSC) mengajukan uji materil Pasal 106 ayat (1) dan Pasal 238 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) ke Mahkamah Konstitusi (MK). Dengan dalil bahwa pasal tersebut merugikan hak konstitusional mereka sebagai warga negara.

“Baru saja kita mendaftarkan uji materil Pasal 106 ayat (1) dan Pasal 238 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), karena dalam pasal tersebut para driver online tidak diperbolehkan menggunakan ponsel saat berkendara,” kata Ade Manansyah selaku Kuasa Hukum Komunitas Driver Online dan Komunitas Otomotif dari Toyota Soluna Community (TSC) di Gedung Mahkamah Konstitusi, Rabu (14/3/2018).

Dengan berlakunya pasal tersebut, lanjutnya telah bertentangan dengan Pasal 3 dan Pasal 28D ayat (3) tentang kepastian hukum, karena Indonesia adalah negara hukum. Sehingga perlu ada kepastian hukum agar tidak terjadi ketidakadilan.

Menurutnya, GPS dianggap penting karena sebagai pendukung pekerjaan mereka, terutama driver online. Sementara untuk Komunitas Otomotif menggunakan GPS pada saat melakukan turing. “Jika pada saat turing ada yang tersesat, mengirim lokasi, segala macam itukan memerlukan GPS,” sebutnya.

Sementara itu Kuasa Hukum lainnya, Victor Santoso Tandiasa menyebutkan, Pasal 1 menerangkan jika pengemudi tidak diperbolehkan menggunakan GPS lantaran akan mengganggu konsentrasi. Dan pada penjelasan tersebut memang yang menjadi penyebab salah satunya itu penggunaan ponsel.

“UU itu dirumuskan pada 2009, artinya pada zaman itu belum pernah terfikirkan bahkan terbayangkan akan muncul driver online seperti ini. GPS sudah ada, tapi driver online atau ojek online kan belum,” ungkapnya.

Victor mengakui, menggunakan ponsel itu menurutnya adalah SMS, Chatting, yang intinya berinteraksi dengan pihak lain. Dan itu mengganggu konsentrasi, tapi jika dimaknai menggunakan GPS itu keliru. GPS itukan hanya di letakan saja,” katanya.

Mereka menilai jika penggunaan GPS itu tidak mengganggu konsentrasi. Karean saat driver online bekerja, sebelum jalan, GPS sudah disetting terlebih dahulu tujuannya dan mengikuti alurnya.

Beda halnya dengan menggunakan telepon, seperti yang dimaksud UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tahun 2009. Ketika mengendarai motor sambil menggunakan tangan satu saat mengendarai kendaraan bermotor, itu bahaya dan bisa mencelakakan pengendara.

“Makanya kita minta MK menafsirkan dari pasal itu, dikecualikan, bagi pengendara pengguna GPS karena sangat merugikan driver online dalam bekerja. Kalau mereka ditilang karena menggunakan GPS, tentu mereka tidak bisa bekerja,” jelasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.